Featured

Pesona Wanita Bali Mataram yang SEJATINYA

Pesona Wanita Bali

Wanita dapat memilih yang terbaik untuk hidupnya.
Awalnya wanita Bali sering disebut Lugeng.
Lugeng, berasal dari Luweng yang artinya dalam bahasa Jawa adalah wadah yang memiliki lubang kecil, sempit dan tersembunyi.
Luweng kemudian menjadi Luwa (baca Luwe) dan akhirnya kini menjadi Lua atau Luh.
Luwih artinya Lebih, Mulia, Istimewa.

Wanita adalah Wanita Mulia, Wanita yang penuh Cinta kasih sayang, di kerendahan hatinya menarik perhatian, unggul, baik hati, bercahaya, berseri, jernih, indah, istimewa, sehat jiwa & raganya, memiliki sifat kedewataan.

Wanita dalam bahasa Sanskrit; Svanittha, di mana kata Sva artinya “sendiri” dan Nittha artinya “suci”. Jadi Svanittha artinya “mensucikan sendiri” kemudian berkembang menjadi pengertian tentang manusia yang berperan luas dalam Dharma atau “pengamal Dharma”.

Dari sini juga berkembang perkataan Sukla Svanittha yang artinya “bibit” atau janin yang dikandung oleh wanita. Wanita hendaknya diperhatikan sebagai penerus keturunan dan sumber terwujudnya Punarbhava atau re-inkarnasi, sebagai salah satu srada (kepercayaan/ keyakinan).

bali13

Wanita dalam pandangan Hindu Jawa-Bali memiliki peranan yang tidak terpisahkan dengan kaum pria dalam kehidupan masyarakat dari jaman ke jaman.

Sejak awal peradaban Hindu yaitu dari jaman Veda hingga dewasa ini wanita senantiasa memegang peranan penting dalam kehidupan. Hal ini tidak mengherankan bila ditinjau dari konsepsi ajaran agama Hindu dalam Siwa Tattwa yang mengatakan adanya kehidupan makhluk terutama manusia karena perpaduan antara unsur Suklanita dan Swanita. Tanpa swanita tak mungkin ada dunia yang harmonis. Demikianlah pentingnya kedudukan wanita dalam kehidupan ini.

Dalam kitab Manawadharmasastra disebutkan bahwa antara wanita dan kaum pria diumpamakan sebagai tangan kanan dan tangan kiri yang tidak dapat dipisahkan dalam satu masyarakat yang utuh. Mereka mempunyai kedudukan yang sama namun fungsi dan tugas serta kewajiban yang berbeda sesuai dengan guna karma (kodrat) dan swadharmanya masing- masing.

bali16

❤ MDS.III.55

Pitrbhir bhratrbhic
Caitah patribhir dewaraistatha
Pujya bhusayita wyacca
Bahu kalyanmipsubhih

* Wanita harus dihormati dan disayangi oleh ayahnya
kakak-kakaknya, suami dan ipar iparnya
yang menghendaki kesejahteraan sendiri

❤ MDS.III.56

Yatra naryastumpujyante, Ramante tatra dewatah,
Yatraitastu na pujyante, Sarwastalah kriyah

* Dimana perempuan dihormati
di sanalah para Dewa Dewi merasa senang
tetapi dimana mereka tidak dihormati
tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala

❤ MDS.III.57

Cosanthi jamayo yatrah, Winacyatyacu tatkulam
Na cocanti tu yatraita, Wardhate taddhi sarwada

* Dimana wanita hidup dalam kesedihan
keluarga itu cepat akan hancur
tetapi diamana wanita tidak menderita
keluarga itu selalu bahagia

bali22

❤ MDS.III.58

Jamayo yani gehani, Capantya patri pujitah
Tani krtyahatanewa, Winacyanti samantarah

* Rumah dimana perempuannya tidak dihormati sewajarnya
mengucapkan kata-kata kutukan
keluarga itu akan hancur seluruhnya
seolah olah dihancurkan oleh kekuatan gaib

❤ MDS.IX.33

Ksetrabhuta smrtha nari, Bijabhutah smrtah puman,
Ksetrabija samayogat, Sambhawah sarwadehinam
* Menurut smrti wanita dinyatakan sebagai benih (bibit),
terjadinya jazad badaniah yang hidup
terjadi karena hubungan antara tanah dengan benih (bibit)
* Wanita diumpamakan sebagai bumi (tanah) dan laki-laki (pria) disamakan dengan bibit. Antara bumi atau tanah dengan bibit mempunyai kedudukan dan peranan yang sama untuk menentukan segala kehidupan. Melalui pertemuan antara benih dengan bumi terciptanya kelahiran dan kehidupan.

❤ MDS.IX.96

Prajanartha striyah srstah, Samtnartham ca manawah
Tasmat sadharanu dharmah, Crutau patnya sahadita
* Untuk menjadi ibu – wanita diciptatakan
dan untuk menjadi ayah – laki laki diciptakan,
karena itu upacara kaagamaan ditetapkan dalam veda
untuk dilaksanakan oleh suami (pria) bersama istri (wanita)

❤ MDS.IX.130

Yathaiwatma tatha putrah, Putrena duhita soma,
Tasyamatmani tisthamtayam, Kathamanyo dhanam haret
* Seorang anak sama dengan dirinya (orang tuanya)
sebagaimana seorang anak perempuan (wanita) sama dengan anak laki-laki, sebagaimana mungkin sebagai ahli waris memperoleh bagian harta warisan, menghormati anak perempuan.
Dalam sloka ini dapat dijelaskan bahwa seorang anak laki-laki maupun perempuan adalah sama yaitu bahwa anaknya itu jika dibandingkan dengan dirinya tidak berbeda antara yang satu dengan yang lain, sama hak warisnya.

bali15

❤ MDS.IX.133

Pautra daushitrayor loke, Na wiceso’sti dharmatah
Tayorhi mata pitarau, Sambhutau tasya dehitah
* Tidak ada perbedaan antara anak laki-laki dengan anak perempuan (wanita) yang diangkat statusnya, baik yang berhubungan dengan masalah duniawi ataupun masalah kewajiban suci karena bagi ayah dan ibu mereka keduanya lahir dari badan orang yang sama.
* Baik yang berhubungan dengan masalah duniawi maupun terhadap kewajiban spirituil, sama saja tugas yang harus dijalankan oleh seorang putri dan putra. Kewajiban spirituil atau kewajiban suci yaitu kewajiban yang dilakukan sesuai menurut kitab suci Weda.

❤ MDS.IX.139

Pautra dauhitrayor loke, Wiceso nopapadeyate
Dauhitro’pi hyamutrainam, Samtarayoti pautrawat
* Antara cucu anak laki-laki dan cucu anak perempuan yang ada di dunia ini tidak ada perbedaan, karena cucu laki-laki dari anak perempuan menyelamatkannya (yang tidak punya turunan) di dunia yang akan datang.

dan dalam Sloka Sarasamuscaya

❤ Na gantavyah sarvavarnesu karkicit,

Na hidrsamanayusyam yathanyastrinisevanam (SS.VI.153)
diterjemahkan:

*Menggoda-memperkosa wanita, sengaja usaha curang, jangan dilakukan;
pun jangan melakukan segala sesuatu yang berakibat umur pendek.
Akibat lain dari kebiasaan melakukan tindakan kekerasan (krurakarma) terhadap seseorang, maka kelak ia akan menjelma menjadi orang penuh dosa, penyakitan, penjahat, suka membunuh, dan pendek umur seperti dinyatakan dalam sloka berikut:

Davskula vyadhibahula dasacarah prahasinah, Bhavantyalpayusah papa roduka kasmalodayat (SS.148)

*Jangan pernah kita memberi penilaian yang merendahkan wanita, namun sebaliknya wanita sebagai wadah dimana kehidupan, kemuliaan, dan kemajuan tercipta.

Iklan
Featured

MENATA PARIWISATA BERSAMA VISITNESIA

SATRIA MATARAM bersama VISITNESIA dan PAMANTANI menggugah untuk PENINGKATAN PARIWISATA melalui PAMANTANI JOGJA,WA PAMANTANI 085725835029 YOUTUBE :
https://www.youtube.com/watch?v=xgR1s4RaSIs
https://www.youtube.com/watch?v=p-ILuUFthq4
https://www.youtube.com/watch?v=O151lAozBVI
https://www.youtube.com/watch?v=a-8qg5UR1Zs
https://www.youtube.com/watch?v=LKObfl5x6J0
https://www.youtube.com/watch?v=BU8Btr0qUvs
https://www.youtube.com/watch?v=_-UjcQ4gag4
https://www.youtube.com/watch?v=BU8Btr0qUvs&feature=youtu.be https://www.youtube.com/watch?v=O151lAozBVI&feature=youtu.be https://www.youtube.com/watch?v=ielJLjE6g5A&feature=youtu.be
instagram
@farhankudosan @visitnesia
@satrio.mataram8854
@pamantani_sempor
Email : visitnesia@gmail.com
http://www.visitnesia.com
https://mataramgolonggilig.wordpress.com/2018/01/17/http-kopi-paman-tani-business-site/

Salah satunya BIRO PARIWISATA YOGYAKARTA yang aktif dalam pengembangan pariwisata dan keaktifan lainya termasuk sebagai YOUTUBER,filmaker , fotografi DAN LAIN LAIN sebagai bukti bahwa BISNIS yang di gerakan oleh ANAK MUDA lebih memunculkan minat yang sangat diminati saat ini.terbukti dengan apa yang sudah dilakukan oleh VISITNESIA banyak diminati oleh PUBLIK baik domestik maupun MANCA NEGARA termasuk beberapa RESTO RESTO yang tergolong besar.
Dalam hal ini VISINESIA sangat pantas di jadikan sebuah PILOT PROJECT DESTINASI WISATA yang terbaik sebagai BIRO yang harus di setandarkan oleh BIRO BIRO yang berkelas INTERNASIONAL

wEBSITE bisnis pamantani donokerto JOINT US http://www.visitnesia.com
http://kopipamantani-restaurant.business.site/

Featured

NGOPI di YOGYAKARTA

UNDANGAN TERBUKA bagi yang mau BUAT FILM dan yang mau FOTOGRAFI

Minggu depan jam 09.00 – 17.00

di PAMANTANI : DONOKERTO , TURI Sleman Yogyakarta

( ARAH ke Lokasi : MONUMEN JOGJA KEMBALI ke Utara sampai PERTIGAAN ALFA SUPERMARKET dan CERIA SUPERMARKET – ke KIRI hingga bertemu JEMBATAN Kelurahan DONOKERTO dan ada JEMBATAN disitulah PAMANTANI EXOTIC RESTO CAFE TRADISIONAL INTERNASIONAL )

MINGGU DEPAN acara FOTOGRAFI TERBUKA UNTUK UMUM ,

dengan Pendaftaran Rp. 38.000/ orang

PENDAFTARAN melalui : WA – 0857298296

atau langsung ke WA PAMANTANI 085725835029

instagram

@farhankudosan

@visitnesia

PEMBERITAHUAN dan INFORMASI

Bahwa JOGJA punya PAMANTANI sebagai salah satu dari WISATA KULINER yang memiliki lokasi VINTAGE di Yogyakarta, dengan adanya KOLAM RENANG mini yang mirip dengan suasana di DENPASAR ,dengan nama PAMANTANI. jika mau RESERVASI

UNDANGAN untuk UMUM acara PEMBUKAAN PAMANTANI dengan kami buka dengan harga PAKET UNDANGAN SPECIAL – Rp.200.000/ orang 9 jam ( FULL SERVICE )

Lihat di YOUTUBE ini :

https://www.youtube.com/watch?v=uMTkliGWEhs

https://www.youtube.com/watch?v=ax8JzGO5I68

https://www.youtube.com/watch?v=rHYyaAbNO6g&t=2s

https://www.youtube.com/watch?v=2y0C7SkMMuE

hubungi http://www.visitnesia.com

dengan WA – 0857298296

atau langsung ke WA PAMANTANI 085725835029

instagram

@farhankudosan

@visitnesia

Buka juga di :

https://wordpress.com/post/mataramgolonggilig.wordpress.com/221

Alamat PAMANTANI : Desa DONOKERTO,TURI-SLEMAN Yogyakarta

YOUTUBE : PAMANTANI DONOKERTO

VISITNESIA YOGYAKARTA PARTNER INDONESIA TOURISM and EDUCATION SMART BISNIS

Look this :

https://www.youtube.com/watch?v=6G_m02hviXI

Talk JOINT US – Farhan ( AAN ) – WA – 0857298296

kopi hitam ditemani sukun goreng dan pisang goreng disantap ditepi kolam renang pamantani 👍 udaranya sejuk tempat nyaman .yuksss ditunggu kedatangannya 😊 . . .#softopening #pamantanituri #pamantanisempor #pamantaniresto#blackcoffee #sukungoreng#pisanggoreng#tradisionalfood#rumahkayu#jogjaculinary#tradisionalfood #pamantanituri #softopening #pamantanisempor #rumahkayu #jogjaculinary #sukungoreng #pisanggoreng #blackcoffee #pamantaniresto

 

UNDANGAN TERBUKA bagi yang mau BUAT FILM dan yang mau FOTOGRAFI

Minggu depan jam 09.00 – 17.00

di PAMANTANI : DONOKERTO , TURI Sleman Yogyakarta

 

( ARAH ke Lokasi : MONUMEN JOGJA KEMBALI ke Utara sampai PERTIGAAN ALFA SUPERMARKET dan CERIA SUPERMARKET – ke KIRI hingga bertemu JEMBATAN Kelurahan DONOKERTO dan ada JEMBATAN disitulah PAMANTANI EXOTIC RESTO CAFE TRADISIONAL INTERNASIONAL )

MINGGU DEPAN acara FOTOGRAFI TERBUKA UNTUK UMUM ,

dengan Pendaftaran Rp. 38.000/ orang

PENDAFTARAN melalui : WA – 0857298296

atau langsung ke WA PAMANTANI 085725835029

instagram

@farhankudosan

@visitnesia

PEMBERITAHUAN dan INFORMASI

Bahwa JOGJA punya PAMANTANI sebagai salah satu dari WISATA KULINER yang memiliki lokasi VINTAGE di Yogyakarta, dengan adanya KOLAM RENANG mini yang mirip dengan suasana di DENPASAR ,dengan nama PAMANTANI. jika mau RESERVASI

UNDANGAN untuk UMUM acara PEMBUKAAN PAMANTANI dengan kami buka dengan harga PAKET UNDANGAN SPECIAL – Rp.200.000/ orang 9 jam ( FULL SERVICE )

Lihat di YOUTUBE ini :

https://www.youtube.com/watch?v=uMTkliGWEhs

https://www.youtube.com/watch?v=ax8JzGO5I68

https://www.youtube.com/watch?v=rHYyaAbNO6g&t=2s

https://www.youtube.com/watch?v=2y0C7SkMMuE

hubungi www.visitnesia.com

dengan WA – 0857298296

atau langsung ke WA PAMANTANI 085725835029

instagram

@farhankudosan

@visitnesia

Buka juga di :

https://wordpress.com/post/mataramgolonggilig.wordpress.com/221

Alamat PAMANTANI : Desa DONOKERTO,TURI-SLEMAN Yogyakarta

YOUTUBE : PAMANTANI DONOKERTO

VISITNESIA YOGYAKARTA PARTNER INDONESIA TOURISM and EDUCATION SMART BISNIS

Look this :

https://www.youtube.com/watch?v=6G_m02hviXI

Talk JOINT US – Farhan ( AAN ) – WA – 0857298296

Kisah Sultan: Saat Bertemu Nyi Kidul pada Bulan Purnama https://www.youtube.com/watch?v=PDorPIHBgwY

BUKA INI https://www.youtube.com/watch?v=PDorPIHBgwY

Banyak kisah mistis dari mendiang Sultan Hamengku Buwono IX. Ia menyatakan pernah bertemu satu kali dengan Ratu Kidul. Kisah itu diungkap Sultan kepada tim penyusun buku Tahta untuk Rakyat. “Percaya atau tidak itu terserah masing-masing, tapi begitulah adanya,” ujar Sultan, yang dituturkan kembali oleh Atmakusumah Astraatmadja, penyunting buku.

Pertemuan antara raja dan ratu itu terjadi di Parangkusumo. Hamengku Buwono IX, dalam Tahta untuk Rakyat, mengatakan, “Pada bulan purnama, Eyang Ratu Rara Kidul tampak sangat cantik.”

Baca juga:

Diterima di UGM, Calon Dokter Usia 14 Tahun Minta Kado Aneh
JK Damprat Rizal di Depan Presiden, Jokowi Bela Siapa?

Konon “perkawinan” antara raja Jawa dan Ratu Laut Kidul adalah bentuk imbal jasa dari kemenangan Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam, atas Arya Penangsang. Aryo Penangsang adalah Bupati Jipang Panolan yang telah membunuh Sunan Prawoto, raja terakhir Kesultanan Demak.

Alkisah, setelah mengalahkan Arya Penangsang, Panembahan Senopati mendapatkan Alas Mentalok, hutan di tenggara Yogyakarta (sekarang daerah Banguntapan). Tapi hutan lebat itu dihuni banyak makhluk halus. Untuk mengusir mereka, ia pun meminta bantuan Nyai Roro Kidul, yang bersinggasana di laut selatan.

Mujarab. Para penunggu itu akhirnya dapat diusir. Imbalannya, pendiri Kerajaan Mataram Islam itu berjanji melabuhkan serangkaian sesaji ke laut selatan sebagai balasan untuk sang Ratu. Pakaian wanita Jawa lengkap, pakaian lama Sultan, belasan kain mori berbeda jenis, potongan rambut dan kuku raja, kembang setaman, kemenyan, minyak wangi, daun sirih, serta aneka buah-buahan dan jajanan pasar dilarung setiap tahun.

Baca juga:
Ini Rahasia SPG Cantik di IIMS 2015: Biasa Kerja di Jalanan
Wah, Gitaris Ayu, 10 Tahun, Bikin Musisi Inggris Terpesona

Sejak itu mitos ini terus-menerus dinarasikan hingga lambat-laun melekat pada setiap sosok raja yang bertakhta. Tak terkecuali Sultan HB IX.

Banyak kalangan meyakini berbagai hal mistis dan misterius pernah terjadi pada Hamengku Buwono IX. Meski demikian, Sultan memang tak banyak bicara tentang pengalaman batin yang dialami.

Legenda Jawa dari abad ke-16 menyatakan Kanjeng Ratu Kidul merupakan pelindung dan pasangan spiritual Panembahan Senapati sebagai pendiri Kerajaan Mataram, maupun keturunannya, baik di Keraton Surakarta (Solo) maupun Yogyakarta. Kedudukannya berhubungan dengan Merapi-Keraton-Laut Selatan yang berpusat di Keraton Surakarta dan Yogyakarta.

Mengenai legenda Kanjeng Ratu Kidul, Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta, Kanjeng Pangeran (KP) Winarno Kusuma menceritakan, pada awalnya pangeran Panembahan Senopati berkeinginan untuk mendirikan sebuah kerajaan baru, yaitu Kesultanan Mataram, untuk melawan kekuasaan Kesultanan Pajang.

“Kalau menurut sejarahnya, saat itu Panembahan Senopati melakukan tapa di pantai Parang Kusumo atau Pantai Selatan, yang terletak di selatan kediamannya di Kota Gede Yogyakarta. Dalam pertapaannya terjadi fenomena supernatural yang mengganggu kerajaan di Laut Selatan. Sang Ratu sebagai penguasa laut selatan datang untuk melihat siapa yang menyebabkan gangguan di kerajaannya. Saat melihat pangeran yang tampan, ia jatuh cinta dan meminta Panembahan Senopati untuk menghentikan tapanya. Sebagai gantinya, ia bersedia membantu mendirikan kerajaan yang baru,” ujar pria yang akrab disapa Kanjeng Win tersebut.

Menurut Kanjeng Win sejak saat itu sang Ratu dilamar oleh Panembahan Senopati untuk menjadi pasangan spiritualnya serta menjadi pelindung spiritual bagi kerajaan. Bahkan nantinya sang Ratu juga akan menjadi pasangan spiritual semua Raja keturunan Mataram.

“Kalau di Keraton Surakarta Kanjeng Ratu menjadi istri Raja Paku Buwono(PB) I sampa IX. Mulai PB X sudah tidak lagi,” imbuhnya.

Kanjeng Win mengisahkan, mulai PB X Kanjeng Ratu Kidul sudah tidak lagi menjadi istri raja.

“Saat itu PB IX mau bertapa di panggung Sangga Buwana (bagunan berbentuk seperti menara, di dalam Keraton, yang digunakan Raja bertemu dengan Ratu Kidul), tapi calon putra mahkotanya yang berumur 3 tahun ikut. Saat pertemuan raja dan Ratu Kidul, tiba-tiba putra raja hendak terjatuh. Namun bisa diselamatkan oleh Ratu Kidul. Saat menyelamatkan tersebut, ratu memanggil anak tersebut dengan sebutan ‘anakku’. Sejak itulah anak tersebut benar-benar dianggap sebagai anak sendiri oleh Ratu Kidul dan dijadikan putra mahkota di keraton,” beber kanjeng Win.

Kanjeng Win mengemukakan, sejak peristiwa tersebut, Ratu Kidul sudah tidak menjadi istri spiritual Raja Surakarta lagi. Saat anak tersebut diangkat menjadi raja PB X, ia menjadi raja yang berjaya di nusantara. Dari PB X hingga PB XIII saat ini mitos Ratu Kidul sebagai istri spiritual Raja Surakarta semakin menghilang. Namun, lanjut kanjeng Win, Kanjeng Ratu Kidul masih sering hadir dalam momen-momen tertentu.

“Percaya atau tidak percaya silakan, beliau itu pasti rawuh (hadir) setiap ada ritual yang menggunakan sajian tari sakral ‘Bedaya Ketawang’. Dalam tarian tersebut ada 9 penari, salah satu pasti akan menyatu, didatangi Kanjeng Ratu. Akan terlihat auranya, tariannya juga pasti beda dengan penari yang lain. Lebih lembut, lemas dan luwes, dan sangat menjiwai. Karena tarian itu konon diciptakan sendiri oleh Kanjeng Ratu Kidul,” ungkapnya.

Menurut kepercayaan di kalangan keraton, tari Tari Bedaya Ketawang digelar setiap tahun, yang dipercaya sebagai persembahan kepada Kanjeng Ratu Kidul. Tarian tersebut hanya digunakan dalam upacara ritual Tingalan Dalem Jumenengan yang diselenggarakan keraton kasunanan Surakarta Hadiningrat, merupakan sebuah upacara ritual adat istiadat keraton untuk memperingati hari ulang tahun penobatan kenaikan Tahta Susuhunan Paku Buwono yang diadakan setahun sekali.

Upacara ini diselenggarakan di pendapa Agung Sasana Sewaka yang dihadiri oleh semua abdi dalem dan sentana dalem serta beberapa tamu undangan. Upacara Tingalan Dalem Jumenengan merupakan upacara adat yang sangat disakralkan yang diyakini memiliki makna penting oleh kerajaan yang masih mempunyai garis darah dengan dinasti Mataram.

Dalam prosesi upacara inilah tarian Bedaya Ketawang ditampilkan seusai prosesi Tingalan Dalem Jumenengan selesai. Tarian jawa klasik ini diperagakan oleh 9 penari putri yang belum menikah atau yang masih perawan.

Tarian Bedhaya Ketawang adalah sebuah tarian ‘mistik’ yang menggambarkan tentang cinta kasih atau hubungan batin antara raja-raja dinasti Mataram dan penerusnya dengan penguasa laut selatan atau yang lebih dikenal dengan Kanjeng Ratu Kidul. Namun ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa tarian Bedhaya Ketawang adalah tarian yang mengisahkan siklus kehidupan manusia dari lahir, hidup, mati hingga alam keabadian.

Sabda Raja Yogyakarta Tabrak Mistik Nyi Roro Kidul

Sultan Hamengku Buwono X mengeluarkan sabda raja. Sabda tersebut menjadi polemik di kalangan internal keraton Yogyakarta.

Sabda raja itu, diantaranya pemberian gelar kepada anak sulungnya, Pembayun. Anak sulung Sultan itu mendapat gelar Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng ing Mataram. Selain itu, sabda raja juga menanggalkan gelar khalifatullah, yang artinya adalah Wakil Tuhan.

Dengan keluarnya sabda raja itu, Sultan juga tidak lagi mengucapkan assalamualaikum dalam kegiatan di keraton. Tak hanya itu, Sultan juga mengubah kata Buwono (bumi) dalam namanya menjadi Bawono (alam semesta). Kata Sedasa (sepuluh) juga diubah menjadi sepuluh.

Sabda raja ini membuat situasi keraton memanas. Sebab disinyalir, sabda tersebut merupakan upaya Sultan Hamengku Buwono X untuk melanggengkan kekuasaan trahnya.

Gelar gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi yang disandang Pembayun merupakan tanda-tanda pemberian tahta keraton. Dengan kata lain, Pembayun diangkat menjadi putri mahkota yang disiapkan menggantikan Sultan Hamengku Buwono X. Gelar Mangkubumi, merupakan gelar yang biasanya diberikan kepada calon penerus takhta kerajaan.

Sabda raja itu menabrak sejumlah aturan, termasuk menabrak aturan-aturan “mistik” yang bertahun-tahun dikenal di keraton Yogyakarta. Diantaranya mitos tentang raja-raja Mataram dengan penguasa Ratu Selatan Nyi Roro Kidul.

Sejak mataram kuno, raja-raja jawa dianggap sebagai “Suami” Nyi Roro Kidul. Bila Pembayun menjadi Raja Yogyakarta, maka hal itu akan menabrak mistik di Keraton.

Hubungan antara raja-raja jawa dengan Nyai Roro Kidul merupakan kisah lama yang beredar di masyarakat. Hal itu pun pernah diamini Sultan Hamengku Buwono IX.

Dalam buku Tahta Untuk Rakyat, Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX pernah mengungkapkan hubungan raja dengan Nyi Roro Kidul.

Ketika ditanya tentang kabar raja jawa adalah “suami” Nyi Roro Kidul dan Apakah Sultan Hamengku Buwono IX pernah berhubungan dengan Penguasa Laut Selatan itu, dia menjawab:

“Menurut kepercayaan lama memang demikian halnya, Saya menyebut Eyang rara Kidul saja. Dan saya pernah mendapat kesempatan “melihatnya” setelah menjalani ketentuan yang berlaku seperti berpuasa selama beberapa hari dan sebagainya. Pada waktu bulan naik, Eyang Rara Kidul akan nampak sebagai gadis yang amat cantik, sebaliknya apabila bulan menurun. Ia tampil sebagai wanita yang makin tua,” ujar Sultan Hamengku Buwono IX.

Kisah Misterius Antara Sultan Hamengkubuwono IX Dan Kanjeng Nyi Roro Kidul

Sejarah Kebudayaan yang ada di Jawa kerapkali menghadirkan berbagai macam segi mitologi yang membutuhkan pengkajian yang lebih dalam agar bisa mengerti makna itu dengan cara objektif. Sedemikian kuatnya segi mitologi ini hingga keberadaannya sering mencampuri kajian sejarah yang kenyataan-faktanya telah terang sekalipun. Salah satu misalnya sejarah berdirinya Kerajaan Mataram. Dengan cara faktual, Kisah Misterius Antara Sultan Hamengkubuwono IX Dan Kanjeng Nyi Roro Kidul adalah sejarah Kerajaan Mataram masih tetap bisa dikilas balik sampai sekarang ini, meskipun kerajaan itu telah terdiri ke dua kasunanan, yakni Yogyakarta serta Surakarta. Tetapi, didalam website itu juga ada suatu mitos atau legenda yang menceritakan ada jalinan pada pendiri Kerajaan Mataram dengan beberapa hal mistis, yakni Nyi Roro Kidul, sang Penguasa Laut Selatan.

Kuatnya kepercayaan orang-orang bahwa pendiri Kerajaan Mataram, Panembahan Senapati, mempunyai jalinan serius dengan Nyi Roro Kidul bikin “aura” kerajaan ini diliputi beragam dimensi magis. Jalinan ini dapat berlanjut hingga keturunannya sebagai raja-raja Keraton terutama Keraton di Yogyakarta. Tak ada kenyataan yang kuat tentang kehadiran Nyi Roro Kidul. Walau demikian, sejarah menyebutkan bahwa Mitos Nyi Roro Kidul nampak pada saat berdirinya Kerajaan Mataram oleh Panembahan Senapati, yang mempunyai nama asli Danang Sutawijaya. Mitos itu diwariskan turun-temurun hingga Kerajaan Mataran terpecah iris jadi dua, yakni Keraton Surakarta serta Keraton Yogyakarta. Ironisnya, kehadiran Nyi Roro Kidul sudah mengakar dalam kepercayaan beberapa orang-orang Jawa.

Sampai kini, kepercayaan orang-orang pada kehadiran Nyi Roro Kidul nyaris senantiasa dihubungkan dengan kehadiran Panembahan Senapati juga sebagai salah satu pendiri serta penguasa Kerajaan Mataram. Berarti, mitos serta legenda Nyi Roro Kidul baru nampak sesudah berkuasanya Panembahan Senapati atau tampuk pemerintahan Mataram. Sekalipun kenyataan tentang ada atau tidaknya Nyi Roro Kidul masih tetap jadi sinyal bertanya besar, tetapi popularitas Nyi Roro Kidul yang dipercaya mempunyai jalinan spesial dengan Panembahan Senapati beserta keturunannya telah dicatat dengan cara rapi oleh beberapa pujangga Jawa dalam sebagian tembang.

Diluar itu, Mitos Nyi Roro Kidul malah menguatkan legitimasi raja. Hal semacam ini berbeda dengan orang kaya yang terkait dengan Nyi Blorong. Yang dimaksud paling akhir yaitu negatif, sedang yang pertama, yaitu jalinan Raja Mataram dengan Nyi Roro Kidul yaitu positif. Demikian pula dengan roh halus lain yang membuat perlindungan Raja Mataram, yaitu Sunan Lawu di Gunung Lawu. Menurut salah satu rencanasi, roh Sunan Lawu ini yaitu roh raja-raja Majapahit.

Sesungguhnya, tak terang asal-usul Nyi Roro Kidul serta masih tetap diperdebatkan hingga sekarang ini. Terdapat banyak pendapat yang menyampaikan bahwa Nyi Roro Kidul yaitu Putri Kadita, Ratna Suwida, serta Dewi Nawang Wulan, namun kisahnya tak jauh tidak sama, yakni seorang putri mahkota raja yang memiliki paras muka cantik yang terserang penyakit guna-guna oleh saudara tirinya yang inginkan tahta ayahnya. Selanjutnya, ia dibuang oleh ayahnya karena penyakit yang dipunyai meresahkan serta menular. Diluar itu, ada pula yang memiliki pendapat bahwa Nyi Roro Kidul yaitu jelmaan dari salah satu tujuh bidadari. Namun, menurut kebiasaan mataram tersebut berasumsi bahwa Nyi Roro Kidul yaitu seseorang putri Pajajaran yang sudah diusir dari istana lantaran dia menampik satu perkawinan yang ditata oleh ayahnya. Raja Pajajaran ini mengutuk putrinya : dia jadikan ratu golongan roh halus dengan istananya di bawah perairan Samudera Hindia, serta cuma bakal jadi seseorang wanita umum lagi pada Hari Kiamat.

Beberapa orang mungkin saja bakal menyangkal kehadiran cerita tentang Nyi Roro Kidul. lain perihal dengan beberapa orang Keraton, terutama Keraton Yogyakarta. Beberapa orang yang hidup di lingkungan Keraton Yogyakarta yakini perihal kebenaran cerita ini. Walau masih tetap memiliki kandungan masalah, orang-orang terus yakini bahwa ada suatu fenomena riil yang menuturkan bahwa Nyi Roro Kidul memanglah mempunyai relevansi dengan eksistensi Keraton Yogyakarta. Jalinan pada Nyi Roro Kidul dengan Keraton Yogyakarta, seperti yang tercatat dalam Babad Tanah Jawi makin menguatkan kepercayaan bahwa Nyi Roro Kidul memang sungguh-sungguh ada serta riil.

Walau demikian, terdapat banyak pendapat yang menyampaikan bahwa kehadiran Nyi Roro Kidul hanya lambang yg tidak riil bentuk fisiknya. Salah satu analisa seperti itu dikemukakan oleh Y. Argo Twikromo. Dalam bukunya yang berjudul Ratu Kidul, Argo mengatakan bahwa orang-orang yaitu suatu komune kebiasaan yang mementingkan keselarasan, kesesuaian, serta keseimbangan hidup. Karema hidup ini tak lepas dari lingkungan alam seputar, jadi menggunakan serta memaknai lingkungan alam sangatlah utama dikerjakan.

Seperti suatu jalinan komunikasi timbal balik dengan lingkungan, yang menurut orang-orang Jawa memiliki kemampuan yang lebih hebat, jadi pemakaian lambang juga kerap diaktualisasi. Bila dikaitkan dengan makhluk halus jadi Javanisme mengetahui beberapa penguasa makhluk halus, seperti penguasa Gunung Merapi, Gunung Lawu, Kayangan Delpin, serta Laut Selatan. Penguasa Laut Selatan inilah yang dimaksud Kanjeng Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul oleh orang Jawa.

Dalam Kesultanan Yogyakarta, ke empat penguasa itu dipercaya turut andil dalam menolong kebutuhan disana. Terlebih di dalamnya juga berlaku suatu ketetapan yang menyampaikan bahwa untuk meraih keselarasan, kesesuaian, serta keseimbangan dalam orang-orang, raja mesti mengadakan komunikasi “makhluk-makhluk halus” itu. Menurut beberapa pengamat kebudayaan Jawa, untuk beberapa Raja Jawa, berkomunikasi dengan beberapa makhluk halus serta Nyi Roro Kidul, terutama, adalah salah satu usaha untuk memperolehkekuatan batin dalam mengelola negara. Beberapa Jawa itu juga yakini bahwa juga sebagai kemampuan yang kasat mata, Nyi Roro Kidul mesti disuruhi restu dalam aktivitas sehari-hari untuk memperoleh keselamatan serta ketenteraman.

Keyakinan yang berlaku dengan cara turun-temurun pada Nyi Roro Kidul masih tetap diaktualisasikan dengan baik oleh orang-orang dalam beragam jenis aktivitas hingga sekarang ini. Salah satu misal yang mungkin saja kerap kita dengar yaitu aktivitas labuhan. Labuhan yaitu suatu upacara tradisional keraton yang dikerjakan di pinggir laut di selatan kota Yogyakarta. Labuhan diselenggarakan dalam tiap-tiap lagi th. Sri Sultan Hamengkubuwono, yang tanggal ataupun th. kelahirannya dihitung menurut perhitungan Saka (th. Jawa). Upacara labuhan ini mempunyai tujuan untuk kesejahteraan sultan serta orang-orang Yogyakarta biasanya.

Bentuk serta aktualisasi dari keyakinan orang-orang pada Nyi Roro Kidul juga diwujudkan melalui tari-tarian. Sampai kini, di kenal Tari Bedaya Lambangsari serta Bedaya Semang, yang keduanya diadakan untuk menghormati serta memperingati Sang Ratu. Didalam lingkungan Keraton Yogyakarta, ada suatu bangunan di Kompleks Taman Sari (Istana Bawah Air), yaitu seputar 1 KM samping barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang diberi nama dengan Sumur Gumuling. Tempat ini dipercaya juga sebagai tempat bersuanya sultan dengan Ratu Pantai Selatan, Kanjeng Nyi Roro Kidul.

Sekalipun mitos Nyi Roro Kidul erat terkait dengan Kesultanan Yogyakarta, namun penghayatan serta kepercayaan pada penguasa Laut Selatan itu juga berlaku untuk beberapa orang-orang yang berdiam di wilayak kesultanan. Salah satu bukti yang seringkali diketemukan yaitu saat berlangsung musibah orang hilang di pantai Laut Selatan. Juga sebagai misal, bila ada orang hilang disana jadi orang itu dipercaya hilang lantaran “diambil” oleh Nyi Roro Kidul, tak tahu untuk jadikan juga sebagai tumbal, prajurit, maupun suami.

Dalam penjelasan Babad Tanah Jawi dengan cara tegas menyiratkan bahwa Nyi Roro Kidul pernah berjanji pada Panembahan Senapati bahwa bakal melindungi Kerajaan Mataram, beberapa sultan, keluarga kerajaan, serta orang-orang dari petaka. Salah satu bentuk penghayatan yang dikerjakan oleh Keraton, baik Keraton Yogyakarta ataupun Keraton Surakarta yaitu pementasan tarian yang paling sakral di Keraton, yaitu Bedoyo Ketawang, yang diadakan satu tahun kali waktu peringatan Hari Penobatan beberapa raja. Dalam tarian itu, sembilan orang penari kenakan pakaian tradisional pengantin Jawa, dan mengundang Nyi Roro Kidul serta menikah dengan susuhan. Konon, sang ratu bakal nampak dengan cara gaib dalam bentuk penari kesepuluh yang tampak berkilauan dibanding penari yang lain.

Menariknya lagi, sedemikian kuatnya mitos Nyi Roro Kidul hingga keyakinan terhadapnya bukan sekedar berlaku untuk orang-orang Jawa Tengah. Bahkan juga. Keyakinan Nyi Roro Kidul juga terkenal oleh orang-orang Jawa Barat. Bukti yang telah umum di ketahui oleh beberapa orang yaitu kehadiran suatu kamar hotel bernomor 308 di lantai atas Samudra Beach, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Konon, kamar itu tak dapat dipesan oleh siapa saja. Karena, kamar itu di sajikan spesial untuk Nyi Roro Kidul. Siapa juga yang mau bersua dengan sang ratu, ia dapat masuk ke ruang ini, namun mesti lewat seseorang penghubung yang menghidangkan persembahan kuat sang ratu. Tak tahu cerita awalannya seperti apa, tetapi yang pasti, orang-orang yakin demikian saja dengan kehadiran Nyi Roro Kidul yang menghuni kamar 308 itu.

Hingga saat ini, legenda Nyi Roro Kidul masih tetap jadi legenda yang spektakuler serta mendarah daging untuk beberapa orang-orang Jawa, terlebih Keraton Yogyakarta beserta orang-orangnya. Bagi anda yang membutuh penarikan benda gaib

Menelusuri Jejak Tokoh “Kontroversi” Syekh Siti Jenar di Dusun Lemahbang

Menelusuri Jejak Tokoh “Kontroversi” Syekh Siti Jenar di Dusun Lemahbang, Desa Margomulyo
September 18, 20141 comment
Reportase (Bojonegoro) – Jejak-jejak peninggalan Islam di nusantara ternyata juga banyak ditemukan di Kabupaten Bojonegoro. Ya, salah satunya adalah tempat yang diyakini warga sebagai petilasan Syekh Siti Jenar, sang tokoh (wali) “kontroversial” yang hidup di zaman Wali Sanga.

Lokasi yang diyakini terdapat petilasan Syekh Siti jenar tersebut berada tidak jauh dari Kota Bojonegoro, yakni di Dusun Lemahbang Desa Margomulyo Kecamatan Balen. Tak ada yang menyangka jika didesa tersebut ada sebuah petilasan atau tempat singgah yang konon merupakan salah satu dari wali sanga.
Sidik, sang juru kunci petilasan mengungkapkan, tempat tersebut dulu pernah menjadi tempat peristirahatan Syekh Siti Jenar saat sedang melakukan perjalanan dari Gresik keJawa Tengah. “ Ditengah perjalanan, beliau singgah di sini”, tutur Sidik, mengawali perbincangan.

Sidik sendiri mengaku tidak mengetahui pasti bagaimana kisah Syekh Siti jenar yang sebenarnya. Ajaran yang disampaikan Syekh Siti Jenar pun, dia mengakui tidak mengetahui persisnya.

Namun, menurut salah satu versi, syekh siti jenar meninggal setelah “disempurnakan“ atau tepatnya dieksekusi oleh Sunan Kalijaga, atas hasil musyawarah para wali kala itu. Karena ajaranSyekh Siti jenar atau yang biasa disebut“Syekh Lemah Abang” (cikal bakal nama Dusun Lemahbang), dinilai melenceng dari akidah Islam.

Meski, versi lain juga menyebutkan akidah Syekh Siti Jenar tidak melenceng, melainkan lebih karena ajarannya bukan untuk orang awam. “ itu adalah cerita yang beredar soal benar atau tidaknya, semua orang mengaku tidak tahu,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Sidik mengungapkan, setiap malam jum’at petilasan itu selalu ramai. Sebab, banyak orang yang mengunjungi petilasan tersebut dengan tujuan berbeda – beda. “Ada yang ingin memperoleh kesaktian hingga orang yang mencari keberuntungan,” tuturnya.

Apa pun niat mereka, Sidik berharap yang penting para pengunjung tidak merusak petilasan tersebut. Sesab, petilasan itu termasuk salah satu situs peninggalan sejarah yang harus dijaga kelastariannya. Toh urusan niat itu yang tahu kan hanya diri sendiri dan Tuhan. Kalau berbuat syirik sudah pasti berdosa, saya yakin semuanya tahu soal itu. “Asal tidak merusak lokasi petilasan, kami tetap mempersilahkan saja,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Margomulyo, Nadhif Ulfa mengatakan, petilasan itu pada hari – hari tertentu memang sering dikunjungi orang. Sayangnya, petilasan tersebut tidak pernah dirawat. ”Karena itu, petilasan tersebut mendesak untuk diperbaiki,” jelasnya.

Nadhif meyampaikan, pihak desa sudah mengajukan bantuan perbaikan petilasan ke Pemkab Bojonegoro. Rencananya, pemkab juga akan memberi bantuan untuk renovasi. “Beberapa waktu lalu, Pak Bambang Suharno (Kepala Disbudpar Bojonegoro) sudah meninjau lokasi ini. Saya yakin sebentar lagia akan diperbaiki,” terangnya.

Ia mengaku senang di desanya terdapat petilasan tokoh kontroversi tersebut. Nadhif berkeinginan, petilasan tersebut bisa menjadi objek wisata religi. Sehingga, banyak orang berkunjung ke Desa Margomulyo. “Keinginan saya menjadikan petilasan ini sebagai lokasi wisata religi. Sehingga, bisa menjadi pemasukan bagi pendapatan asli daetah(PAD),” pungkasnya sembari berharap. tim

ANGKRINGAN PENDOPO MARGO MULYO ALUN ALUN UTARA YOGYAKARTA

Ulasan Singkat Kedai Kopi Margomulya

Salah satu spot kedai kopi di tengah kota yang buka 24 jam. Kedai Kopi Margomulyo terletak di Alun-alun Utara, Kraton, Jogjakarta. Pertama buka tanggal 25 Februari 2018, Kedai Kopi Margomulyo dikelola oleh Manajemen Kedai Kopi Margomulyo Group, yang dimiliki oleh tiga orang. Kedai kopi ini dulunya merupakang angkringan yang berlokasi di Jalan Margomulyo, karena ada pembangunan maka pindahlah ke Alun-alun utara dengan konsep yang berbeda.
Jam Buka :

Buka setiap hari 24 jam
Apa Saja Menunya?

Menu andalannya adalah Kopi biji original Nusantara dari Aceh sampai Papua, robusta dan arabika.
Menu makanannya mulai dari nasi goreng sapi oriental, pisang bakar keju/coklat, roti bakar keju/coklat, kentang french fries, dan singkong susu.
Untuk menu makanan berat berganti ganti tiap shift. Shift 1 jam 09.00-17.00 ada menu pecel madiun dan nasi tumpang, shift 2 jam 17.00-01.00 menyajikan nasi goreng sapi dan mie goreng/rebus custom, sedangkan jam 01.00-09.00, ada nasi gulai ayam.
Untuk harga kopi sekitar Rp.15.000 hingga Rp.30.000
Harga makanan berkisar Rp.12.000 hingga 15.000
Harga minuman berkisar Rp 5000 hingga Rp 15.000
Snack mulai dari Rp 8000 hingga Rp.20.000
Harga update per-Mei 2018
Fasilitas Umum :

Joglo
Wifi
Parkir
Toilet
Info Selengkapnya :

Kedai Kopi Margomulya : Sisi timur Alun-alun Utara Yogyakarta
Telepon : 0817-0401-093
Cek galeri foto

Makna Pengembalian Nama Jalan di Yogyakarta

Sejujurnya, nah ini repot, sebuah tulisan yang diawali dengan sejujurnya itu bisa diartikan menunjukkan bahwa tulisan-tulisan saya sebelumnya itu ndak jujur. Ning yo ben wae. Saya ingin menegaskan bahwa beginilah adanya perasaan saya. Ketika mendengar kabar perubahan nama jalan di Yogyakarta, saya spontan bilang “walah!”.

Kenapa walah? Karena “mengusik” kenyamanan. Seperti ketika Jalan Gejayan berubah menjadi Jalan Affandi, rasanya kok ngganjel mengubah kebiasaan menyebut Jalan Gejayan menjadi Jalan Affandi. Tetapi terus terang, penggantian nama jalan ini brilian semua. Contoh yang sudah terjadi ya itu, muncul nama Jalan Affandi, Jalan Nyi Tjondrolukito (jalan monjali), Jalan Tino Sidin (di Kadipiro), Jalan Gito-gati (di Denggung). Nama-nama yang muncul adalah nama-nama seniman. Ini jelas gerakan moral melawan militerisme. Bukan begitu? Biasanya yang dijadikan nama jalan itu nama pahlawan, dan biasanya yang disebut pahlawan itu yang mengangkat senjata. Padahal banyak pahlawan yang bukan semata mengangkat bedhil, tapi juga mengangkat harkat.

Margo Utomo – Malioboro – Margo Mulyo – Pangurakan.

Ruas jalan ini yang terakhir diubah namanya oleh Pemerintah Kodya, menggantikan jalan dari Tugu Yogyakarta ke selatan hingga Kraton. Nama jalan ini bukanlah nama baru, justru dikembalikan ke nama aslinya, sebelum orde baru. Lantas, apa kepentingannya?

Ada makna filosofis yang mendalam di situ. Merupakan satu kesatuan ajaran tentang bagaimana seorang manusia berproses. Sudah ada beberapa artikel di internet sebenarnya yang mengupas tentang hal ini, tetapi saya coba tuangkan juga di sini, karena wis kebacut mbukak editor hihi.

Tugu Yogyakarta, sudah jamak diketahui sebagai simbol pengingat atas Yang di Atas. Tugu yang aslinya berbentuk bulat, golong gilig, menyuarakan konsep manunggaling kawulo gusti. Nah, setiap kita sebenarnya berproses menuju manunggal ini. Monggo saja kalau mau mengatakan ini kejawen, tetapi harap diingat bahwa kita memang dibekali unsur ketuhanan: mencipta, merusak, mengarang dan seterusnya. Kalau diturunkan menjadi hubungan muamalah, maka konsep manunggaling kawulo gusti ini, tampil dalam hubungan yang intim antara pemimpin dengan rakyatnya.

Nah, proses untuk menuju itu, diawali dengan Margo Utomo. Jalan Keutamaan. Berlakulah menjadi orang baik, orang yang utama. Dengan berbekal niat mengingat Tuhan (tugu di belakang), berbuat baiklah kepada sesama. Ketika kita sudah menjadi orang yang utama, maka menjadilah Malioboro.

Dalam bahasa jawa, perintah atau ajakan atau sebutan yang diawali dengan huruf “w” melebur atau berubah menjadi “m”. Wédang berubah menjadi médang, wédok menjadi médok (doh!) dan seterusnya. Maka Malioboro adalah perintah untuk menjadi wali yang ngumboro, mengembara, menyebar. Wali ini bukan terus kyai, sunan dan seterusnya saja, wali selain bermakna wakil (dalam hal ini wakil Tuhan), atau kekasih, atau penolong, juga berarti bolo (menyitir Gus Mus). Seorang yang menjadi wali/aulia, maka dia menjadi bolo-ne Gusti juga bolo-ne orang-orang di sekitarnya. Ada juga yang mengartikan malioboro sebagai ma-lima-oboro. Bakarlah mo-limo. Ini mungkin tataran taktisnya. Bukan berarti membakari tempat-tempat molimo, tetapi kita menghindari molimo. Demikian menurut Marjuki (JHF).

Lalu semakin mendekati Kraton kita sampai pada Margo Mulyo. Ketika kita sudah menjadi bolo-né sepodho, kita meningkat menjadi menungso kan minulyo. Kemulyaan dalam arti tidak lagi terbelenggu oleh keduniaan. Orang kaya belum tentu mulia, karena begitu ketahuan dia kaya dari korupsi, ya tak lebih dari maling saja. Di sini juga mengandung makna agar kita senantiasa memuliakan alam sekitar. Kalau dalam agama Islam jadinya rahmatan lil ‘alamin. Tujuan dasar diciptakannya manusia muslim.

Kemudian kita sampai pada Pangurakan. Melepas dari semua hal-hal duniawi. Hal-hal yang bersifat nafsu-nafsu angkara atau nafsu-nafsu kejelekan. Di sini manusia sudah berada di atas derajat kemuliaan. Maka seorang raja jawa dituntut untuk menjadi seseorang yang derajatnya lebih tinggi dari kemulyaan. Kalau kita sudah melepas nafsu-nafsu negatif (semoga ada nafsu positif, karang bahasa ki liyak liyuk), maka tidak ada orang yang bisa merendahkan derajat kita.

Demikian sependek yang saya tahu dan rangkum tentang pergantian nama jalan di Yogyakarta. Hal yang luar biasa dari semua ini, bahwa ternyata semakin mempelajari tentang Sultan HB IX, semakin tampak bahwa semua hal itu sudah dilampaui oleh beliau. Sehingga kemudian terumuskan menjadi Tahta untuk Rakyat.

“Pembebasan” dengan “Ruwatan” pada abad XV di Candi Sukuh

“Pembebasan” dengan “Ruwatan” pada abad XV
di Candi Sukuh
Candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada
ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut. Letak candi
di dukuh Berjo, desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten
Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini
berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36
kilometer dari Surakarta.
Bangunan candi Sukuh memberikan kesan kesederhanaan. Kesan yang didapatkan dari
candi ini sungguh berbeda dengan yang didapatkan dari candicandi
lainnya seperti Gedong
Songo, Prambanan dan Borobudur. Bentuk bangunan candi Sukuh lebih mirip dengan
peninggalan budaya Maya di Meksiko atau peninggalan budaya Inca di Peru. Struktur candi di
bagian belakang juga mengingatkan para pengunjung akan bentukbentuk
piramida Mesir.
Banyak orang mengidentikkan candi Sukuh sebagai candi porno atau
candi erotis. Bagaimana tidak, ketika penulis studi lapangan dengan mahasiswa
jurusan Sejarah UKSW, banyak rekanrekan
berpikiran ”ngeres”, menyaksikan
pahatan (relief) vulgar yang menggambarkan secara utuh alat kelamin pria yang
sedang ereksi, berhadaphadapan
langsung dengan vagina di lantai teras pertama
gapura candi. Menurut ceritera rakyat dari mulut ke mulut : Konon, lakilaki
yang
ingin menguji apakah kekasihnya masih perawan atau tidak, dapat
datang ke tempat ini, dengan cara meminta si wanita melompati relief
tersebut. Atau suami yang ingin menguji kesetiaan istrinya, dia akan
meminta sang istri melangkahi relief ini. Jika kain kebaya yang
dikenakannya robek, maka dia tipe isteri setia. Tapi sebaliknya, jika
kainnya hanya terlepas, sang isteri diyakini telah berselingkuh (dari
sebuah sumber) Ceriteranya memang ada, tetapi faktanya
mungkin tinggal cerita? Masih ada banyak lagi indikasi
(berupa relief dan arca) yang membawa pemikiran
pengunjung sampai pada kesimpulan bahwa candi ini
memang candi rusuh (saru atau tabu)
Pada gapura teras pertama terdapat sangkala dalam
bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta mangan wong.
Jika dibahasa Indonesiakan artinya adalah “Gapura sang
raksasa memangsa manusia”. Katakata
ini memiliki makna
Gapura = 9, Raksasa = 5, Mangan = 3, dan Wong = 1. Jika
dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437
Masehi. Candrasengkala di atas menunjukkan tahun pendirian candi dimasamasa
ahir kekuasaan
Majapahit.
Untuk memahami apa dan bagaimana keyakinan yang terdapat pada ”ritual” ataupun
upacara di candi Sukuh abad XV, 600an
tahun yang silam, perlu kita simak maknamakna
relief
serta patung yang terdapat di candi. Bagian relief dan arca pada candi banyak merupakan symbol
Click to buy NOW!
PDFXCHANGE
http://www.docutrack.
com
Click to buy NOW!
PDFXCHANGE
http://www.docutrack.
com
dan rangkaian kisah (cerita) dalam mithologi Hindu. Kisah dan symbol yang dipahatkan serta
diarcakan kebanyakan berthema ”PEMBEBASAN” yang berkait erat dengan ”RUWATAN”.
Ruwatan adalah salah satu adat Jawa yang tujuannya untuk membebaskan orang, komunitas atau wilayah
dari ancaman bahaya. Inti acara ruwatan adalah doa memohon perlindungan pada Allah (Tuhan) dari ancaman
bahayabahaya
seperti bencana alam dll. Juga doa mohon pengampunan dosadosa
dan kesalahan yang telah
dilakukan yang bisa menyebabkan bencana. Ruwatan memiliki makna mengembalikan keadaan sebelumnya (suatu
keadaan yang baik, menuju social equilibrium) Dapat dikatakan bahwa upacara ruwatan adalah ritual tolak bala
atau upacara membuang sial (terjemahan dari Wikipedia berbahasa Jawa)
Relief Pertama Relief ke dua
Pada relief pertama dan
kedua digambarkan kisah
SUDAMALA. Bagian penting
dari relief ini adalah kisah Batari
Uma dikutuk Batara Guru
menjadi Durga yang berparas
jelek. Sadewa bungsu dari
pandawa anak Pandu dan
Madrim diikat pada sebuah pohon dikorbankan sebagai tumbal untuk Durga. Pada kisah ini
Sadewa berhasil meruwat dengan bantuan Batara Guru dan membebaskan Durga dari kutukan
dan kembali kewajah aslinya sebagai seorang bidadari. Pembebasan Batari Uma dari kutukan
yang dilakukan Sadewa dengan meruwat yang tergambar pada pahatan kiranya merupakan inti
keyakinan masyarakat pembangun candi. Apakah ada hubungan dengan keadaan sosial politik
pada masa itu? Di bagian akhir tulisan akan kita tarik benang merah keterkaitannya.
Patung KuraKura
besar di depan candi merupakan symbol dari
Awatara Visnu, yaitu KURMA AWATARA. Awatara dalam agama Hindu
adalah inkarnasi dari Tuhan Yang Maha Esa maupun manifestasinya. Tuhan Yang
Maha Esa ataupun manifestasinya turun ke dunia, mengambil suatu bentuk dalam
dunia material, guna menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kejahatan,
menegakkan dharma dan menyelamatkan orangorang
yang melaksanakan
Dharma/Kebenaran (Wikipedia Indonesia). Sang KuraKura
sebagai
perwujudan dewa Visnu (pemelihara dunia) menjadi tempat tumpuan
membantu para dewa memutar dan mengadukaduk
samodra dengan gunung Mandara, untuk
mendapatkan TIRTA AMERTA (air kehidupan). Barang siapa entah itu manusia, dewa, raksasa,
asura meminum air kehidupan itu maka ia akan terbebas dari kematian dan mengalami hidup
dalam keabadian. Keyakinan akan kehidupan kekal/abadi dikemudian hari
dan terbebas dari kematian, merupakan harapanharapan
religi untuk
digapai/dialami.
Bersebelahan dengan relief cerita Sudamala, ada obelisk yang
menyiratkan cerita GARUDEYA. Garuda putra dewi Winata ”meruwat”
ibunya dari perbudakan seorang madunya dewi Kadru. Dewi Winata menjadi
budak Kadru karena kalah bertaruh tentang warna ekor kuda Uchaiswara. Dewi Kadru
menang dalam bertaruh sebab dengan curang dia menyuruh anakanaknya
yang berujud ular naga berjumlah
seribu menyemburkan bisabisanya
(racun) di ekor kuda Uchaiswara sehingga warna ekor kuda berubah hitam.
Dewi Winata dapat diruwat sang Garuda dengan cara memohon “tirta amerta” (air kehidupan) kepada para dewa.
(Kapanlagi.com) Sekali lagi ceritera ”Pembebasan” dengan cara ruwatan diobeliskkan pada
ornamen candi Sukuh, semakin meyakinkan kita bahwa memang dahulu tempat ini difungsikan
untuk ritual ruwatan.
Click to buy NOW!
PDFXCHANGE
http://www.docutrack.
com
Click to buy NOW!
PDFXCHANGE
http://www.docutrack.
com
Depan kanan candi Utama pada obelisk, terdapat relief ”Bimo Bungkus” yang
mengkisahkan ruwatan versi Mahabharata. Bima yang lahir dari rahim Kunthi dengan Pandu membuat
gempar. Mengapa, karena putra kedua Pandu itu berujud bungkus yang sulit dibuka. Suasana kian hangat. Atas
kejadian ini Betara Guru mengutus Gajahsena (Ganesya), putranya untuk memecahkan bungkus Bima. Usaha
tersebut berhasil dan diberikannya pakaian khusus pada Bima yang kemudian diberi nama Bratasena. Paparan
kisah Bima Bungkus pada relief ini inti ceritanya yaitu terbebasnya Bima (jawa:Werkudara) dari
ancaman kematian, karena lahir terbungkus ariari
yang tidak dapat pecah (terbuka). Ganeca
menolong (baca: meruwat) Bima hingga dilahirkan.
Dari relief, obelisk dan arca di candi Sukuh, banyak didapati symbolsymbol
seksual. Symbolsymbol
tersebut mengarahkan kita pada suatu aliran
penganut paham Tantra. Menurut paham Tantra, untuk mencapai tujuan hidup orang
mengucapkan mantramantra
dan upacaraupacara
gaib, dapat bersatu dengan sakti bahkan
menjadi sakti itu sendiri. Tata cara pelaksanaan pemujaan sakti menurut paham Tantra, bagi
orang yang bukan penganut Tantra menimbulkan kesan yang tidak baik, karena menurut ukuran
masyarakat termasuk larangan atau melanggar kesopanan.
Pada paham Tantrayana dikenal dua aliran, yaitu aliran kiri (niwerti) dan kanan
(prawerti). Aliran kiri mempunyai anggapan bahwa untuk mencapai moksa setiap orang harus
berusaha sebanyak mungkin melakukan 5 Ma (pancatattwa=Jawa MoLimo)
yang terdiri dari
(a) Matsya (makan ikan), (b) Mamsa (makan daging), (c) Mudra (makan padipadian),
(d)
Maithuna (melakukan hubungan seks secara bebas). Dari sumbersumber
kesusasteraan maupun peninggalan arca yang terdapat di beberapa daerah
di Indonesia termasuk di candi Sukuh, kemungkinan aliran inilah yang
banyak dianut pada zaman dahulu. Sedangkan aliran kanan beranggapan
bahwa untuk mencapai moksa seseorang harus melakukannya dengan
Samadhi dan Yoga.(Made Suardana) Penganut paham Tantrayana berkeyakinan
untuk mencapai pembebasan dari dosa (mencapai Moksa), orang harus berusaha
sebanyak mungkin melakukan 5 Ma (Jawa=MoLimo).
Benarkah di abad XV di
candi Sukuh pada masa Majapahit akhir para penganut Tantrayana menggunakannya untuk
upacara Kamamahapancikam (upacara 5 Ma)? Apa hubungannya dengan keadaan masyarakat di
era tersebut?
Runtuhnya Majapahit dengan sangkalan “Sirno Ilang Kertaning Bhumi”Sirno=0,
Ilang=0, Kerta=4, Bhumi=1 (0041) dibalik = 1400 Caka + 78 = 1478 Masehi pada Babad Tanah
Jawa, berdekatan dengan saat dibangun candi
Sukuh (1437 – 1456). Sebagaimana kita
pahami dan pernah alami, bahwa saatsaat
runtuhnya sebuah rezim/kekuasaan/negara,
sering terjadi keadaan tidak menentu.
Kekacauan politik, keadaan tidak aman,
perampokan dan degradasi moral serta tidak
berjalannya aturan meliputi serta menekan
masyarakat. Pranata sosial masa transisi
seperti di atas menggerakkan kelompokkelompok
(marginal) “mengundurkan diri”
atau mengasingkan diri dari situasi mencari
selamat (baca: kebebasan) dan berusaha
melalui caranya sendiri memperbaiki keadaan. Pencarian atau “Pembebasan” oleh kelompok
marginal “Sukuh” dibawa ke dalam situasi ritual (aktivitas ritual) meruwat keadaan dan
Click to buy NOW!
PDFXCHANGE
http://www.docutrack.
com
Click to buy NOW!
PDFXCHANGE
http://www.docutrack.
com
mengusahakan agar situasi sosial kembali ke equilibriumnya. Meruwat dalam kisah Sudamala,
Penyelamatan (pembebasan) Wisnu melalui Kurma Awatara, Kisah Garudea, sampai ruwatan
versi Mahabharata dalam lakon Bimo Bungkus adalah bentuk usaha mengembalikan
situasi/keadaan seperti sebelumnya saat Majapahit jaya gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto
raharjo !
Jika interpretasiinterpretasi
di atas berkaitan dan benar, dapat dipastikan bahwa relief
dan arca serta obelisk yang dipahatkan di candi Sukuh menuntun kita sedikit memahami keadaan
sosial religius masyarakat sekitar Sukuh pada abad XV. Namun untuk menguji kebenarannya,
kita masih memerlukan kajian yang lebih detail serta bukti/faktafakta
sejarah yang cukup
mengenai keseluruhannya.

MARGO MULYO

MARGO MULYO sebagai bagian dari DESTINASI KULINER yang sangat mendukung PARIWISATA YOGYAKARTA, lokasi nongkrong yang REPRESENTATIF ….SOLUTIF…EDUKATIF ya di MARGO MULYO di Alen Alun Utara Yogyakarta ( depan KRATON KASULTANAN Yogyakarta – http://www.visitnesia.com sebagai media partner PUBLISHING dan http://www.pamantanidonokerto.com juga sebagai mitra promosi untuk MARGO MULYO

CERITA RAKYAT KAHYANGAN DI KELURAHAN DLEPIH KECAMATAN TIRTOMOYO KABUPATEN WONOGIRI DAN FUNGSINYA BAGI MASYARAKAT: TINJAUAN RESEPSI

Karya sastra pada dasarnya berisi tentang permasalahan yang
melingkupi kehidupan sosial. Setiap bangsa atau suku bangsa memiliki
kehidupan sosial yang berbeda dengan suku bangsa lain. Demikian pula suku
Jawa yang memiliki kehidupan sosial khas terutama dalam sistem atau metode
budayanya. Sastra terlahir atas hasil karya perilaku manusia dalam
kebudayaan yang beranekaragam suku, ras, agama, dan tradisi yang berbedabeda.
Keanekaragaman tersebut memiliki ciri khas tersendiri dan hal itu
memberikan pemasalahan dengan pemahaman serta tanggapan yang berbedabeda
(Wijayanthi, 2007: 1).
Kebudayaan yang ada dalam masyarakat merupakan hasil cipta, rasa,
dan karsa masyarakat yang telah disesuaikan dengan masyarakat
lingkungannya dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup mereka.
Kebudayaan masyarakat tidak terlepas dari nilai-nilai yang bertumpu pada
sastra, kesenian, agama serta sejarah (Wibowo, 2003: 1).Dari pengertian itu,
kebudayaan ada karena masyarakat menciptakannya, dan kebudayaan itu
diciptakan juga untuk kepentingan kehidupan mereka dalam bermasyarakat.
Selanjutnya menurut Santoso (dalam Daroeni, 2001: 1) kebudayaan
sebagai suatu pengetahuan pilihan hidup dan suatu praktik komunikasi dari
perwujudan keseluruhan hasil pikiran,

bersumber pada usaha budi manusia dalam mengelola cipta, rasa, dan
karsanya serta mengungkapkan identitas kemanusiaannya dalam rangka
memilih dan merencanakan tanggapan untuk pelaksanaan kegiatan yang
mengarah pada tujuan kehidupannya.
Ada batasan yang lebih dinamis tentang kebudayaan, yaitu
kebudayaan dipandang sebagai manifestasi dari tiap orang dan masyarakat.
Manusia di dalam hidupnya cenderung bersifat aktif, yaitu selalu melakukan
perubahan terhadap lingkungan hidupnya. Lingkungan di sini bersifat luas,
yaitu mencakup keseluruhan aspek kehidupan termasuk aktivitas-aktivitas
yang dikerjakan dan di dalam benaknya selalu diwarnai ide-ide untuk
melakukan perubahan terhadap lingkungan alam sekitarnya. Manusia
senantiasa mengambil sikap sebagai subjek dan berusaha menguasai alam
lingkungannya. Hal inilah yang membedakan manusia dengan binatang, dan
merupakan pengertian dasar dari kebudayaan (Peursen, 1988: 19).
Pada hakikatnya kebudayaan merupakan realisasi gagasan-gagasan,
simbol-simbol sebagai hasil karya dan perilaku manusia. Kebudayaan terdiri
dari beraneka ragam wujud yang mempunyai fungsi dalam kehidupan
manusia. Masyarakat pendukung selalu berusaha menjaga, melestarikan dan
mengembangkan yang dicerminkan melalui tingkah laku hidupnya (Daroeni,
2001: 2).
Kebudayaan meliputi segala realisasi manusia, termasuk di dalamnya
adalah karya sastra. Karya sastra merupakan hasil dari kreativitas manusia
baik secara tertulis maupun secara lisan. Karya sastra yang tertulis misalnya

prosa, cerita pendek, cerita bersambung, novel dan lain-lain, sedangkan karya
sastra lisan adalah karya sastra yang diwariskan turun-temurun secara lisan,
dan salah satu jenis karya sastra lisan adalah cerita rakyat. Kaitannya dengan
ini Soeprapto (dalam Sudarsono, 1986: 42) menyatakan bahwa salah satu ciri
yang membedakan foklor dengan kebudayaan yang lain adalah cara
penyebaran maupun kelestariannya yang dilakukan secara lisan.
Yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah cerita rakyat
“Kahyangan”. Cerita rakyat merupakan sastra lisan yang penyebarannya
dilakukan secara lisan dari mulut ke mulut. Hutomo (1993: 1) berpendapat
bahwa sastra lisan mengandung nilai budaya nenek moyang, sebab sastra lisan
termasuk bagian dari folklor. Selanjutnya menurut Danandjaja (1997: 2)
foklor adalah sebagian dari kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan
diwariskan secara turun-temurun di antara kolektif macam apa saja secara
tradisional dalam versi yang berbeda baik dalam bentuk lisan maupun disertai
contoh dengan gerak isyarat atau alat bantu pengingat.
Istilah sastra lisan dan folklor, dalam penelitian ini untuk selanjutnya
digunakan istilah cerita rakyat. Hal ini dilakukan untuk menghindari
pemahaman yang mungkin dapat berbeda dari pembaca serta agar sesuai
dengan judul yang digunakan.
Dapat dikatakan bahwa cerita rakyat adalah cerita yang sudah
diceritakan kembali di antara orang-orang yang berada dalam beberapa
generasi. Isi cerita rakyat biasanya bersifat datar menurut si penuturnya. Cerita
rakyat bersifat anonim. Maksudnya, dalam cerita rakyat tidak diketahui

pengarangnya secara pasti. Salah satu efek dari sifat anonim tersebut
memungkinkan cerita rakyat akan dapat mengalami perubahan seiring dengan
perkembangan waktu.
Penggalian terhadap warisan budaya nenek moyang memang perlu
dilakukan guna menghindari kelenyapan. Bukan tidak mungkin budaya
warisan itu akan hilang begitu saja jika tidak dijaga dan dilestarikan.
Pemahaman terhadap budaya tersebut nantinya bisa ditemukan hasil-hasil
yang bisa memberikan manfaat dalam kehidupan manusia, misalnya saja
mengenai nilai-nilai sejarah dan nilai-nilai sosial yang ada dalam cerita rakyat.
Kenyataan membuktikan bahwa masyarakat masih akrab dengan alam
sekitarnya melalui kepercayaan, yaitu warisan nenek moyang. Semua
berkaitan erat dengan kepercayaan yang sulit dilepasnya dan dilupakan begitu
saja. Kekuatan alam dirasakan sebagai kekuatan yang menguasai dan
menentukan keberadaan manusia. Hal ini terbukti, meskipun orang-orang
telah rasional dan hidup di zaman modern banyak orang yang tidak dapat
menghindarkan diri dari kekuatan alam yang mereka rasakan dan tertarik pada
gerakan kebatinan maupun mendatangi tempat-tempat yang dianggap bisa
memberi tuah untuk memecahkan masalah hidup. Misalnya, banyak orang
yang datang ke suatu tempat yang dianggap keramat (sebagai contoh
Kahyangan) untuk menenangkan diri dengan bersemedi atau napak tilas
memohon petunjuk kepada Allah SWT melalui tempat tersebut.
Cerita rakyat banyak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia. Salah
satunya adalah cerita rakyat “Kahyangan” yang merupakan petilasan

pertapaan Panembahan Senopati di Kelurahan Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo,
Kabupaten Wonogiri. Cerita rakyat “Kahyangan” yang dimiliki masyarakat
Dlepih tersebut mempunyai kemungkinan untuk berperan sebagai kekayaan
budaya, khususnya kekayaan sastra lisan. Cerita rakyat “Kahyangan”
merupakan cerita rakyat yang masih tetap hidup dan dipertahankan dalam
kehidupan masyarakat Dlepih. Masyarakat Dlepih pada khususnya dan
masyarakat luas pada umumnya begitu yakin bahwa “Kahyangan” dianggap
dapat memberi berkah. Misalnya, bila seseorang ingin mencalonkan untuk
menjadi seorang pemimpin, maka ia memohon berkah atau petunjuk kepada
Allah SWT di “Kahyangan” melalui juru kunci atau dengan memahami
perjalanan Panembahan Senopati yang merupakan raja pertama Mataram yang
pernah bertapa di “Kahyangan” . Karena kepercayaan itu mereka
merealisasikan dengan napak tilas yang biasanya diadakan setiap malam
Selasa Kliwon dan Jum’at Kliwon serta malam Satu Suro.
Dengan latar belakang tersebut penulis ingin melakukan penelitian
dengan judul “Cerita Rakyat Kahyangan di Kelurahan Dlepih, Kecamatan
Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri dan Fungsinya Bagi Masyarakat: Tinjauan
Resepsi”.

religius dalam tradisi ziarah dapat dipakai sebagai pedoman tingkah laku atau
norma-norma masyarakat yang harus dipatuhi kolektifnya; (5) Sebagai sarana
hiburan, yaitu cerita rakyat “Makam Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari)”
memiliki fungsi sebagai sarana hiburan, karena di dalam cerita tersebut
terkandung nilai budaya yang bersifat menghibur.
Persamaan penelitian yang dilakukan Daroeni dengan penelitian ini
adalah dalam analisis terdapat fungsi atau manfaat cerita rakyat terhadap
masyarakat. Sedangkan perbedaannya adalah mengenai tinjauan yang
digunakan, jika penelitian Daroeni menggunakan tinjauan sosiologi sastra
yang berarti lebih menekankan pada fungsi cerita rakyat tersebut pada
kehidupan sosial, sedangkan penelitian ini tinjauan yang digunakan adalah
resepsi sastra yang berarti penelitian ini lebih menekankan pada resepsi atau
tanggapan masyarakat (pengunjung dan masyarakat pemilik) terhadap cerita
rakyat.
Skripsi Wahyanto Andri Wibowo (2003) Fakultas Sastra UNS dengan
judul “Cerita Rakyat Ki Ageng Singo Wijoyokusumo di Desa Karangbener,
Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus: Suatu Tinjauan Folklor”. Ada empat
fungsi yang terdapat dalam cerita rakyat Ki Ageng Singo Wijoyokusumo,
yakni (1) sebagai sistem proyeksi (projective system), sebagai alat
pencerminan angan-angan suatu kolektif, yaitu cerita rakyat Ki Ageng Singo
Wijoyokusumo mengingatkan serta menjelaskan kepada warga Karangbener
tentang ketokohan Ki Ageng Singo Wijoyokusumo berbudi pekerti yang
luhur, dharma baktinya, kesaktiannya dan tentunya peranan dan tentunya
11
peranan dalam berdirinya desa Karangbener dan syiar Islam di Karangbener.
Ketokohan Ki Ageng Singo Wijoyokusumo tersebut membekas dalam
pemikiran warga Karangbener. Secara kolektif mereka terkesan, sehingga
tidak mengherankan bila angan-angan kolektif tersebut diproyeksikan dalam
suatu wujud ziarah di makam Ki Ageng Singo Wijoyokusumo. (2) Sebagai
alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga kebudayaan, yaitu dalam tradisi
ziarah di makam Ki Ageng Singo Wijoyokusumo terdapat ketentuanketentuan
yang disepakati bersama dan menjadi suatu pranata dan budaya
yang dilembagakan, misalnya saja dalam hal waktu pelaksanaan ziarah. Telah
menjadi suatu aturan-aturan sosial atau pranata sosial bahwa orang yang
mempunyai kerja atau hajat biasanya datang ke makam Ki Ageng Singo
Wijoyokusumo. (3) Sebagai alat pendidikan anak (Paedagogical Devide),
yaitu cerita rakyat Ki Ageng Singo Wijoyokusumo memberikan suatu
pendidikan bagi anak Karangbener agar mereka tahu tentang siapa nenek
moyang mereka (cikal bakal) dari Desa Karangbener. Cerita tersebut
memberitahukan kepada generasi penerus Karangbener tentang Ki Ageng
Singo Wijoyokusumo sebagai nenek moyangnya atau cikal bakal dari
desanya. (4) Sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma
masyarakat dipatuhi, yaitu di Desa Karangbener setiap ada orang yang akan
punya kerja atau hajatan harus datang ke makam Ki Ageng Singo
Wijoyokusumo untuk meminta berkah dan berdoa agar acara yang
dilaksanakan dapat berjalan dengan lancar dan selamat. Kepercayaan
masyarakat di Karangbener apabila akan punya kerja atau hajatan tidak
12
terlebih dahulu datang ke makam untuk meminta berkah dan keselamatan
biasanya mendapatkan bencana atau halangan. Hal ini yang mendorong
masyarakat Karangbener untuk tetap taat pada tradisi yang ada.
Persamaan penelitian yang dilakukan Wibowo dengan penelitian ini
adalah dalam analisis sama-sama terdapat analisis fungsi cerita rakyat
terhadap masyarakat. Sedangkan perbedaannya adalah dalam hal tinjauan
yang digunakan, jika penelitian Wibowo menggunakan tinjauan foklor yang
berarti penekanannya pada struktur yang yang membangun cerita rakyat
tersebut. Sedangkan penelitian ini menggunakan tinjauan resepsi yang berarti
lebih menekankan pada resepsi atau tanggapan masyarakat terhadap cerita
rakyat.
Berdasarkan uraian tentang hasil penelitian terdahulu, maka dapat
dilihat bahwa orisinalitas penelitian dengan judul “CERITA RAKYAT
KAHYANGAN DI KELURAHAN DLEPIH, KECAMATAN TIRTOMOYO,
KABUPATEN WONOGIRI, DAN FUNGSINYA BAGI MASYARAKAT:
TINJAUAN RESEPSI” dapat dipertanggjawabkan.
F. Landasan Teori
1. Hakikat Foklor
Foklor sebagian dari kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan
diwariskan secara turun temurun di antara kolektif macam apa saja, secara
tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun
13
contoh yang disertai gerak isyarat atau alat bantu pengingat (Danandjaja,
1997: 2).
Foklor berasal dari kata folk dan lore. Menurut Dundes (dalam
Danandjaja, 1997:1) folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri
pengenal fisik, sosial, kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari
kelompok-kelompok lainnya. Istilah lore merupakan tradisi folk yang
berarti sebagian kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun secara
lisan atau melalui contoh yang disertai gerak isyarat atau alat bantu
pengingat. Jika folk adalah mengingat, lore adalah tradisinya.
Foklor mempunyai beberapa ciri pengenal utama yang
membedakan dengan kebudayaan lainnya. Ciri-ciri utama tersebut
menurut Danandjaja (1997, 3-4) adalah seperti berikut.
a. Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yakni
disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut (atau dengan suatu
contoh disertai gerak isyarat, dan alat bantu pengingat) dari generasi
ke generasi berikutnya.
b. Foklor bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap
atau dalam bentuk standar, dan juga di antara kolektif tertentu dalam
waktu yang cukup lama (paling sedikit dua generasi).
c. Foklor ada (exist) dalam versi-versi bahkan varian-varian yang
berbeda-beda. Hal ini diakibatkan oleh cara pembacanya
menyampaikan cerita dari mulut ke mulut (lisan), sehingga oleh
proses lupa diri manusia atau proses interpolasi (interpolation) foklor
14
dengan mudah dapat mengalami perubahan. Walaupun demikian,
perbedaan hanya terletak pada bagian karyanya saja, sedangkan
bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.
d. Foklor bersifat anonim, yaitu nama penciptanya sudah tidak diketahui
oleh orang lain.
e. Foklor biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola. Cerita
rakyat biasanya selalu menggunakan kata-kata klise seperti “bulan
empat belas hari”, untuk menggambarkan seorang gadis, “seperti ular
berbelit-belit”, untuk menggambarkan kemarahan seseorang, atau
ungkapan-ungkapan tradisional, ulangan-ulangan, dan kalimat-kalimat
atau kata-kata pembukaan dan penutup yang baku, seperti kata
“sahibu hikayat”… dan mereka pun hidup bahagia untuk seterusnya
atau “menurut empunya cerita”…demikian konon”.
f. Foklor mempunyai kegunaan (function) dalam kehidupan bersama
suatu kolektif. Cerita rakyat misalnya, mempunyai kegunaan sebagai
alat pendidik atau pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan
terpendam.
g. Foklor bersifat prologis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak
sama dengan logika umum.
h. Foklor menjadi milik berasama (collective) dari kolektif tertentu. Hal
ini sudah tentu diakibatkan oleh penciptaan pertama sudah tidak
diketahui lagi sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan
merasa memilikinya.
15
i. Foklor pada umumnya bersifat polos dan lugu sehingga seringkali
kelihatan kasar, terlalu spontan. Hal ini dapat dimengerti apabila
mengingat banyak foklor merupakan proyeksi emosi manusia yang
paling jujur manifestasinya.
2. Hakikat Cerita Rakyat
a. Pengertian Cerita Rakyat
Istilah cerita rakyat menunjuk kepada cerita yang merupakan
bagian dari rakyat, yaitu hasil sastra yang termasuk ke dalam cakupan
foklor. Cerita rakyat adalah suatu bentuk karya sastra lisan yang lahir
dan berkembang dari masyarakat tradisional yang disebarkan dalam
bentuk relatif tetap atau dalam bentuk yang standar disebarkan di
antara kolektif tertentu dari waktu yang cukup lama dengan
menggunakan kata klise ( Danandjaja, 1997: 4 ).
Cerita rakyat adalah sesuatu yang dianggap sebagai kekayaan
milik yang kehadirannya di atas dasar keinginan untuk berhubungan
sosial dengan orang lain. Dalam cerita rakyat dapat dilihat adanya
berbagai tindakan berbahasa guna menampilkan adanya nilai-nilai
dalam masyarakat ( Semi, 1993: 79 ).
b. Macam-macam cerita rakyat
Bascom dalam Danandjaja (1997: 50) membagi cerita prosa
menjadi tiga macam sebagai berikut.
16
1. Mite (Myth)
Bascom (dalam Danandjaja 1997: 50) mengatakan bahwa
mite adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi
serta dianggap suci oleh si empunya cerita. Mite ditokohi oleh para
dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwa terjadi di dunia lain
atau di dunia yang bukan seperti yang kita kenal sekarang dan
terjadi pula di masa lampau.
Mite di Indonesia dapat dibagi menjadi dua macam
berdasarkan tempat asalnya, yakni yang asli Indonesia dan berasal
dari luar negeri, terutama India, Arab, dan negara yang berasal dari
Laut Tengah.
2. Legenda
Legenda adalah prosa rakyat yang mempunyai ciri-ciri yang
mirip dengan mite, yaitu dianggap pernah benar-benar terjadi,
tetapi tidak dianggap suci. Berlainan dengan mite, legenda ditokohi
manusia, walaupun ada kalanya mempunya sifat-sifat luar biasa,
dan seringkali juga dibantu makhluk-makhluk ajaib. Tempat
terjadinya adalah di dunia seperti yang kita kenal kini, karena
waktu terjadinya belum terlalu lampau Bascom (dalam Dananjaja,
1997: 50).
17
Brunvard (dalam Danandjaja, 1997: 67) mengemukakan
penggolongan legenda sebagai berikut:
(a) legenda keagamaan (Religius Legends)
(b) legenda alam gaib (Supranatural Legends)
(c) legenda perorangan (Personal Legends)
(d) legenda setempat (Local Legends)
3. Dongeng
Dongeng adalah prosa rakyat yang tidak dianggap benarbenar
terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat
oleh waktu maupun cerita Bascom (dalam Dananjaja, 1997: 50).
3. Mitos Bagian dari Foklor
Mitos berarti suatu cerita yang benar dan menjadi milik mereka
yang paling berharga karena merupakan sesuatu yang suci, bermakna dan
menjadi contoh model bagi tindakan manusia (Eliade dalam Susanto,
1987:91). Peursen, (1988: 42) memberikan arti terhadap mitos dengan
berpijak pada fungsi mitos tersebut dalam kehidupan manusia. Mitos
bukan sekadar cerita mengenai kehidupan dewa-dewa, namun mitos
merupakan cerita yang mampu memberikan arah dan pedoman tingkah
laku manusia sehingga bisa bersifat bijaksana.
18
Kekuatan mitos sangat besar sehingga memberikan arah kepada
kekuatan manusia dan memberikan arah kepada kelakuan manusia. Mitos
biasanya dijadikan semacam pedoman untuk ajaran suatu kebijaksanaan
bagi manusia. Melalui mitos, manusia merasa dirinya turut serta
mengambil bagian dalam kejadian-kejadian, dapat pula merasakan dan
menanggapi daya kekuatan alam. Mitos muncul karena manusia
menyadari ada kekuatan gaib di luar dirinya. Mitos itu tidak memberikan
informasi mengenai kekuatan-kekuatan yang ada, tetapi membantu
manusia agar dapat menghayati daya-daya itu sebagai suatu kekuatan
yang mempengaruhi dan menguasai alam dan kehidupan sukunya.
Selanjutnya Peursen (1988: 37) memberikan gambaran mengenai
mitos. Mitos adalah sebuah cerita yang memberikan pedoman dan arah
tertentu kepada sekelompok orang. Cerita itu dapat dituturkan, tetapi juga
dapat diungkapkan, misalnya lewat tari-tarian atau pementasan wayang.
Inti dari ceritnya adalah lambang-lambang yang mencetuskan pengalaman
manusia purba.
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa mitos
merupakan suatu cerita yang dianggap memberikan arah dalam kehidupan
manusia. Kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari mitos begitu
saja, meskipun kebenaran suatu mitos belum tentu memberikan jaminan
dan bisa dipertanggungjawabkan. Cerita rakyat “Kahyangan” merupakan
sebuah mitos yang oleh masyarakat masih dipercaya kebenarannya dan
19
masih menyimpan kekuatan gaib. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya
masyarakat yang mempercayai bahwa cerita rakyat “Kahyangan” benarbenar memberikan manfaat bagi mereka yang napak tilas di tempat
tersebut.
4. Pendekatan Struktural
Di dalam ilmu sastra ada dua macam pendekatan. Dua pendekatan
itu disebut pendekatan ekstrinsik dan pendekatan intrinsik Wellek (dalam
Hutomo: 1993: 7). Dua pendekatan ini oleh Sudjiman disebut ancangan
ekstrinsik dan ancangan intrinsik. Ancangan ekstrinsik ialah “pendekatan
terhadap sastra dengan menggunakan ilmu bantu bukan sastra seperti
sejarah, sosiologi, dan sebagainya”. Ancangan intrinsik ialah “pendekatan
terhadap karya sastra dengan menerapkan teori dan kaidah sastra:
pendekatan bertolak dari karya sastra itu sendiri” Sudjiman (dalam
Hutomo, 1993: 7-8).
Pendekatan intrinsik menganalisis, misalnya, plot (alur),
perwatakan, gaya bahasa, latar, bentuk, tema, amanat, dan lain-lain. Hal ini
juga terdapat di dalam sastra lisan (Hutomo, 1993: 8). Semua yang
diungkapkan Hutomo itu merupakan unsur-unsur dalam, yang berperan
membangun sebuah cerita, baik itu novel ataupun cerita rakyat.
Selanjutnya Stanton (dalam Jabrohim, 2003) mendeskripsikan
unsur-unsur pembangun struktur itu terdiri atas tema, fakta cerita, dan
sarana sastra. Fakta cerita terdiri atas tema, alur, tokoh, dan latar,
20
sedangkan sarana sastra biasanya terdiri atas sudut pandang, gaya bahasa,
dan suasana simbol-simbol, imajinasi dan juga cara-cara pemilihan judul
di dalam karya sastra. Fungsi sarana sastra adalah memadukan fakta sastra
dengan tema sehingga makna karya sastra itu dapat dipahami dengan jelas.
Dapat dikatakan bahwa analisis struktural berusaha untuk
menunjukkan dan menjelaskan unsur-unsur yang membangun karya sastra.
Menurut Nurgiyantoro (2000: 37), teori struktural seperti alur, penokohan,
tema, dan latar dapat mengungkapkan latar belakang serta aspirasi
kemasyarakatan dalam cerita.
Untuk lebih jelasnya mengenai unsur-unsur intrinsik karya sastra
yang meliputi tema, tokoh/penokohan, plot/alur, latar/setting seperti di atas
akan dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut.
a. Tema
Tema adalah ide, gagasan sentral sebuah cerita. Tema
merupakan kerangka berfikir pengarang dalam penciptaan
sebuah karya sastra. Keberadaan tema tersirat bukanlah
tersurat, jelas dan dapat kita temukan begitu saja. Stanton
(2007: 8) mengatakan bahwa tema bukanlah sesuatu yang
diungkapkan pengarang secara langsung.
Pandangan Fananie (2000: 84) mengenai tema adalah
ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang
melatarbelakangi ciptaan karya sastra. Karena sastra
merupakan refleksi kehidupan masyarakat, maka tema yang
21
diungkapkan bisa sangat beragam. Tema bisa berupa persoalan
moral, etika, agama sosial budaya, teknologi, tradisi yang
terkait erat dengan masalah kehidupan.
Ada satu perbedaan pandangan mengenai tema karya
fiksi dengan cerita rakyat. Tema karya fiksi (misalnya novel)
umumnya hanya satu tema atau gagasan pokok dalam sebuah
cerita. Tetapi tema cerita rakyat menurut pandangan Volkov
seperti yang dikutip Propp (1987: 8) mengatakan bahwa tema
cerita rakyat atau disebut cerit-cerita ajaib meliputi sepuluh
tema, yaitu (1)Tentang hukuman yang tidak adil; (2) Tentang
Wira Bodoh; (3) Tentang tiga beradik; (4) Tentang pembunuh
naga; (5) Tentang pencarian jodoh; (6) Tentang gadis yang
bijaksana; (7) Tentang orang yang terkenal; (8) Tentang orang
yang mempunyai azimat; (9) Tentang pemilik benda-benda
sakti; (10) Tentang istri yang curang. Akan tetapi
penggabungan mengenai kesepuluh tema tersebut agar bisa
dirumuskan menjadi satu tema yang utuh tidak dijelaskan.
Dalam penelitian ini tidak menggunakan tema seperti
yang diungkapakan Volkov tersebut, karena tema-tema itu
menurut peneliti tidak ada yang sesuai dengan tema cerita
rakyat “Kahyangan” yang peneliti teliti tetapi menggunakan
tema yang biasa untuk menganalisis cerpen dan novel.
22
b. Plot/Alur
Plot atau sering juga disebut alur adalah bagaimana
jalannya sebuah cerita dari peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi itu merupakan hubungan
sebab-akibat. Akibat yang ada disebabkan oleh peristiwa yang
terjadi sebelumnya.
Sundari (dalam Nurgiyantoro, 2000: 93) mengatakan
bahwa plot atau alur sering diartikan sebagai keseluruhan
rangkaian peristiwa yang terjadi dalam cerita. Lebih lanjut lagi
Stanton (2007: 26) mendefinisikan alur merupakan rangkaian
peristiwa-peristiwa dalam cerita.
Dari dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa
plot atau alur adalah keseluruhan rangkaian peristiwa-peristiwa
yang terjadi dalam sebuah cerita yang saling berhubungan
antara satu dengan yang lainnya.
Akan tetapi alur menurut Nurgiyantoro dan Stanton
seperti yang di atas biasanya hanya untuk analisis unsur
intinsik pada karya sastra seperti novel dan cerpen tidak untuk
analisis alur cerita rakyat. Propp (1987) mengungkapkan
analisis alur untuk cerita rakyat terdapat 32 tahapan/ bagian,
yaitu: (1) salah satu anggota keluarga meninggalkan rumah; (2)
salah satu larangan diucapkan kepada pahlawan: (3) larangan
dilanggar; (4) penjahat mencoba untuk mencari keterangan
23
mengenai mangsanya; (5) penjahat menerima informasi
mengenai mangsanya; (6) penjahat mencoba memperdaya/
menipu mangsanya dengan tujuan untuk merampas apa yang
dimiliki mangsa; (7) mangsa terperdaya dengan tipu muslihat
penjahat; (8) penjahat membuat susah atau cidera terhadap
seseorang di dalam sebuah keluarga; (9) salah seorang anggota
keluarga mempunyai keinginan untuk memiliki sesuatu; (10)
kekurangan dikmaklumi, pahlawan diperintah untuk pergi
(diutus); (11) penjahat memutuskan untuk membalas
kekalahannya; (12) pahlawan meninggalkan rumah; (13)
pahlawan diserang, sehingga pahlawan menggunakan alat gaib
atau pembantunya; (14) pahlawan membalas apa yang sudah
dilakukan penjahat terhahapnya; (15) pahlawan memperoleh
benda sakti/ bertemu dengan pembantu sakti; (16) pahlawan
dipindahkan/ diantarkan ke tempat ang dia cari; (17) pahlawan
dan penjahat terlibat dalam pertarungan; (18) pahlawan diberi
tanda; (19) penjahat dibunuh; (20) rintangan awal dapat diatasi;
(21) pahlawan pulang; (22) pahlawan dikejar; (23) pahlawan
diselamatkan; (24) pahlawan yang lain (belum dikenali) datang;
(25) pahlawan palsu memberikan tuntutan palsu; (26) suatu
tugas yang berat diberikan/ dibebankan kepada pahlawan; (27)
tugas dapat diselesaikan; (28) pahlawan palsu dapat dikenali;
(29) pahlawan palsu yaitu penjahat dihukum;

Tesis Psikologi: Studi Kasus Masalah Belajar dr Lingkungan Budaya

Lingkungan keluarga buruh lebih banyak waktunya dihabiskan untuk mencari nafkah demi kepentingan anaknya. Sehingga menyebabkan kurangnya perhatian terhadap anak dan anak akan berkembang secara alamiah, tanpa control dan bimbingan orang tua.Faktor-faktor yang menyebabkan orang tua kurang perhatian terhadap perkembangan anaknya antara lain : a) Pendidikan orang tua yang rendah; b) Rendahnya keadaan sosial ekonomi keluarga dan masyarakat; c) Rendahnya minat untuk menyekolahkan anaknya; d) Pengaruh lingkungan.

Karena kondisi yang demikian mengakibatkan anak akan belajar sekenanya, yang akibatnya anak cenderung memilih bermain-main atau membantu orang tua untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dibandingkan untuk belajar. Sehingga semua tugas sekolah dikerjakan dengan tidak sungguh–sungguh yang mengakibatkan hasil belajar yang diraihnya menjadi rendah. Selain itu orang tua dari keluarga buruh tidak ada waktu untuk menunggui anak saat belajar, sehingga anak yang berkesulitan dalam memecahkan masalah belajar tidak dapat diselesaikan dengan baik.

Rumusan Masalah
“Masalah belajar apa sajakah dari siswa yang berasal dari lingkungan budaya keluarga buruh pada siswa kelas V di SD N 03 Malanggetan Kebakkramat Karanganyar?”.

Landasan Teori
Budaya
Budaya menurut S.Takdir Alisyahbana (1998: 207) adalah “Suatu keseluruhan yang kompleks yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda-beda seperti pengetahuan kepercayaan, seni, hukum, moral, adat dan istiadat dan segala kecakapan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Masalah Belajar
Alan O. Roos dalam Diagnostik Kesulitan Belajar Remedial (2002: 15), menjelaskan bahwa : “Masalah belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar”.

Masalah Belajar dalam Keluarga
Menurut Abu Ahmadi ( 2004: 287) masalah belajar yang dialami anak dapat berasal keluarga yang meliputi faktor orang tua, suasana rumah dan kehidupan ekonomi (status sosial ekonomi) keluarga.

Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah studi kasus tentang masalah belajar siswa kelas V yang berasal dari keluarga buruh. Penelitian kasus merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan metode kerja yang paling efisien, maknanya peneliti mengadakan telaah secara mendalam tentang suatu kasus, kesimpulan hanya berlaku atau terbatas pada kasus tertentu saja. (Iskandar, 2008 : 207).

Kesimpulan
Masalah belajar siswa yang berasal dari lingkungan budaya keluarga buruh pada siswa kelas V di Sekolah Dasar Negeri 03 Malanggetan Kecamatan Kebakkramat Kabupaten Karanganyar tahun pelajaran 2008/2009.
Sebab – sebab yang melatarbelakangi masalah belajar pada siswa kelas V di Sekolah Dasar Negeri 03 Malanggaten Kecamatan Kebakkramat Kabupaten Karanganyar tahun pelajaran 2008/2009.
Alternatif mengatasi masalah belajar dari siswa yang berasal dari lingkungan budaya keluarga buruh pada siswa kelas V di Sekolah Dasar Negeri 03 Malanggaten Kecamatan Kebakkramat Kabupaten Karanganyar tahun pelajaran 2008/2009.

Contoh Skripsi Psikologi
Studi Kasus Masalah Belajar dari Lingkungan Budaya.
Prestasi Belajar Siswa Materi Pokok Kelarutan dan Hasil Kali kelarutan di Tinjau dari Gaya Kognitif dan Nilai Kinerja di Laboratorium.
Kesiapan Menikah pada Wanita Dewasa Madya yang bekerja.
Konflik Kehidupan Seorang Clubber.
Pengaruh Tayangan Edukatif terhadap Kreativitas Verbal pada Anak Usia Sekolah di SD Harapan III Medan.

Related posts:

Pembatalan Perkawinan di Pengadilan Agama Karanganyar (Studi Kasus Putusan NOMOR 36/PDT.G/2006/PA.KRA)
Tesis Akuntansi: Disiplin Belajar, Lingkungan Keluarga & Sekolah trhdp Prestasi Belajar
Skripsi Psikologi: Studi Kasus Masalah Belajar dr Lingkungan Budaya
Pengaruh Motivasi Belajar dan Metode Pembelajaran Studi Kasus terhadap Prestasi Belajar
Skripsi Pengaruh Minat Masuk Program Studi Kebidanan, Perhatian Orang Tua, dan Lingkungan Belajar
Metode Pembelajaran Studi Kasus