SUNGAI SARASWATI-NYA JAWA

SUNGAI SARASWATI-NYA JAWA
mengenai Candi Prambanan di Pertemuan 2 Sungai

Keberadaan Sungai Opak dan sungai yang dulu pernah ada yang terbentuk dari sesar kecil yang terdeteksi pada saat gempa Yogyakarta 2006 di sepanjang Candi Prambanan ke arah timur menuju daerah Gantiwarno, Klaten merupakan bagian penting terhadap keberadaan Candi Prambanan sebagaimana keberadaan Sungai Gangga dan Sungai Yamuna di India terhadap bangunan suci di sekitarnya.
Dengan menggunakan sudut pandang pemilihan tempat pembangungan Candi Prambanan sebagaimana postingan saya sebelumnya maka diperkirakan sungai yang terbentuk dari jalur gempa Prambanan-Gantiwarno tersebut mengalir dari timur ke arah barat menuju aliran Sungai Opak yang letaknya tepat di bawah bangunan Candi Prambanan.
Sehingga keberadaan pertemuan 2 sungai tersebut keadaanya menyerupai pertemuan antara sungai Yamuna di India yang mengalir menuju Sungai Gangga yang disebut sebagai “sangam”.
Pada tempat “sangam” antara Gangga dan Yamuna di India terdapat sebuah tempat bernama Allahabad, Allahabad sendiri dahulunya merupakan tempat yang bernama Prayag.

Berdasarkan data wikimedia yang Prayag berarti “tempat meminta (berkah)”, tempat ini merupakan tempat kuno yang disebutkan di Veda sebagai tempat pertama kalinya Dewa Brahma menerima persembahannya. Di perjalanan sejarahnya Prayag dikuasai oleh Kekasisaran Mughal dan diganti namanya menjadi Ilahabad yang dalam bahasa Persia bermakna “kota Allah”, dan setelahnya, oleh penjajahan Inggris Illahabad lebih sering disebut Allahabad hingga sekarang.

Prayag sampai sekarang masih dipergunakan sebagai salah satu tempat penyelenggaraan prosesi sakral Maha Kumbhamela yang dilaksannakan sekitar 12 tahun sekali berdasarkan konstelasi benda langit.

Sebagaimana yang disebutkan di Veda bahwa di India terdapat 3 sungai utama yang mengalir yaitu Gangga, Yamuna dan Saraswati kemungkinan 3 sungai tersebut masih ada ketika Allahabad bernama Prayag.
Namun setelah itu dari 3 sungai tersebut tinggal 2 sungai yang ada secara fisik karena Sungai Saraswati tidak diketahui lagi sehingga bagi kaum Hindu di India Sungai Saraswati sering dianggap sebagai sungai mistis.

Merujuk info Wikimedia, para ahli di India berusaha memecahkan teka-teki keberadaan Sungai Saraswati,sebagai acuan mereka, penyebutan bahwa Sungai Saraswati mengalir dari pegunungan dan berakhir di laut (Rgweda VII.95.2). Dengan teknologi fotografi satelit para pakar mendapatkan jejak bahwa Sungai Saraswati dahulunya memang pernah ada di India, namun sekarang telah hampir tidak dikenali lagi karena telah lama mengering serta mengalami perubahan bentuk. Jejak sungai itu masih bisa diamati, yaitu di sekitar Pegunungan Himalaya melintasi pinggiran Gurun Thar (melewati beberapa negara) dan berakhir di Teluk Benggala.
Diperkirakan sungai ini mengering akibat gempa yang sangat besar, dan dimungkinkan bahwa gempa yang sama pula yang membuat peradaban sepanjang Lembah Sungai Indus berakhir (migrasi kaum Arya)

Bagaimana dengan di Jawa?
Dengan jejak sesar gempa tersebut yang diindikasikan dulu pernah membentuk sungai (sebut saja Sungai Gantiwarno) yang mengalir menuju Sungai Opak, menghasilkan titik pertemuan 2 sungai sebagaimana “sangam” nya Gangga-Yamuna, jika Prayag berada di pinggiran sangam/tempuran sungai, maka Candi Prambanan justru dibangun di tengahnya sangam/tempuran Sungai Opak dan Sungai Gantiwarno dengan membelokkan aliran Sungai Opak sehingga membentuk kolam besar di sekelilingnya.

Jika di India ada 3 sungai utama yaitu Gangga, Yamuna dan Saraswasti, sementara di sekitar Candi Prambanan telah disebutkan bahwa Sungai Opak sebagai Sungai Gangga-nya Jawa dan Sungai Gantiwarno sebagai sungai Yamuna-nya Jawa, lantas di mana dengan Sungai Saraswati-nya Jawa?

Mencermati beberapa sungai lain di sekitar Candi Prambanan selain Sungai Opak dan Sungai Gantiwarno, terdapat 2 sungai yang sekiranya bisa menjadi pertimbangan mengenai yang mana sekiranya Sungai Saraswati-nya Jawa, yaitu: Sungai Bengawan Solo di sebelah timur yang saat ini bermuara di Gresik, Jawa Timur dan Sungai Progo di sebelah barat yang bermuara di Kulon Progo, DIY.
Akan tetapi, jika mencermati alur sejarah hilangnya Sungai Saraswati di India nampaknya indikasi Sungai Progo sebagai Sungai Saraswati-nya Jawa kemungkinannya sangat kecil, karena sepanjang sejarah Sungai Progo tidak mengalami kekeringan sebagaimana Sungai Saraswati di India.

Secara pribadi saya lebih condong kepada Sungai Bengawan Solo sebagai Sungai Saraswati-nya Jawa, tapi Bengawan Solo yang saya maksud bukanlah sungai yang saat ini mengalir ke utara dan bermuara di wilayah Gresik, Jawa Timur, melainkan Sungai Bengawan Solo Purba yang bermuara di Pantai Sadeng, Gunung Kidul, Yogyakarta.

3 sungai di sekitar gunung kidul
3 wilayah sungai perkiraan

Sungai Bengawan Solo (Purba) memiliki sejarah yang cukup menarik untuk dikaji, Sungai Bengawan Solo yang yang menjadi icon kota Solo saat ini mengalir ke utara menuju Laut Jawa dengan berkelok melintasi beberapa wilayah.

Disebutkan bahwa pada masa 4 juta tahun lalu sungai ini mengalir ke selatan menuju Laut Selatan (Samudra Hindia), kemudian muncul gempa bumi dahsyat sebagai akibat dari proses lempeng bumi Australia menghunjam daratan Pulau Jawa sehingga dasar laut Samudra Hindia di sisi selatan terangkat menjadi daratan baru sepanjang Gunung Kidul (Yogyakarta), Wonogiri(Jawa Tengah) dan Pacitan (Jawa Timur).

Terangkatnya wilayah tersebut membuat muara Sungai Bengawan Solo(purba) yang berada di selatan ikut terangat dan membuat aliran sungainya berbalik berubah arah dari selatan ke utara , sedangkan muara sungai yang terangkat menjadi lembah/cekungan kering karena air Bengawan Solo Purba tidak mampu mengikisnya, sekarang masyarakat menamai lembah kering tersebut sebagai Telaga Suling dan muaranya dikenal sebagai daerah baru bernama Pantai Sadeng.

Hilangnya Sungai Saraswati di dari peta daratan India akibat gempa besar dan terbaliknya aliran Sungai Bengawan Solo Purba dengan keadaan kering di bagian muaranya akibat gempa bumi besar merupakan sebuah kemiripan peristiwa alam yang bisa jadi memiliki makna filosofis yang sam pula.

Sungai yang hilang pada Sungai Saraswati di India dan air yang tidak mengalir ke arah yang semestinya pada Sungai Bengawan Solo di Jaws adalah kesamaan secara sudut pandang filosofis bahwa keduanya tak lagi mensucikan sebagaimana mestinya dengan merujuk kembali pada petikan Rig Veda II. 35.3 yang berbunyi:

“sam anya yanty upa yanty anyah
samanam urvam na-dyah prnanti,
tam u sucim sucayo didivamsam
apam napatam pari tasthur apah”

sejumlah besar air ,bersama dengan yang lainya berkumpul menjadi sungai yang mengalir bersama –sama menuju ke penampungan . air yang murni yang mengalir , baik dari mata air maupun dari laut, mempunyai kekuatan yang menyucikan.

Maka ketika wilayah barat laut India kuno terjadi gempa besar yang mengakibatkan hilangnya aliran Sungai Saraswati yang disucikan terlihat kejadian tersebut membawa konsekuensi besar eksistensi Hindu di atas peradaban India, hilangnya sebuah element kemurnian dan kesucian yang disebutkan di dalam kitab sucinya (Weda).

Mungkinkah peristiwa gempa besar yang menghilangkan Sungai Saraswati adalah titik balik agama Hindu di India? yang mana di perjalanan sejarahnya setelah sungai suci yang disebut berulang kali di kitab sucinya itu justru mengering dan hilang tak berbekas, kemudian diikuti Prayag yang merupakan tempat suci di mana untuk pertama kalinya Dewa Brahma menerima persembahannya juga justru dikuasai oleh Kekaisaran Mughal yang beragama Islam bahkan kemudian dikuasai oleh kerajaan Inggris hingga berubah nama menjadi Allahabad. Kemudian di masa modern Sungai Gangga sebagai sungai suci justru airnya kini dianggap berbahaya bagi kesehatan manusia karena tercemari oleh limbah industry dan limbah rumah tangga dalam tingkatan yang sangat berbahaya serta sisa-sisa upacara kematian yang tidak terbakar sempurna hingga menambah status Sungai Gangga sebagai tempat pembuangan mayat.

Nampaknya semenjak gempa besar yang mengakibatkan hilangnya Sungai Saraswati di India bagian timur laut merupakan pertanda awal pudarnya kecemerlangan India dari sisi Hindu-isme dan bisa jadi kepercayaan mengenai Sungai Saraswati sebagai sungai mistis adalah sebuah upaya religy dan langkah politis untuk mempertahankan eksistensi India terhadap umat Hindu India yang mendominasi masyarakat India dan pengakuan India itu sendiri di peradaban dunia sebagai tempat para dewa bersemayam dalam kebesaran agama Hindu.

Ada sebuah pemikiran yang lugas dari rangkaian perkiraan-perkiraan di atas, sepanjang rentang sejarah yang dimulai dari masa gempa besar yang mengakibatkan hilangnya Sungai Saraswati di India, apakah pembangunan Çiwagrha (Candi Prambanan) di Pulau Jawa merupakan rangkaian upaya pemurnian Hindu di India yang dianggap bahwa para Dewa telah pergi dari “singhasana” yang ditandai dengan ditinggalkankannya India oleh salah 1 sungai sucinya?

Jika Prayag di India adalah tempat Brahma pertama kali menerima persembahan, mungkinkah Çiwagrha di Jawa adalah sebuah langkah besar Rakai Pikatan dalam mempersembahkan istana untuk Dewa Syiwa? Hal ini menarik bukankah dalam literatur mengenai pembentukan tanah Jawa banyak sekali cerita-cerita di sekelilingnya mulai dari:

– Kedatangan Aji Saka seorang manusia dari negeri antah berantah menaklukkan Raja Raksasa yang menghuni Pulau Jawa yang bisa diartikan sebuah migrasi kuno pencarian tempat suci?
– Pemindahan puncak Mahameru dari puncak Himalaya ke atas Gunung Semeru di Pulau Jawa yang bisa diartikan sebagai pembangunan ulang/pemindahan pilar istana para dewa sebagaimana kepercayaan India bahwa para dewa bertahta di Himalaya.
– Penempatan Gunung Merapi sebagai paku tengah Pulau Jawa agar stabil yang bisa diartikan sebagai langkah terusan dalam menyiapkan Pulau Jawa dalam segala jenis kestabilan.

Jika memang demikian adanya maka langkah yang dilakukan para raja sebelum, pada masa pemerintahan Rakai Pikatan –Pramodhawardani dan sesudahnya adalah langkah peradaban manusia yang sangat besar bukan hanya langkah mempertahankan hegemoni kekuasaan Mataram Kuno, melainkan langkah besar suatu dinasty manusia terhadap Tuhannya, sebuah kemuliaan tanpa batas dalam tataran umat manusia.

Hanya saja, rupanya tidak ada yang akan abadi di permukaan bumi. Jika Sungai Saraswati di India bisa mengering dan hilang tanpa jejak maka demikian pula keadaannya di tanah Jawa, sungai yang dicitrakan sebagai Sungai Saraswati nya Jawa mengalami hal yang sama.
Kita ketahui bersama bahwa sejarah Jawa di masa lalu mencatat tentang sebuah proses migrasi besar-besaran dari Kerajaan Mataram Kuno yang terletak di Jawa bagian tengah menuju Jawa bagian timur oleh Raja Mataram Pu Sindok, perpindahan ini hampir berbarengan dengan sebuah proses alam Maha Pralaya, yang diartikan sebagai bencana besar tanah Jawa yang diakibatkan oleh meletusnya Gunung Merapi yang terletak di sisi utara Çiwagrha/Candi Prambanan yang merupakan hulu dari Sungai Opak yang dimanivestasikan sebagai Sungai Gangga nya tanah Jawa.

Beberapa info menyebutkan bahwa di seputar petistiwa Mahapralaya juga terdapat sebuah peristiwa lain yaitu serangan kembali dari Sriwijaya atas Jawa, sepertinya dendam lama perebutan kekuasaan saudara laki-laki Pramodhawardani yang telah menjadi raja Sriwijaya terus saja tumbuh menjadi dendam yang diturunkan sampai beberapa generasi, jika dicermati upaya penyerangan ini dilakukan oleh Sriwijaya pada masa menjelang Mahapralaya adalah upaya menggagalkan persiapan migrasi seluruh isi kerajaan Mataram sehingga akan terjadi keterlambatan penyelamatan dari amukan Mahapralaya.

Jika Mahapralaya disebut sebagai bencana besar berupa Gunung Merapi yang meletus secara besar-besaran yang mampu mengubur penuh puncak candi Sambisari yang notabene terletak lebih ke selatan dari titik Prambanan maka nasib Sungai Gantiwarno jejaknya hilang terkubur material vulkanik dari letusan Gunung Merapi, sehingga hilanglah Sungai Yamuna-nya pulau Jawa, penopang kesucian dari Çiwagrha yang berdiri di “sangam” (tempuran sungai) Gangga-Yamuna nya Jawa.

Pertanyaannya adalah apakah berbaliknya arah aliran Sungai Bengawan Solo Purba dari utara ke selatan menjadi selatan ke utara merupakan bagian dari peristiwa Mahapralaya?

Belajar dari kejadian alam berupa gempa Yogyakarta tahun 2006 lalu bahwa Sungai Opak yang mengalir dari puncak Gunung Merapi menuju ke Laut Selatan(Samudra Hindia) merupakan bentukan dari Sesar Opak yang sewaktu sesar kecil pertemuan antara Sungai Oya(Gunung Kidul) bertemu Sesar Opak mengakibatkan gempa kemudian daya rusaknya mengalir merembet ke utara sampai sekitar Prambanan, Maka pada waktu Mahapralaya terjadi, yang membuat Gunung Merapi meletus hebat apakah benar-benar murni letusan independen dari dalam Gunung Merapi, atau dipicu faktor lain berupa gelombang energy gempa yang sangat dahsyat dari sumber gempa yang sama dengan gempa Yogya 2006.
Dan gempa yang sama yang menjadikan Gunung Merapi meletus secara dahsyat di Mahapralaya jugalah yang membuat Sungai Bengawan Solo Purba berbalik arah ke utara. Dengan demikian muncul perkiaan bahwa proses Mahapralaya (secara kejadian alam) adalah sebuah bencana alam yang dimulai dari gempa bumi besar (megathrust) di Laut Selatan (Samudra Hindia) yang mengakibatkan terangkatnya dasar lautan hingga aliran Sungai Bengawan Solo Purba berbalik arah, kemudian energinya merembet jauh ke utara memaksa Gunung Merapi meletus dengan dahsyat dan materialnya mengubur sebuah peradaban yang sebelumnya telah hancur dilanda gempa besar.

Sehingga jika disamakan dengan penggambaran kejadian hilangnya Sungai Saraswati di India maka kejadian Mahapralaya di Jawa adalah: Gempa besar, Sungai Saraswati nya Jawa berbalik arah, bangunan Prayag-nya Jaws (Candi Prambanan)runtuh di terjang gempa, Gunung Merapi dibanjiri energy gempa kemudian meletus hebat, materi vulkanik Gunung Merapi menutupi segala bentuk bangunan kehidupan Mataram Kuno. Dan jika mau disamakan lebih jauh lagi kepindahan kaum Arya dari sepanjang lembah Indus di India bisa disamakan dengan migrasi besar-besaran Mataram Kuno di bawah kekuasaan Pu Sindok.

—–

Saya menyadari jika kejadian berbaliknya arah atus Sungai Bengawan Solo Purba disebabkan oleh kejadian Mahapralaya pada masa Mataram Kuno tentu akan sangat bertentangan dengan fakta kajian baik kajian mengenai pembentukan daratan sepanjang Gunung Kidul, Wonogiri dan Pacitan,karena berbaliknya arah Sungai Bengawan Solo Purba diperkirakan pada masa empat juta tahun yang lalu, sedangkan pembangunan Candi Prambanan berdasarkan kajian oleh ahli purbakala terjadi di abad 9 masehi.
Dan peristiwa Mahapralaya sebagai titik balik pemindahan pemerintahan dari Jawa bagian tengah ke bagian timur oleh Pu Sindok adalah sekitar abad 11 masehi.

Namun jika dilihat dari pola kejadian hilangnya Sungai Saraswati di India yang memiliki kemiripan dengan proses mengeringnya muara Sungai Bengawan Solo Purba akibat gempa, serta keberadaan Candi Prambanan dalam memilih lokasi pembangunannya yang tidak lazim, menurut saya memiliki celah kemungkinan yang suatu saat bisa dicermati kembali.

Dan dari kemungkinan tersebut setidaknya terbuka pertanyaan baru, apakah kita telah melakukan kesalahan perhitungan waktu sejarah, apakah kita salah menghitung bahwa sebenarnya peristiwa terangkatnya dasar lautan yang membentuk daratan Gunung Kidul, Wonogiri dan Pacitan bukanlah terjadi 4 juta tahun yang lalu tetapi beberapa ratus tahun yang lalu sebagaimana ahli sejarah purbakala menghitung berdasarkan artefak-artefak yang diungkapkannya

ATAU JUSTRU SEBALIKNYA,

Bahwa keberadaan Çiwagrha (Candi Prambanan) di Pulau Jawa tidaklah seumur yang para ahli sejarah purbakala sebutkan melainkan seumuran masa diperkirakan terbentuknya daratan sepanjang Gunung Kidul, Wonogiri dan Pacitan yang ditandai dengan jejak Lembah Bengawan Solo Purba yang berusia 4 juta tahun yang lalu.

Terkait hal tersebut di atas, perlu digaris bawahi bahwa upaya pencarian jejak Sungai Sarawati di India yang menggunakan citra satelit yang menyebutkan bahwa Sungai Saraswati dahulunya memang pernah ada (sekitar 2.500-2.000 tahun sebelum masehi) dan hilang diperkirakan karena gempa bumi yang sangat dahsyat, dan gempa bumi yang sama itu pula yang diindikasikan sebagai pemicu migrasi kaum Arya di peradaban lembah sungai Indus tersebut memicu kontroversi mengenai usia kitab Weda.

Sejarah siapa tahu bisa terulang di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s