Masjid Wotgaleh, petilasan sang panglima perang Mataram

Makam Pangeran Purbaya terletak dibelakang Masjid Sultoni Wotgaleh, tepatnya berada dibarat masjid tersebut. Makam Pangeran Purbaya I terletak berdampingan dengan istrinya, dan berada diselatan makam ibunya. Disebelah barat Makam Pangeran Purbaya I adalah makam Guru Pangeran Purbaya yaitu Kyai Wirasaba. Pangeran Purbaya I merupakan Putra Panembahan Senopati (Raja mataram I). Diselatan makam Pangeran Purbaya I agak ketimur ada makam Pangeran Purbaya II yang diamping sebelah tmur adalah makam 2istri dari Pangeran Purbaya II. Dan diselatan makam Pangeran Purbaya II agak kebarat ada makam Pangeran Purbaya III yang disampingnya ada makam istrinya.

Menurut cerita Pak Jayuli, Pangeran Purbaya adalah Pangeran Perang yang dulu melawan penjajah Belanda. Pangeran Purbaya tidak mudah dikalahkan dengan senjata apapun karena setiap beliau ditembak pun tidak berbekas atau kebal. Suatu ketika ada mata-mata Belanda yang mengetahui bahwa Pangeran Purbaya hanya bisa dikalahkan dengan tembakan dengan kotoran atau najis. Kemudian Pangeran Purbaya secara pelan-pelan dapat diakalahkan dengan cara tersebut, dan jika kotoran itu mengenai kulit Pangeran Purbaya, kulit Pangeran Purbaya sedikit demi sedikit mengelupas dan akhirnya ia dapat dikalahkan. Sepeninggalan Pangeran Purbaya kemudian didekat makam beliau didirikan masjid yang dinamai Wotgaleh yang berarti kulit yang mengelupas dari Pangeran Purbaya. Banyak masyarakat sekitar ataupun dari daerah luar yang sering berziarah dimakam tersebut untuk mendoakan Pangeran Purbaya.

Setelah saya berbincang-bincang dan mengabadikan beberapa foto dimakam tersebut, saya berpamitan pulang dan mengucapkan banyak terimakasih atas informasi tentang Makam Pangeran Purbaya yang telah diceritakan kepada saya oleh Bapak Jayuli selaku petugas atau penunggu makam tersebut.

Di tengah lahan yang ditumbuhi rerumputan, di samping landasan pacu lapangan udara Adisoetjipto, Sleman, Yogyakarta, berdiri Masjid Sulthoni Wotgaleh. Letaknya di sisi selatan landas pacu, di kawasan Sendangtirto, Berbah.

Masjid yang bentuk arsitekturnya mirip Masjid Agung Demak itu, masuk dalam Cagar Budaya Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Masjid Wotgaleh memang berdiri di era yang sama dengan Masjid Demak, Abad 17 Masehi, pada masa pemerintahan Panembahan Senopati Mataram,” kata Syawal, penjaga masjid.

Rappler mengunjungi salah satu masjid yang dikeramatkan oleh sebagian orang ini, pada hari pertama Idul Fitri 1438 H, Minggu 25 Juni. Di masjid ini, terdapat makam Pangeran Purboyo I, atau Pangeran Senopati, putra dari Panembahan Senopati pendiri Kerajaan Mataram dan Rara Lembayung putri Ki Ageng Giring

Ada ratusan makam dari keluarga dan keturunan Pangeran Purboyo, yang nama aslinya adalah Jaka Umbaran, berada di belakang masjid. Pangeran Purboyo I saat muda dikenal dengan nama Raden Mas Damar. Di dikenang sebagai Senopati atau Panglima Perang Kerajaan Mataram di masa Sultan Agung.

Pangeran Purboyo sangat disegani penjajah Belanda. Konon, dia punya ilmu kebal, dan badannya sulit ditembus senjata penjajah.

Cerita turun-temurun yang dipercayai warga sekitar, Pangeran Purboyo I hanya bisa dilukai dengan lemparan kotoran yang sifatnya ‘najis”.

“Kulitnya mengelupas, dilempari kotoran, sehingga disebut Wotgaleh. Wot juga berarti jembatan,” kata Syawal.

Percaya atau tidak percaya, para pengikut Pangeran Purboyo I kemudian membangun masjid untuk melestarikan jejak tauladan Sang Panglima Perang.

Selain digunakan untuk salat, baik di hari besar seperti hari raya Idul Fitri maupun sehari-hari, masjid yang terawat baik dan bersih ini, biasanya ramai dikunjungi peziarah setiap Senin Kliwon, hari kelahiran dan kematian Pangeran Purboyo I. Berikut foto-foto Masjid Sulthoni Wotgaleh:

Misteri Makam keramat dekat lanud adisucipto Dan jatuhnya Pesawat TNI

Ada sebuah makam keramat dekat lanud adisucipto yogyakarta yakni makam Pangeran Purbaya atau Wotgaleh. Disini, diyakakini bahkan oleeh pihak TNI sendiri ada sebuah aturan tak tertulis bagi siapapun penerbang termasuk pilot TNI adisucipto, kalau menerbangkan pesawat dilarang melintas diatas makam keramat ini. Akibatnya? Fatal! Pesawat bisa jatuh.

masjid sulthoni wotgaleh dekat bandara adisucipto

Percaya gak percaya, tapi faktanya demikian. Sebab bukan kali ini saja pesawat jatuh di dekat lokasi makam keramat yang memang dengan dengan lanud adisucipto ini. Hari ini 20 desember 2015, Pesawat TNI T50i Golden Eagle di Lanud Adi Sucipto Yogyakarta yang dilaporkan jatuh pukul 09.40 WIB tadi pagi, pada saat melakukan akrobatik udara. Beberapa orang menduga pesawat ini yang dikemudikan 2 orang awak ini tidak sengaja melintas dimakam keramat tersebut. Penyebab ini memang tidak masuk akal.

Namun faktanya, ini bukan kali pertama pesawat jatuh di daerah ini. tanggal 29 Apr 2011 pesawat latih jenis Gilder 611 juga pernah jatuh di derah ini.

Makam Pangeran Purbaya

Sebagaimana diyakini oleh Letkol Sus (Purn) Heru Sardjono, naas yang menimpa pesawat itu tak lepas dari fakor supranatural yang jauh dari jangkauan akal sehat pada umumnya.

Mantan petinggi Lanud Adisucipto Yogya ini bahkan meyakini ada prosedur lain tak terlulis yang ditabrak sehingga menyebabkan pesawat itu jatuh. ”Bahwa ada faktor human error sebagai salah satu penyabab itu diakui memang iya ada, tapi ada kearifan lokal yang juga tak boleh dipandang dengan sebelah mata. Ini memang tidak rasional tapi itu nyata,” tandas Heru, Jumat (29/4/2011).

Heru Sardjono menjelaskan, terjadinya kecelakaan bisa jadi karena penerbang kurang mengindahkan rambu-rambu kearifan lokal, yakni larangan keras melintas di atas makam Pangeran Purbaya atau Wotgaleh. ”Semua maskapai penerbangan di sini, baik sipil maupun milter, paham betul kalau ada tabu yang tak boleh dilanggar,” jelasnya.

Lebih jauh Heru menjlentrehkan, jauh sebelumnya ada peristiwa serupa yang menimpa pesawat latih jenis Charli, jatuh dan pilotnya menjadi korban. ”Karena Danlanudnya (Marsma TNI AU Purnomosidi) langsung merespon dengan melakukan Jumatan dan berziarah ke makam Wotgaleh, wallahu’alam, bar kuwi yo aman (setelah itu, aman). Sampai saya pensiun, tak ada kabar terdengar pesawat jatuh tuh,” ungkap pria gaek yang kini aktif di sebuah lembaga swadaya masyarakat.

Senada dengan itu. warga Wotgaleh Sendangtirto Berbah Sleman, Andri, juga percaya pesawat jatuh karena melintas di atas makam Pangeran Purboyo yang dimakamkan di sebelah utara Masjid penjuru mata angin. ”Biasanya pesawat melintas di bagian selatan masjid, entah kenapa pesawat ini melintas di masjid utara yang dikeramatkan,” katanya.

Yang pasti, lokasi jatuhnya pesawat ini ternyata berada 300 meter dari masjid Sulthoni Wotgaleh. Detik-detik jelang kejatuhannya, Andri sempat melihat saat berada di langit pesawat goyang yang mengangkut Sertu Ninang dan Sersan Karbol Habibun Rahman. ”Pesawat yang jatuh berada di belakang, namun karena goyang dan tidak seimbang maka tali yang menarik pesawat
tersebut dilepaskan,” tandasnya.

Komplek Wot Galeh Sisa sisa Kebesaran Pangeran Purbaya

Pangeran Purbaya memiliki nama muda Raden Mas Damar. Karena kesaktiannya ia ditunjuk menjadi senapati perang prajurit Mataram saat Sultan Agung bertahta. Ia bahkan sangat disegani oleh kaum penjajah.

Pintu masuk komplek Makam Wot Galeh

Wot Galeh adalah sebutan bagi sebuah kompleks pemakaman yang berada tak jauh dari kompleks Bandara Adi Sutjitpto Maguwo, Sleman, Yogyakarta. Letaknya kira-kira ada di sisi selatan landas pacu bandara, di antara lahan sawah yang sering ditanami tanaman tebu.

Kompleks pemakaman yang berusia tua itu rupanya cukup terkenal diantara jejak langkah kaki para pelaku budaya spiritual Jawa. Pasalnya di tempat tersebut dimakamkan seorang pangeran dari Mataram yang terkenal sakti, yaitu Purbaya putra Panembahan Senapati dari Rara Lembayung putri Ki Ageng Giring.

Pangeran Purbaya memiliki nama muda Raden Mas Damar. Karena kesaktiannya ia ditunjuk menjadi senapati perang prajurit Mataram saat Sultan Agung bertahta. Ia bahkan sangat disegani oleh kaum penjajah.

Pangeran Purbaya

Kompleks pemakaman ini setiap malam Selasa Kliwon maupun Jumat Kliwon ramai didatangi para peziarah. Mereka datang untuk samadi atau tirakat.

Pak Min, yang abdi dalem Keraton Yogyakarta, menjadi orang yang dipercaya untuk menjaga kompleks makam itu, sekaligus menjadi pemandu peziarah yang berniat tirakatan.

Tugas rutinnya antara lain mencatat para tamu yang hendak berziarah, juga memberikan keterangan yang dibutuhkan peziarah tentang kompleks pemakaman yang bercorak arsitektur khas Keraton Yogyakarta itu.

Pintu masuk menuju makam pangeran Purbaya

Di dalam pagar tembok kompleks makam Wot Galeh itu terdapat sebuah masjid semi terbuka, dan cungkup berisi dua makam, yakni Pangeran Purbaya, dan sang bunda, Ratu Giring.

Selain itu, di belakang masjid terdapat sebuah sumur, yang konon dibuat semasa hidup Pangeran Purbaya. Bibir sumur setinggi kira-kira semester tergolong lebar jika dibandingkan lebar bibir sumur kebanyakan. Permukaan air nampak berkilau tertimpa cahaya bulan purnama.

Orang-orang yang berniat melakukan tirakat biasanya mengawali prosesi dengan diguyur badannya menggunakan air sumur tersebut sebanyak tujuh kali. Pengguyuran air dilakukan dengan sebuah ember terbuat dari kayu. Angka tujuh adalah simbol dari pitulungan maupun simbol semoga tercapai tujuan yang diharapkan.

Sejarah:

Nama aslinya adalah Jaka Umbaran. Ia merupakan putra dari Panembahan Senopati yang lahir dari istri putri Ki Ageng Giring.

Babad Tanah Jawi mengisahkan, Ki Ageng Giring menemukan kelapa muda ajaib yang jika airnya diminum sampai habis dalam sekali teguk, akan menyebabkan si peminum dapat menurunkan raja-raja tanah Jawa. Tanpa sengaja air kelapa muda itu terminum habis oleh Ki Ageng Pamanahan yang bertamu ke Giring dalam keadaan haus.
Ki Ageng Pamanahan merasa bersalah setelah mengetahui khasiat air kelapa ajaib itu. Ia lalu menikahkan putranya, yaitu Sutawijaya dengan anak perempuan Ki Ageng Giring.
Putri Ki Ageng Giring kemudian melahirkan Jaka Umbaran (diumbar dalam bahasa Jawa artinya “dilepas ke dunia luar sendiri”). Setelah dewasa Jaka Umbaran pergi ke Mataram untuk mendapat pengakuan dari ayahnya. Saat itu Sutawijaya sudah bergelar Panembahan Senopati. Melalui perjuangan yang berat, Jaka Umbaran akhirnya berhasil mendapat pengakuan sebagai putra Mataram dengan gelar Pangeran Purbaya.

Mengapa banyak hal istimewa (karomah) di Makam Wotgaleh?
1. Lokasi ini merupakan lokasi yang diberkati Allah SWT.
Kisah:
Beberapa tahun kemudian Joko Umbaran atau Pangeran Purbaya teringat lagi akan pesan ibunya untuk meluhurkan pepundennya. Maka bertepatan dengan hari Senin Kliwon Pangeran Purbaya bersama para pengawalnya berangkat ke Giring dengan maksud untuk memindahkan kerangka almarum ibunya. Setelah kerangka dimasukkan ke dalam peti, Pangeran Purbaya bersama rombongan lalu berjalan ke arah barat. Namun, ketika mereka sampai di Desa Badung tiba-tiba ada cahaya yang cepat bergerak dan akhirnya jatuh di depan Pangeran Purbaya. Oleh Pangeran Purbaya cahaya itu dianggap sebagai wahyu yang menandakan bahwa sang ibu harus dikuburkan di tempat jatuhnya cahaya.Kerangka Rara Rembayung lalu dimakamkan tepat di tempat jatuhnya wahyu. Setelah itu Pangeran Purbaya berkata kepada para pengiringnya, “Gandheng papan kene ngemu rasa lan anggonku menggalihake wus suwe banget, ndak jenengke pasarean Wotgaleh. Besuk kanggo sejarah kawula kabeh.” (Oleh karena tempat ini mengandung makna rasa dan aku pun sudah lama memikirkan untuk meluhurkan pepunden ibuku, maka makam ini kuberi nama Wotgaleh. Kelak makam ini akan menjadi tempat ziarah orang banyak).

Sumber: http://kijalakmanik.blogspot.com/2011/08/pangeran-purbaya-joko-umbaran.html

2. Lokasi ini merupakan makam suci karena di dekatnya ada masjid yang sering untuk sholat serta airnya InsyaAllah selalu mengalir, tidak pernah kering.
3. Sebagai pengingat untuk tidak dilupakan, karena letaknya di pinggir kota Yogyakarta. Sekarang kita ketahui jarang dikunjungi Keraton Yogyakarta. Selain itu, makam ini tidak sebagus makam lain di Kotagede maupun Imogiri, padahal secara sejarah Pangeran Purboyo juga merupakan orang hebat yang bisa disejajarkan dengan tokoh- tokoh di makam tersebut.

Hikmah:
Kita tidak perlu merengek untuk meminta belas kasihan Keraton Yogyakarta supaya mengucurkan perhatian berupa dana dan usaha. Sudah berterima kasih dengan pemberian selama ini. Kita bangun sendiri saja makam Wotgaleh ini. Karena itu, mohon bagi yang berkenan dari khususnya keturunan Trah Pangeran Purboyo dan umumnya bagi masyarakat yang perduli dengan Makam Wotgaleh ini untuk turut membantu pembenahan makam ini. Bisa dana, bisa tenaga. Jika saatnya tiba, akan kita umumkan bagaimana metode perbaikan makam ini.
Mengingat perjuangan keras Pangeran Purbuyo untuk memperoleh pengakuan dari Panembahan Senopati, maka mohon untuk tidak melupakan trah keturunan Pangeran Purboyo. Harap yang sudah punya surat kekancingan dan tahu alur silsilah sampai dengan saat ini untuk dapat mengelolanya. Saya sarankan bisa dikelola oleh Juru Kunci makam ini. Gunanya adalah untuk menyambung tali silaturahmi dan semoga bisa menuju item no 1 diatas, yaitu untuk membantu pengelolaan makam Wotgaleh ini supaya lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s