SUKU SAMIN suku LUHUR

BUDAYA POLITIK MASYARAKAT SAMIN (SEDULURSIKEP)
(Studi Kasus di Dukuh Mbombong Desa Baturejo Kecamatan Sukolilo
Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah)
Munadi
ABSTRAK
Budaya politik suatu masyarakat tertentu berbeda dengan budaya politik masyarakat
lainnya. Berdasarkan hal tersebut, tipe-tipe budaya politik dapat digolongkan dalam
beberapa tipe antara lain: Budaya Politik Parokial, Budaya Politik Subjek/Kaula, Budaya
Politik Partisipan dan Budaya Politik Campuran. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui Tipe budaya politik, hubungan masyarakat, dan Struktur sosial masyarakat
Samin (sedulur Sikep) Dukuh Mbombong Desa Baturejo Kecamatan Sukolilo Kabupaten
Pati Provinsi Jawa Tengah. Metode penelitian yang digunakan dalam tesis ini adalah
deskriptif kualitatif yakni data yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan.
Sedangkan metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
wawancara, observasi dan dokumentasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Budaya Politik Masyarakat Samin (Sedulur
Sikep) Dukuh Mbombong Desa Baturejo Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati Provinsi Jawa
Tengah sudah terlaksana dengan cukup baik. Tipe budaya politik masyarakat Samin
mengarah pada dua tipe budaya politik. Hubungan pemerintah dengan Masyarakat Samin
berjalan selaras dan harmonis. Dalam kehidupan bermasyarakat pasti terdapat organisasi
kemasyarakatan yang terdapat dalam lingkungan tempat tinggal, karena manusia hidup
bersosial dan berkomunikasi untuk menuju perubahan sosial yang lebih baik dan maju.
Dalam setiap kelompok/komunitas tertentu pasti terdapat struktur sosial organisasi
kemasyarakatan, hal itupun terdapat dalam Samin Dukuh Mbombong Desa Baturejo
Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah.
Kata Kunci : Budaya Politik, Masyarakat Samin (Sedulur Sikep)
A. PENDAHULUAN
Indonesia yang wilayahnya sangat luas, merupakan sebuah negara besar
yang dihuni oleh penduduk dalam jumlah yang besar pula, yakni lebih dari 260 juta
jiwa. Penduduk di wilayah tersebut terdiri atas sejumlah kelompok masyarakat yang
tinggal menyebar di berbagai pulau yang membentang dari ujung barat hingga ke
ujung timur. Kelompok-kelompok masyarakat tersebut memiliki latar belakang
budaya yang berbeda satu sama lainnya, dan perbedaan tersebut dapat
memberikan gambaran jati diri yang khas bagi setiap kelompok masyarakat yang
memilikinya. Sudah tentu beragamnya kelompok masyarakat berikut karakteristik
budaya yang mereka miliki mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara.
Melihat kenyataan bahwa masyarakat Indonesia sangat heterogen, sudah
tentu tidaklah mudah untuk menciptakan kondisi yang selaras dengan tujuan
pembangunan nasional. Ada kemungkinan karena mereka dapat menerima
pembaharuan atau modernisasi, baik yang berasal dari program-program
pembangunan maupun yang diperoleh melalui arus informasi akibat desakan
globalisasi yang terjadi pada saat ini. Namun tak bisa dipungkiri pula kalau hingga
kini pun masih tersisa sejumlah kelompok masyarakat yang tak perduli dengan hal
yang berbau modern. Kelompok masyarakat yang menggambarkan kondisi tersebut
adalah masyarakat Samin (sedulur sikep) yang hidup dalam sebuah lingkungan adat
yang sangat dipatuhinya. Mereka hidup dalam kelompok yang memisahkan diri
secara formal dari tatanan budaya pada umumnya.
Mengenai permasalahan budaya politik yang ada di Indonesia telah ada
beberapa peneliti yang meneliti penelitian budaya politik Indonesia. Menurut Albert
Widjaja (1988:24), Suryani (2008:3) budaya politik adalah aspek politik dari sistem
nilai-nilai yang terdiri dari ide, pengetahuan, adat istiadat, tahayul dan mitos.
Kesemuanya ini dikenal dan diakui sebagian besar masyarakat. Budaya politik
tersebut memberi rasional untuk menolak atau menerima nilai-nilai dan norma lain.
Albert Widjaja menyamakan budaya politik dengan konsep ideologi yang dapat
berarti sikap mental, pandangan hidup, dan struktur pemikiran.
Studi budaya politik di Indonesia pernah dilakukan oleh para ilmuwan dari
barat diantaranya yaitu Herbert Feith dan Clifford Geetz. Budaya politik suatu
masyarakat akan ditentukan oleh unsur-unsur yang ada dalam masyarakat tersebut.
Herbert Feith, mengemukakan bahwa Indonesia memiliki dua budaya politik yang
dominan, yaitu aristokrasi jawa dan wiraswasta jawa. Sedangkan menurut Clifford
Geetz, dalam masyarakat jawa terdapat tiga subkebudayaan yaitu santri, abangan,
priyayi. Sementara itu, Hildred Greetz, mengelompokan masyarakat kepada tiga
subkebudayaan yang disebut sosiocultural types menjadi petani pedalaman Jawa
dan Bali, Masyarakat Islam Pantai, dan Masyarakat pegunungan (Suryani, 2008:3).
Perkembangan pada subbudaya politik, menurut Nazarudin dalam Suryani
(2008:6), dipengaruhi oleh dua faktor dominan, yakni adat istiadat dan sistem
kepercayaan (agama). Adat dan agama memainkan peranan yang besar dalam
proses penyerapan dan pembentukan pandangan masyarakat tentang kekuasaan
atau simbol-simbol yang ada disekitarnya. Adat dan agama telah mempengaruhi
atau memberi bentuk pola sikap atau pandangan individual anggota masyarakat
mengenai peranan yang mungkin dimainkannya dalam sistem politik.
Konsekuensi dari kebijakan otonomi daerah ini dirasakan langsung oleh
seluruh daerah yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia termasuk
Kabupaten Pati yang merupakan salah satu daerah yang ada di Provinsi Jawa
Tengah. Dari sisi historis, Masyarakat Samin (Sedulur Sikep) adalah komunitas
yang berasal dari ketokohan dan pemikiran atau ajaran pemimpin masyarakat yang
bernama Samin Surosentiko yang lahir pada 1859 dengan nama Raden Kohar di
Desa Ploso Kedhiren Randublatung Kabupaten Blora. Dia Merupakan Putera dari
Raden Surowijoyo. Samin Surosentiko bernama Priyayi Raden Kohar sementara
nama yang merakyat dari Dia adalah Samin (Purwasito, 2003:16).
Kata Samin sendiri berarti sami-sami amin (Purwasito, 2003:16). Ajaran
saminisme bermula dari sebuah kegelisahan R. Surowijoyo yang tidak tahan
terhadap perilaku pemerintah Kolonial Belanda sebagai penjajah. R. Surowijoyo
kemudian melakukan sebuah gerakan moral sehingga merubah namanya menjadi
Samin (Sami-sami Amin = sama rata, sama sejahtera, sama mufakat). Sebuah
pemberian nama yang bernafaskan wong cilik, serta berjuluk Samin Sepuh.
Orang memandang samin dengan penilaian yang berbeda-beda, ada yang
menilai baik dan ada yang salah dalam mempersepsikannya. Mulai dari
anggapannya bahwa gerakan masyarakat Samin sebagai simbol perlawanan
terhadap kekuasaan Kolonial Belanda hingga saat ini, sampai anggapan bahwa
masyarakat Samin adalah kumpulan orang-orang tak beragama, aneh dan
terbelakang. Samin oleh sebagian besar orang memang lebih sering memandang
dengan kacamata buram atau pandangan yang negatif. Mereka identik dengan
segolongan masyarakat yang tidak kooperatif, tidak mau membayar pajak, suka
membangkang dan suka menentang. Saminisme sebenarnya merupakan sebuah
paham dan sejarah perlawanan terhadap kekuasaan Kolonial Belanda yang telah di
ubah menjadi deskripsi kebudayaan.
Perlawanan terhadap Belanda dengan cara halus inilah yang kadang dipakai
oleh Masyarakat Samin yaitu dengan menyebut mereka dengan menyebut dirinya
Sedulur Sikep, ini menepis anggapan buruk sebutan Samin yang mempunyai arti
buruk di kalangan orang yang belum mengetahui artinya, sedangkan arti Sedulur
sikep sendiri adalah Secara harfiah, istilah sedulur atau wong sikep bermakna
“saudara atau orang bertabiat baik serta jujur.” Ungkapan itu mengacu pada
paguyuban penganut ajaran Samin (Titi Mumfangati, 2004:10).
Kekhasan budaya masyarakat Samin (sedulur sikep) yang unik dikenal
santun dan religi sangat menarik kita kaji ketika kita kaitkan dengan kondisi sosial
politik yang terjadi sekarang ini. Dimana proses demokratisasi yang sedang berjalan
di negara ini sudah berjalan cukup lama terlebih setelah terjadinya reformasi pada
tahun 1998. Dimana setelahnya reformasi terjadi di negeri ini, mengakibatkan
terjadinya perubahan yang cukup mendasar bagi perundang-undangan bangsa
Indonesia. Terutama perubahan Undang-Undang mengenai pemerintahan daerah.
Sehingga masyarakat yang ada diakar rumput terlibat secara langsung didalam
menentukan pemimpin yang akan memimpin negara ini maupun pimpinan daerah
secara khususnya.
Ajaran hidup yang unik dari masyarakat Samin yang ditanamkan bagi
generasi penerusnya merupakan doktrin dari orang tua (terutama bapak) sejak lahir
dengan bekal teladan baik (uswatun khasanah) untuk keluarga dan masyarakatnya.
Adapun ajaran hidup masyarakat samin dukuh mbombong desa Baturejo
Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati meliputi: Kudu weruh te’e dhewe, lugu, lan
mligi.
Kudu Weruh Te’e dhewe: harus memahami kepemilikannya sendiri
maksudnya untuk membedakan antara milik pribadi dengan milik orang lain
sehingga ketika memanfaatkan suatu barang atau lainnya harus berdasarkan
kepemilikannya pribadi dan jika menggunakan (meminjam) milik orang lain harus
seijinnya.
Lugu; dapat di beri makna konsisten maksudnya jika mengadakan perjanjian
hanya dua pilihan (jawaban) antara iya dan tidak, hal ini dengan harapan tidak
menimbulkan kekecewaan pihak lain jika jawaban dengan realitas kontradiktif. Mligi;
dapat diberi tafsiran konsekuan atau bertanggung jawab dengan prinsip hidup yang
telah di peganginya sekaligus meninggalkan pantangan hidup.
Tidak mendidik melalui pendidikan formal merupakan langkah yang dianggap
tidak lazim dalam pandangan masyarakat diluar warga Samin, ditengah kondisi era
yang seperti sekarang ini tidak mendidik anak melalui lembaga formal. Harapan
yang tersirat dengan pola ini adalah adanya kekhawatiran jika mendidik anak
dengan pendidikan formal, anak akan memperoleh ijazah yang dapat dipergunakan
sebagai syarat menjadi tenaga kerja di luar pertanian bahkan menjadi tenaga kerja
dengan meninggalkan komunitasnya.
Tidak diperbolehkan berpakaian secara umum; misalnya celana panjang dan
berpeci; hal ini lebih bertendensi pada semangat primordialisme kelompok, mereka
memiliki pakaian “khas” berupa suwal (celana yang panjangnya dibawah lutut),
udeng (iket kepala), dan bebhet (sarung). Warna khas sebagai pakaian
kebesarannya adalah hitam dan jika bertani menggunakan pakaian seperti
bercaping, berkaos, atau berpakaian seperti lazimnya masyarakat nonsamin ketika
ke lading, selanjutnya adalah menemukan barang (petil-jumput), merupakan prinsip
yang dipegangi dengan adanya larangan menemukan barang dan Pantangan akhir
adalah mencuri (bedhok-colong), apalagi mencuri, menemukanpun merupakan
pantangan. Sehingga watak hidup ideal masyarakat jawa dalam analisis Darmanto
Jatman (2000:22-35) adalah arif, jujur, mawas diri, ikhlas, eling, satriyo, sikap
hormat, rukun, rasa, aku, dan ramah, dari sebelas watak itu pun dimiliki warga
Samin.
A.1 METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
kualitatif yaitu proses memahami masalah sosial atau manusia berdasarkan
penciptaan gambaran secara holistik lengkap yang dibentuk dengan kata-kata,
melaporkan pandangan informan secara terperinci dan disusun dalam latar ilmiah.
Serta data yang dikumpulkan berupa kata-kata atau kalimat atau gambar atau tabel.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Menurut
Muhajir analisis studi kasus menyangkut objek-objek seperti: laju perkembangan
dalam arti kecendrungan, pola, dan juga ketidakteraturan dan penyimpangan, tingkat
kedewasaan, dalam arti tampilan perilaku dan integrasinya, karakteristik pribadi,
mempelajari masa lampaunya untuk membuat diagnosis dan mencari faktor
penyebab, dan memprediksikan masa depannya, membuat prognosis berdasar
asumsi stabilitas perkembangannya (Muhajir, 61: 2000).
Cara memperoleh data dalam penelitian ini digunakan purposive sampling
dimana peneliti cenderung memilih informan yang dianggap mengetahui dan dapat
dipercaya untuk menjadi sumber data namun demikian informan yang dipilih dapat
menunjukan informan lain yang lebih tahu (snowball) maka pilihan informan dapat
berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kemantapan peneliti dalam memproleh
data.
Metode dalam pengumpulan data dalam penelitian ini dengan cara
wawancara mendalam dilakukan secara informal yang dapat dilakukan pada waktu
atau konteks yang dianggap tepat guna mendapatkan data yang mempunyai
kedalaman dan dapat dilakukan berkali-kali sesuai dengan keperluan peneliti.
Teknik ini dimaksudkan agar peneliti mampu mengeksplorasi data dari
informan yang bersifat data, nilai, makna dan pemahaman yang belum terungkap,
cara pengambilan informasi yang dilakukan dengan tanya jawab yang bersifat
informal dengan informan.
Dokumentasi dapat berupa surat, memoranda, agenda, pengumumanpengumuman,
catatan rapat, proposal, progress report, laporan studi yang pernah
dilakukan di tempat yang sama, kliping berita, dan juga artikel di media masa yang
relevan. Dalam penelitian ini didokumentasikan data-data yang didapat juga dari
agenda-agenda kegiatan tradisi masyarakat Samin.
Observasi dilakukan untuk memperoleh data melalui pengamatan terhadap
fenomena sosial yang menjadi kajian dalam penelitian, observasi atau pengamatan
langsung merupakan metode pengumpulan data dimana peneliti melakukan
pengamatan secara langsung terhadap fenomena sosial yang terjadi di lokasi
penelitian untuk mendapatkan data yang bersifat tindakan atau tingkah laku seharihari.
Observasi atau pengamatan ini dimaksudkan sebagai pengumpulan data
secara selektif. Menurut Lincoln dan Guba (1985 dalam Ruslan: 2004: 33)
A.2 Sumber dan Jenis Data
a. Sumber Data
Dalam penelitian ini beberapa informan awal dipilih secara purposive atas
dasar pertimbangan bahwa informan yang dipilih memang benar-benar memahami
permasalahan yang akan diteliti, seperti ketua Adat (Pemangku adat), Kepala Desa
dan perangkatnya yang didalamnya sekretaris desa sampai kepada ketua RW dan
RT di Desa Baturejo serta masyarakat setempat.
b. Jenis Data
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh dari responden sebagai
sumber utama yang dijadikan sasaran penelitian yakni, Kepala Desa
Baturejo beserta perangkatnya, ketua RW, ketua RT, dan ketua adat
(pemangku adat).
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari arsip-arsip atau
dokumen-dokumen yang relevan dengan permasalahan penelitian untuk
melengkapi dan memperjelas data primer. Data sekunder dapat berupa
data penduduk masyarakat Samin Dukuh Mbombong di Desa Baturejo
kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati.
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian adalah melalui tahapan
sebagai berikut: (1) Pengumpulan data; (2) Reduksi data; (3) Penyajian data; (4)
Penarikan Kesimpulan/Verifikasi.
B. PEMBAHASAN
B.1 Budaya Masyarakat Samin (Sedulur Sikep)
Berbicara masalah budaya politik tentunya tidak akan terlepas dari tinjauan
perilaku dan pertisipasinya terhadap fenomena-fenomena politik yang berkembang
baik dalam sekala lokal maupun nasional. Maka demi mengetahui budaya politik
yang berkembang pada masyarakat Samin (Sedulur Sikep).
Disamping memperhatikan mengenai persepsi para informan terhadap
kebudayaan yang ada di masyarakat Samin (Sedulur Sikep), peneliti juga
menanyakan hal-hal mengenai persepsi para informan terhadap perkembangan
perpolitikan yang berkembang di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.
Dari penjelasan yang disampaikan oleh informan kepada peneliti dapat kita
lihat persepsi masyarakat Samin mengenai perpolitikan yang berkembang di
Indonesia adalah berbagai persepsi yang mereka kemukakan. Dari hasil wawancara
yang sempat dilakukan menegaskan bahwa mereka mengakui akan perkembangan
perpolitikan yang berlangsung di negara Indonesia ini sudah cukup maju. Menurut
mereka perkembangan perpolitikan bangsa ini sudah cukup maju hal itu terlihat dari
perkembangan demokrasi yang dijalankan oleh bangsa ini sehingga dalam proses
pemilihan pimpinan negara bahkan sampai tingkatan daerah langsung dipilih oleh
rakyat.
Selain itu mereka juga berpendapat bahwa kemajuan perpolitikan Negara
Indonesia ini sudah sekian berubah dari apa yang mereka tahu sebelumnya. Namun
meskipun demikian mereka beranggapan bahwa kemajuan yang ada kurang begitu
terasa terhadap perubahan yang mereka inginkan.
Perilaku politik merupakan produk sosial sehingga untuk memahaminya
diperlukan dukungan konsep dari beberapa disiplin ilmu. Di dalam memahami
perilaku politik tidak hanya menggunakan konsep politik saja, tetapi juga didukung
konsep ilmu-ilmu sosial lainnya. Hal itu menunjukan bahwa ilmu politik tidak
merupakan disiplin ilmu yang berdiri sendiri tetapi memiliki hubungan erat dengan
disiplin ilmu yang lainnya. Sehingga sebagai manifestasi sikap politik, perilaku politik
tidak dapat dipisahkan dari budaya politik yang oleh Almond dan Verba diartikan
sebagai suatu sikap orientasi yang khas warga negara terhadap sistem politik dan
aneka ragam bagiannya. (Sudijono.1995: 36).
Untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku politik
masyarakat, pertama-tama perlu dipahami dalam konteks latar belakang historis.
Sikap dan perilaku politik. Faktor yang memberikan pengaruh dalam perilaku politik
masyarakat selanjutnya adalah kondisi geografis. Faktor geo-politik memiliki
implikasi dalam perilaku politik masyarakat sekaligus mempengaruhinya. Indonesia
yang merupakan wilayah dengan letak geografisnya yang potensial dapat
merupakan pertimbangan strategis bagi dunia internasional untuk mengadakan kerja
sama dan hubungan dalam berbagai kepentingan. Faktor lain yang memiliki
pengaruh dalam perilaku politik masyarakat adalah budaya politik.
Perilaku politik masyarakat selain dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut, juga
dipengaruhi oleh agama dan keyakinan. Agama telah memberikan nilai-nilai etika
dan moral politik yang memberikan pengaruh bagi masyarakat dalam perilaku
politiknya. Keyakinan dan agama apapun merupakan pedoman dan acuan yang
penuh dengan norma-norma dan kaidah-kaidah yang dapat mendorong dan
mengarahkan perilaku politik sesuai dengan agama dan keyakinannya.
Berdasarkan dari uraian diatas mengenai konsep-konsep dalam
memperhatikan perilaku politik masyarakat, Selain perilaku politik, didalam mengkaji
budaya politik masyarakat Samin (Sedulur Sikep), peneliti juga memperhatikan
tingkat partisipasi politik masyarakat tersebut. Didalam mempelajari tingkat
partisipasi politik masyarakat Samin (Sedulur Sikep), peneliti menggunakan konsep
Weimer yang dikutif oleh Sudiijono Sastroatmodjo (1995: 81) sebagai berikut:
1. Adanya modernisasi.
2. Terjadinya perubahan struktur-struktur kelas sosial.
3. Pengaruh kaum intelektual dan meningkatnya komunikasi massa.
4. Adanya konflik pemimpin-pemimpin politik.
5.Keterlibatan pemerintah yang semakin meluas dalam urusan Sosial, Ekonomi, dan
Kebudayaan.
Dari faktor-faktor itulah kita bisa melihat tingkat parisipasi politik masyarakat
Samin yang berkembang sampai saat ini. Maka didalam menentukan jenis
partisipasi politik masyarakat Samin, peneliti menggunakan teori yang diungkapkan
oleh Milbrath dan Goel yang dikutif oleh Sudiijono Sastroatmodjo (1995:74 -75)
bahwa partisipasi politik terbagi dalam beberapa kategori yang diantaranya sebagai
berikut :
1. Apatis, yaitu orang yang menarik diri dari proses politik.
2. Spektator, yaitu yang berada pada kategori pasif yang setidak-tidaknya pernah
ikut dalam pemilu.
3. Gladiator, yaitu orang-orang yang secara aktif terlibat dalam prosses politik, yakni
sebagai komunikator dengan tugas khusus mengadakan kontak tatap muka,
aktivis partai, dan pekerja kampanye, serta aktivis masyarakat.
4. Pengkritik, yaitu orang-orang yang berpartisipasi dalam bentuk yang tidak
konvensional seperti mengadakan demonstrasi, memberikan ancaman, mogok
kerja dan sebagainya.
Maka berdasarkan hasil penelitian bahwa masyarakat Samin (Sedulur Sikep)
mengenai bentuk partisipasi politik yang berkembang pada mereka adalah
partisipasi politik spectator. Hal itu terlihat dari hasil penelitian peneliti terhadap
warga masyarakat Samin (Sedulur Sikep) dan ternyata setelah digali lebih
mendalam, sebagian besar dari warga bahkan bisa dikatakan seluruh warga disana
mangikuti proses politik yang berkembang saat ini termasuk dalam pemilihan
umum. Namun meskipun mereka mengikuti proses pemilihan umum, mereka tetap
berpendapat bahwa yang mereka lakukan bukan untuk mendukung atau tidak
mendukung pihak manapun, dalam artian mereka bisa dimasukan pada partisipasi
politik pasif seperti diungkapkan oleh Milbrath dan Goel yang dikutif oleh Sudijono
Sastroatmodjo (1995:74-75).
Dengan demikian perilaku politik dan partisipasi politik masyarakat kita bisa
menentukan jenis budaya politik yang ada dalam masyarakat tersebut. Demikian
pula budaya politik apa yang ada dan berkembang pada masyarakat Samin
(Sedulur Sikep). Berdasarkan teori yang berkembang mengenai budaya politik
terutama yang dikemukakan oleh Almond dan Verba mendefinisikan budaya politik
sebagai suatu sikap orientasi yang khas warga negara terhadap sistem politik dan
aneka ragam bagianya,
Budaya politik yang ada pada masyarakat Samin (Sedulur Sikep) termasuk
kedalam kebudayaan politik subjek parokial (The Parochial Subject Cultur). Tipe
budaya politik seperti ini merupakan campuran dari budaya politik parokial dengan
budaya politik subjek. Dimana orientasi dalam tipe ini lebih bersifat afektif dan
normatif daripada kognitif. Hal itu dibuktikan dengan masih kentalnya nuansanuansa
tradisionalisme yang disertai dengan tradisi-tradisi leluhur yang melekat kuat
pada diri warga masyarakat Samin (Sedulur Sikep).
Budaya politik seperti ini terjadi karena didalamnya terdapat individu-individu
yang aktif dalam politik, tetapi banyak pula yang mengambil peranan subjek yang
lebih aktif. Dengan demikian hal itu berarti bahwa warga yang aktif melestarikan
ikatan-ikatan tradisional dan nonpolitik, dan peranan politiknya yang lebih penting
sebagai seorang subjek. Oleh karena itu, dapat ditegaskan bahwa orientasi warga
masyarakat Samin (Sedulur Sikep) menggusur orientasi subjek dan parokial.
B.2 Pengaruh Kebudayaan yang Diwariskan Oleh Leluhur Masyarakat Samin
(Sedulur Sikep) Terhadap Budaya Politik Saat Ini
Membicarakan mengenai pengaruh dari kebudayaan yang berkembang
terhadap budaya politik masyarakat Samin (Sedulur Sikep) dapat kita pelajari dari
keseharian warga masyarakat Samin (Sedulur Sikep) serta pandangan mereka
terhadap fenomena politik yang terjadi di negara ini. Mereka berpandangan bahwa
perjalanan kebudayaan ini adalah sebuah anugrah yang diwariskan oleh leluhur
mereka secara turun-temurun.
Masyarakat Samin (Sedulur Sikep) yang ada di Kabupaten Pati, kita dapat
mengetahui bahwa unsur-unsur kebudayaan (sistem pengetahuan) yang dimiliki
suatu komunitas masyarakat kecil akan berbeda bila dibandingkan dengan
komunitas masyarakat yang lebih besar. Hal itu disebabkan karena kebudayaan
dipandang sebagai sesuatu yang bersifat dinamis, bukan sesuatu yang bersifat kaku
atau statis. Demikian pula pengertian tentang kebudayaan, bukan lagi sebagai
sekumpulan barang seni atau benda-benda, tapi kebudayaan akan selalu dikaitkan
dengan gerak hidup manusia dalam kegiatannya, seperti membuat peralatan hidup,
norma-norma, sistem pengetahuan, sistem jaringan sosial, kehidupan ekonomi,
sistem religi atau kepercayaan, adat istiadat, serta seperangkat aturan yang masih
didukung oleh masyarakat tersebut.
Ketentuan-ketentuan adat seperti pamali, tabu atau lebih dikenal lagi dengan
sebutan pantangan dan sebagainya hanya berlaku bagi orang-orang di lingkungan
masyarakat adat sendiri. Bentuk-bentuk penyeimbang lainnya dapat dilihat dari nilainilai
yang terdapat dalam ungkapan sehari-hari sebagai pedoman hidupnya
khususnya untuk masyarakat Samin (Sedulur Sikep), seperti yang tertuang dalam
tiga kata: amanat, wasiat, dan akibat.
Kelestarian budaya masyarakat Samin dapat diukur dari potret kesahajaan
hidup dalam menghadapi gelombang modernisasi. Mereka hidup dalam
kesederhanaan, akan tetapi di balik kesederhanaan itu tercermin kebebasan dan
kearifan yang sangat dalam. Sistem pengetahuan tradisionalnya adalah gambaran
kekayaan batin mereka, dan itu merupakan barometer betapa tinggi budaya mereka,
sehingga merupakan panutan bagi masyarakatnya.
Sejalan dengan kehidupan dewasa ini, sebagian dari masyarakat adat
mampu berintegrasi dengan situasi dan kondisi masyarakat di luar. Dalam
kehidupan sehari-hari, dewasa ini sudah mulai menerima bentuk-bentuk perubahan.
Bentuk perubahannya tidak mendasar ke dalam bentuk tradisi, misalnya dengan
kehadiran TV.
Budaya politik yang terdapat dalam masyarakat Samin merupakan sistem nilai
dan keyakinan yang dimiliki bersama oleh masyarakat terutama Samin (Sedulur
Sikep) Dukuh Mbombong Desa Baturejo Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati.
Budaya politik merupakan refleksi terhadap orientasi, sikap dan perilaku masyarakat
dalam merespons setiap objek dan proses politik yang telah, sedang dan akan
terjadi.
Pada dasarnya masyarakat Samin (Sedulur Sikep) dukuh Mbombong Desa
Baturejo Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati memiliki kecenderungan kearah tipe
budaya politik parokial-partisipan (the parochial-participant political culture), yang
mengarah pada budaya politik ini adalah masyarakat Samin asli yang di luar dukuh
mbombong desa Baturejo Kecamatan Sukolilo yang masih mempertahankan adat.
Masyarakat Samin (Sedulur Sikep) asli dalam hal kognitifnya sudah lebih maju yakni
didalam segi pendidikan yang mereka peroleh sudah ada namun belum begitu
paham dalam berpartisipasi untuk hal kenegaraan mereka telah lakukan seperti
yang sudah dijabarkan dalam hasil penelitian masyarakat Samin asli telah
melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara yang baik dan patuh pada
aturan hukum negara Indonesia yakni contohnya melaksanakan pemilukada ulang
Bupati Pati. (dalam Almond dan Verba, 1990: 27), ada tiga tipe budaya politik yaitu:
a. Budaya politik subyek-parokial (the parochial- subject culture)
b. Budaya politik subyek-partisipan (the subject-participant culture)
c. Budaya politik parokial-partisipan (the parochial-participant culture)
Dengan demikian budaya politik masyarakat Samin desa Baturejo
kecamatan Sukolilo kabupaten Pati terdapat 2 bentuk budaya politik, yaitu:
1. Budaya Politik parokial-partisipan (The parochial-participant political
culture)
Mengenai budaya politik parokial merupakan tipe budaya politik yang
paling rendah, mereka lebih mengidentifikasikan dirinya pada perasaan
loyalitas. Tidak terdapat kebanggaan terhadap sistem politik tersebut. Mereka
tidak memiliki perhatian terhadap apa yang terjadi dalam sistem politik,
pengetahuannya sedikit tentang sistem politik, dan jarang membicarakan
masalah-masalah politik.
Budaya politik ini juga mengindikasikan bahwa masyarakatnya tidak
memiliki minat maupun kemampuan untuk berpartisipasi dalam politik. Perasaan
kompetensi politik dan keberdayaan politik otomatis tidak muncul, ketika
berhadapan dengan institusi-institusi politik.
Dalam hal kondisi masyarakat dalam budaya politik partisipan mengerti
bahwa mereka berstatus warga negara dan memberikan perhatian terhadap
sistem politik. Mereka memiliki kebanggaan terhadap sistem politik dan memiliki
kemauan untuk mendiskusikan hal tersebut. Mereka memiliki keyakinan bahwa
mereka dapat mempengaruhi pengambilan kebijakan publik dalam beberapa
tingkatan dan memiliki kemauan untuk mengorganisasikan diri dalam kelompokkelompok
protes bila terdapat praktik-praktik pemerintahan yang tidak fair.
Budaya politik partisipan merupakan lahan yang ideal bagi tumbuh
suburnya demokrasi. Hal ini dikarenakan terjadinya harmonisasi hubungan
warga negara dengan pemerintah, yang ditunjukan oleh tingkat kompetensi
politik, yaitu menyelesaikan sesuatu hal secara politik, dan tingkat efficacy atau
keberdayaan, karena mereka merasa memiliki setidaknya kekuatan politik yang
ditunjukan oleh warga negara. Oleh karena itu mereka merasa perlu untuk
terlibat dalam proses pemilu dan mempercayai perlunya keterlibatan dalam
politik.
2. Budaya Politik Subyek-Parokial (The parochial-subject political culture)
Budaya Politik subyek lebih rendah satu derajat dari budaya politik
partisipan. Masyarakat dalam tipe budaya ini tetap memiliki pemahaman yang
sama sebagai warga negara dan memiliki perhatian terhadap sistem politik,
tetapi keterlibatan mereka dalam cara yang lebih pasif.
Budaya Politik parokial merupakan tipe budaya politik yang paling rendah,
mereka tidak memiliki perhatian terhadap apa yang terjadi dalam sistem politik,
pengetahuannya sedikit tentang sistem politik, dan jarang membicarakan
masalah-masalah politik.
Hal ini dapat dipahami dari berbagai hal pertama, dilihat dari tingkat
pendidikan, masyarakat tidak memiliki tingkat pendidikan yang cukup untuk
dapat dan mampu memberikan aksi dan reaksi terhadap sistem politik. terdapat
dua bentuk budaya politik karena masyarakat Samin memiliki dua komunitas
masyarakat yakni komunitas masyarakat Samin asli yang tinggal didukuh
Mbombong dan masyarakat Samin diluar dukuh Mbombong.
Melihat kesederhanaan kehidupan masyarakat Samin, serta ketat dan
kuatnya pelaksanaan hukum adat, taatnya dan teguhnya keyakinan mereka
terhadap agama Adam kepercayaannya serta karakteristik tanah adat yang
tidak boleh di ubah, ditambah menutup diri dari pengaruh buruk budaya modern,
kemudian membayangkan apa mungkin masyarakat Samin berpartisipasi dalam
hubungan hidup bermasyarakat, dan bernegara.
Bagi masyarakat Samin politik secara umum tidak memahami dan tidak
pernah belajar politik, tetapi yang kami rasakan adalah bahwa kalau masyarakat
adat tidak ikut berpolitik atau menghindari politik akan rugi dan sebaliknya bila
masyarakat Samin berpolitik juga akan sangat rugi. Pertimbangannya masyakat
Samin akan dijadikan tempat rebutan/persaingan oleh para partai politik
sehingga kemandiriannya atau kesatuan akan terpecah dan situasi begitu
mereka pandang antara rugi dan ragu. Dalam sejarahnya tidak bisa berpihak
pada satu partai atau golongan atau pihak manapun..
C. PENUTUP
Berdasarkan hasil pembahasan terhadap hasil penelitian yang telah
dilaksanakan pada masyarakat Samin (Sedulur Sikep) di dukuh Mbombong desa
Baturejo Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah, bahwa
komunitas masyarakat petani asli jawa ini mempunyai budaya adiluhung yang dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Budaya masyarakat Samin (Sedulur Sikep) merupakan suatu budaya unik ,
Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa. Kebudayaan
adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa tersebut karena dalam budaya masyarakat
Samin ini terjadi proses pendidikan dari orang tua kepada anak yang berlangsung
secara terus-menerus dan turun-temurun tanpa melalui dunia sekolah.
Menyekolahkan anak di lembaga sekolah merupakan suatu larangan dalam
ajaran yang diyakini oleh masyarakat Samin (Sedulur Sikep). Hal ini disebabkan
karena persepsi masyarakat Samin (Sedulur Sikep) mengenai lembaga sekolah.
Menurut mereka, pada zaman dulu sekolah merupakan suatu lembaga yang di
buat dan didirikan oleh Belanda.
2. Budaya politik masyarakat Samin (Sedulur Sikep) adalah budaya politik yang
masuk pada kategori kebudayaan subjek parokial (The Parochial Subject Cultur).
Tipe budaya politik seperti ini merupakan campuran dari budaya politik parokial
dengan budaya politik subjek. Dimana orientasi dalam tipe ini lebih bersifat afektif
dan normatif daripada kognitif. Hal itu didapat dari hasil penelitian mengenai
perilaku politik masyarakat Samin (Sedulur Sikep) yang kental dengan pengaruh
historis yang diturunkan secara turun-temurun dan dikawal dengan norma-norma
agama yang kuat. Selain perilaku politik juga memperhatikan tingkat partisipasi
politik masyarakat Samin (Sedulur Sikep), Sehingga dari kedua kajian tersebut
kita bisa melihat bentuk budaya politik yang berkembang di masyarakat Samin
(Sedulur Sikep) tersebut.
3. Mengenai pengaruh kebudayaan terhadap budaya politik masyarakat Samin
(Sedulur Sikep) dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan asli yang dipegang
warga masyarakat Samin (Sedulur Sikep) sangat berpengaruh terhadap budaya
politik yang berkembang pada masyarakat tersebut. Hal itu terlihat dari pola
pandang mereka terhadap proses politik yang berkembang di negara ini disikapi
dengan biasa-biasa saja. Hal itu menunjukan pengaruh kebudayaan lebih kuat
dari pada pengaruh kemajuan politik yang berkembang di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Alfian. 1991. Komunikasi Politik dan Sistem Politik Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Almond, Gabriel A. dan Sidney Verba. 1984. Budaya Politik Tingkah Laku Politik dan
Demokrasi di Lima Negara. (terjemahan Sahat Simamora). Jakarta: Bina Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka
Cipta.
Arrianie, Lely. 2010. Komunikasi Politik, Politisi dan Pencitraan di Panggung Politik. Jakarta:
Widya Padjadjaran.
Basrowi. 2005. Pengantar Sosiologi. Bogor: Ghalia Indonesia.
Budiardjo, Miriam. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Budiningsih, Asri, C. 2004. Pembelajaran Moral Berpijak Pada Karakteristik Siswa dan
Budayanya. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Faturahman, Deden dan Wawan Subari. 2002. Pengantar Ilmu Politik. Malang: Universitas
Muhammadiyah Malang.
Gaffar, Afan. 2006. Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Joko Tri Prasetya.1998. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta:PT Rineka Cipta
Kantaprawira, Rusadi. 2006. Sistem Politik Indonesia Suatu Model Pengantar. Bandung:
Sinar Baru.
Kavanagh, Dennis. 1982. Kebudayaan Politik (terjemahan Laila Honoum Hisyam). Jakarta:
Bina Aksara.
Koencoroningrat.2007. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan
Maran, Raga Rafael. 2007. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
Mas’Oed, Mohtar dan Colin Mac Andrews. 1990. Perbandingan Sistem Politik. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press.
Mawardi. 2007.. IAD. ISD. IBD. Bandung : Pustaka Setia
Milles, Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: PT Rineka Cipta Indonesia Press
Moleong, Lexy J. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Muhajir. 2000. Metodologi penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Karasin
Narwoko, Dwi J. 2006. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana Prenada
Media Group.
P. J. Bouman. 1976. Sosiologi : pengertian-pengertian dan masalah-masalah.Jogyakarta:
Yayasan Kanisius
Rahardjo, Djoko Mudji dan Rahayu Yuke Sri. 2002. Urang Kanekes di Banten Kidul. Jakarta:
Proyek pemanfaatan Kebudayaan Direktorat Tradisi dan Kepercayaan Deputi Bidang
Pelestarian dan Pengembangan Budaya Badan Pengembangan Kebudayaan dan
Pariwisata.
Rush, Michael dan Phillip Althoff. 1993. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta: Grafindo
Persada.
Sastroatmodjo, Sudijono. 1995. Perilaku Politik. Semarang: Ikip Semarang Press.
Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Soeryabrata, 1996.
Sumarno. 1989. Dimensi-dimensi Komunikasi Politik. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Suryani, Elis. 2008. Kamus Bahasa dan seni Budaya Sunda Buhun. Bandung: Dzulmar IAZ
Print.
Sztompka, Piӧtr. 2007. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada.
Titi, Mumfangati. 2004. Kearifan Lokal di Lingkungan Masyarakat Samin kabupaten Blora
Jawa Tengah. Yogyakarta: Jarahnitra
Jurnal Ilmiah
Ngabiyanto, dkk. “Bunga Rampai Politik dan Hukum”. Semarang: Rumah Indonesia.(2006),
hlm. 20-33
Sumarno, “Integralistik” Semarang: rumah Indonesia (2005), hlm. 20-22
Tesis, Paper
Sofy Nurhayati, Skripsi
Lain-lain
Hartiningsih, Maria. (2012. 5.4). Sedulur Sikep Merawat Bumi. Kompas.Fokus. 1




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s