CERITA RAKYAT KAHYANGAN DI KELURAHAN DLEPIH KECAMATAN TIRTOMOYO KABUPATEN WONOGIRI DAN FUNGSINYA BAGI MASYARAKAT: TINJAUAN RESEPSI

Karya sastra pada dasarnya berisi tentang permasalahan yang
melingkupi kehidupan sosial. Setiap bangsa atau suku bangsa memiliki
kehidupan sosial yang berbeda dengan suku bangsa lain. Demikian pula suku
Jawa yang memiliki kehidupan sosial khas terutama dalam sistem atau metode
budayanya. Sastra terlahir atas hasil karya perilaku manusia dalam
kebudayaan yang beranekaragam suku, ras, agama, dan tradisi yang berbedabeda.
Keanekaragaman tersebut memiliki ciri khas tersendiri dan hal itu
memberikan pemasalahan dengan pemahaman serta tanggapan yang berbedabeda
(Wijayanthi, 2007: 1).
Kebudayaan yang ada dalam masyarakat merupakan hasil cipta, rasa,
dan karsa masyarakat yang telah disesuaikan dengan masyarakat
lingkungannya dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup mereka.
Kebudayaan masyarakat tidak terlepas dari nilai-nilai yang bertumpu pada
sastra, kesenian, agama serta sejarah (Wibowo, 2003: 1).Dari pengertian itu,
kebudayaan ada karena masyarakat menciptakannya, dan kebudayaan itu
diciptakan juga untuk kepentingan kehidupan mereka dalam bermasyarakat.
Selanjutnya menurut Santoso (dalam Daroeni, 2001: 1) kebudayaan
sebagai suatu pengetahuan pilihan hidup dan suatu praktik komunikasi dari
perwujudan keseluruhan hasil pikiran,

bersumber pada usaha budi manusia dalam mengelola cipta, rasa, dan
karsanya serta mengungkapkan identitas kemanusiaannya dalam rangka
memilih dan merencanakan tanggapan untuk pelaksanaan kegiatan yang
mengarah pada tujuan kehidupannya.
Ada batasan yang lebih dinamis tentang kebudayaan, yaitu
kebudayaan dipandang sebagai manifestasi dari tiap orang dan masyarakat.
Manusia di dalam hidupnya cenderung bersifat aktif, yaitu selalu melakukan
perubahan terhadap lingkungan hidupnya. Lingkungan di sini bersifat luas,
yaitu mencakup keseluruhan aspek kehidupan termasuk aktivitas-aktivitas
yang dikerjakan dan di dalam benaknya selalu diwarnai ide-ide untuk
melakukan perubahan terhadap lingkungan alam sekitarnya. Manusia
senantiasa mengambil sikap sebagai subjek dan berusaha menguasai alam
lingkungannya. Hal inilah yang membedakan manusia dengan binatang, dan
merupakan pengertian dasar dari kebudayaan (Peursen, 1988: 19).
Pada hakikatnya kebudayaan merupakan realisasi gagasan-gagasan,
simbol-simbol sebagai hasil karya dan perilaku manusia. Kebudayaan terdiri
dari beraneka ragam wujud yang mempunyai fungsi dalam kehidupan
manusia. Masyarakat pendukung selalu berusaha menjaga, melestarikan dan
mengembangkan yang dicerminkan melalui tingkah laku hidupnya (Daroeni,
2001: 2).
Kebudayaan meliputi segala realisasi manusia, termasuk di dalamnya
adalah karya sastra. Karya sastra merupakan hasil dari kreativitas manusia
baik secara tertulis maupun secara lisan. Karya sastra yang tertulis misalnya

prosa, cerita pendek, cerita bersambung, novel dan lain-lain, sedangkan karya
sastra lisan adalah karya sastra yang diwariskan turun-temurun secara lisan,
dan salah satu jenis karya sastra lisan adalah cerita rakyat. Kaitannya dengan
ini Soeprapto (dalam Sudarsono, 1986: 42) menyatakan bahwa salah satu ciri
yang membedakan foklor dengan kebudayaan yang lain adalah cara
penyebaran maupun kelestariannya yang dilakukan secara lisan.
Yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah cerita rakyat
“Kahyangan”. Cerita rakyat merupakan sastra lisan yang penyebarannya
dilakukan secara lisan dari mulut ke mulut. Hutomo (1993: 1) berpendapat
bahwa sastra lisan mengandung nilai budaya nenek moyang, sebab sastra lisan
termasuk bagian dari folklor. Selanjutnya menurut Danandjaja (1997: 2)
foklor adalah sebagian dari kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan
diwariskan secara turun-temurun di antara kolektif macam apa saja secara
tradisional dalam versi yang berbeda baik dalam bentuk lisan maupun disertai
contoh dengan gerak isyarat atau alat bantu pengingat.
Istilah sastra lisan dan folklor, dalam penelitian ini untuk selanjutnya
digunakan istilah cerita rakyat. Hal ini dilakukan untuk menghindari
pemahaman yang mungkin dapat berbeda dari pembaca serta agar sesuai
dengan judul yang digunakan.
Dapat dikatakan bahwa cerita rakyat adalah cerita yang sudah
diceritakan kembali di antara orang-orang yang berada dalam beberapa
generasi. Isi cerita rakyat biasanya bersifat datar menurut si penuturnya. Cerita
rakyat bersifat anonim. Maksudnya, dalam cerita rakyat tidak diketahui

pengarangnya secara pasti. Salah satu efek dari sifat anonim tersebut
memungkinkan cerita rakyat akan dapat mengalami perubahan seiring dengan
perkembangan waktu.
Penggalian terhadap warisan budaya nenek moyang memang perlu
dilakukan guna menghindari kelenyapan. Bukan tidak mungkin budaya
warisan itu akan hilang begitu saja jika tidak dijaga dan dilestarikan.
Pemahaman terhadap budaya tersebut nantinya bisa ditemukan hasil-hasil
yang bisa memberikan manfaat dalam kehidupan manusia, misalnya saja
mengenai nilai-nilai sejarah dan nilai-nilai sosial yang ada dalam cerita rakyat.
Kenyataan membuktikan bahwa masyarakat masih akrab dengan alam
sekitarnya melalui kepercayaan, yaitu warisan nenek moyang. Semua
berkaitan erat dengan kepercayaan yang sulit dilepasnya dan dilupakan begitu
saja. Kekuatan alam dirasakan sebagai kekuatan yang menguasai dan
menentukan keberadaan manusia. Hal ini terbukti, meskipun orang-orang
telah rasional dan hidup di zaman modern banyak orang yang tidak dapat
menghindarkan diri dari kekuatan alam yang mereka rasakan dan tertarik pada
gerakan kebatinan maupun mendatangi tempat-tempat yang dianggap bisa
memberi tuah untuk memecahkan masalah hidup. Misalnya, banyak orang
yang datang ke suatu tempat yang dianggap keramat (sebagai contoh
Kahyangan) untuk menenangkan diri dengan bersemedi atau napak tilas
memohon petunjuk kepada Allah SWT melalui tempat tersebut.
Cerita rakyat banyak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia. Salah
satunya adalah cerita rakyat “Kahyangan” yang merupakan petilasan

pertapaan Panembahan Senopati di Kelurahan Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo,
Kabupaten Wonogiri. Cerita rakyat “Kahyangan” yang dimiliki masyarakat
Dlepih tersebut mempunyai kemungkinan untuk berperan sebagai kekayaan
budaya, khususnya kekayaan sastra lisan. Cerita rakyat “Kahyangan”
merupakan cerita rakyat yang masih tetap hidup dan dipertahankan dalam
kehidupan masyarakat Dlepih. Masyarakat Dlepih pada khususnya dan
masyarakat luas pada umumnya begitu yakin bahwa “Kahyangan” dianggap
dapat memberi berkah. Misalnya, bila seseorang ingin mencalonkan untuk
menjadi seorang pemimpin, maka ia memohon berkah atau petunjuk kepada
Allah SWT di “Kahyangan” melalui juru kunci atau dengan memahami
perjalanan Panembahan Senopati yang merupakan raja pertama Mataram yang
pernah bertapa di “Kahyangan” . Karena kepercayaan itu mereka
merealisasikan dengan napak tilas yang biasanya diadakan setiap malam
Selasa Kliwon dan Jum’at Kliwon serta malam Satu Suro.
Dengan latar belakang tersebut penulis ingin melakukan penelitian
dengan judul “Cerita Rakyat Kahyangan di Kelurahan Dlepih, Kecamatan
Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri dan Fungsinya Bagi Masyarakat: Tinjauan
Resepsi”.

religius dalam tradisi ziarah dapat dipakai sebagai pedoman tingkah laku atau
norma-norma masyarakat yang harus dipatuhi kolektifnya; (5) Sebagai sarana
hiburan, yaitu cerita rakyat “Makam Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari)”
memiliki fungsi sebagai sarana hiburan, karena di dalam cerita tersebut
terkandung nilai budaya yang bersifat menghibur.
Persamaan penelitian yang dilakukan Daroeni dengan penelitian ini
adalah dalam analisis terdapat fungsi atau manfaat cerita rakyat terhadap
masyarakat. Sedangkan perbedaannya adalah mengenai tinjauan yang
digunakan, jika penelitian Daroeni menggunakan tinjauan sosiologi sastra
yang berarti lebih menekankan pada fungsi cerita rakyat tersebut pada
kehidupan sosial, sedangkan penelitian ini tinjauan yang digunakan adalah
resepsi sastra yang berarti penelitian ini lebih menekankan pada resepsi atau
tanggapan masyarakat (pengunjung dan masyarakat pemilik) terhadap cerita
rakyat.
Skripsi Wahyanto Andri Wibowo (2003) Fakultas Sastra UNS dengan
judul “Cerita Rakyat Ki Ageng Singo Wijoyokusumo di Desa Karangbener,
Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus: Suatu Tinjauan Folklor”. Ada empat
fungsi yang terdapat dalam cerita rakyat Ki Ageng Singo Wijoyokusumo,
yakni (1) sebagai sistem proyeksi (projective system), sebagai alat
pencerminan angan-angan suatu kolektif, yaitu cerita rakyat Ki Ageng Singo
Wijoyokusumo mengingatkan serta menjelaskan kepada warga Karangbener
tentang ketokohan Ki Ageng Singo Wijoyokusumo berbudi pekerti yang
luhur, dharma baktinya, kesaktiannya dan tentunya peranan dan tentunya
11
peranan dalam berdirinya desa Karangbener dan syiar Islam di Karangbener.
Ketokohan Ki Ageng Singo Wijoyokusumo tersebut membekas dalam
pemikiran warga Karangbener. Secara kolektif mereka terkesan, sehingga
tidak mengherankan bila angan-angan kolektif tersebut diproyeksikan dalam
suatu wujud ziarah di makam Ki Ageng Singo Wijoyokusumo. (2) Sebagai
alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga kebudayaan, yaitu dalam tradisi
ziarah di makam Ki Ageng Singo Wijoyokusumo terdapat ketentuanketentuan
yang disepakati bersama dan menjadi suatu pranata dan budaya
yang dilembagakan, misalnya saja dalam hal waktu pelaksanaan ziarah. Telah
menjadi suatu aturan-aturan sosial atau pranata sosial bahwa orang yang
mempunyai kerja atau hajat biasanya datang ke makam Ki Ageng Singo
Wijoyokusumo. (3) Sebagai alat pendidikan anak (Paedagogical Devide),
yaitu cerita rakyat Ki Ageng Singo Wijoyokusumo memberikan suatu
pendidikan bagi anak Karangbener agar mereka tahu tentang siapa nenek
moyang mereka (cikal bakal) dari Desa Karangbener. Cerita tersebut
memberitahukan kepada generasi penerus Karangbener tentang Ki Ageng
Singo Wijoyokusumo sebagai nenek moyangnya atau cikal bakal dari
desanya. (4) Sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma
masyarakat dipatuhi, yaitu di Desa Karangbener setiap ada orang yang akan
punya kerja atau hajatan harus datang ke makam Ki Ageng Singo
Wijoyokusumo untuk meminta berkah dan berdoa agar acara yang
dilaksanakan dapat berjalan dengan lancar dan selamat. Kepercayaan
masyarakat di Karangbener apabila akan punya kerja atau hajatan tidak
12
terlebih dahulu datang ke makam untuk meminta berkah dan keselamatan
biasanya mendapatkan bencana atau halangan. Hal ini yang mendorong
masyarakat Karangbener untuk tetap taat pada tradisi yang ada.
Persamaan penelitian yang dilakukan Wibowo dengan penelitian ini
adalah dalam analisis sama-sama terdapat analisis fungsi cerita rakyat
terhadap masyarakat. Sedangkan perbedaannya adalah dalam hal tinjauan
yang digunakan, jika penelitian Wibowo menggunakan tinjauan foklor yang
berarti penekanannya pada struktur yang yang membangun cerita rakyat
tersebut. Sedangkan penelitian ini menggunakan tinjauan resepsi yang berarti
lebih menekankan pada resepsi atau tanggapan masyarakat terhadap cerita
rakyat.
Berdasarkan uraian tentang hasil penelitian terdahulu, maka dapat
dilihat bahwa orisinalitas penelitian dengan judul “CERITA RAKYAT
KAHYANGAN DI KELURAHAN DLEPIH, KECAMATAN TIRTOMOYO,
KABUPATEN WONOGIRI, DAN FUNGSINYA BAGI MASYARAKAT:
TINJAUAN RESEPSI” dapat dipertanggjawabkan.
F. Landasan Teori
1. Hakikat Foklor
Foklor sebagian dari kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan
diwariskan secara turun temurun di antara kolektif macam apa saja, secara
tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun
13
contoh yang disertai gerak isyarat atau alat bantu pengingat (Danandjaja,
1997: 2).
Foklor berasal dari kata folk dan lore. Menurut Dundes (dalam
Danandjaja, 1997:1) folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri
pengenal fisik, sosial, kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari
kelompok-kelompok lainnya. Istilah lore merupakan tradisi folk yang
berarti sebagian kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun secara
lisan atau melalui contoh yang disertai gerak isyarat atau alat bantu
pengingat. Jika folk adalah mengingat, lore adalah tradisinya.
Foklor mempunyai beberapa ciri pengenal utama yang
membedakan dengan kebudayaan lainnya. Ciri-ciri utama tersebut
menurut Danandjaja (1997, 3-4) adalah seperti berikut.
a. Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yakni
disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut (atau dengan suatu
contoh disertai gerak isyarat, dan alat bantu pengingat) dari generasi
ke generasi berikutnya.
b. Foklor bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap
atau dalam bentuk standar, dan juga di antara kolektif tertentu dalam
waktu yang cukup lama (paling sedikit dua generasi).
c. Foklor ada (exist) dalam versi-versi bahkan varian-varian yang
berbeda-beda. Hal ini diakibatkan oleh cara pembacanya
menyampaikan cerita dari mulut ke mulut (lisan), sehingga oleh
proses lupa diri manusia atau proses interpolasi (interpolation) foklor
14
dengan mudah dapat mengalami perubahan. Walaupun demikian,
perbedaan hanya terletak pada bagian karyanya saja, sedangkan
bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.
d. Foklor bersifat anonim, yaitu nama penciptanya sudah tidak diketahui
oleh orang lain.
e. Foklor biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola. Cerita
rakyat biasanya selalu menggunakan kata-kata klise seperti “bulan
empat belas hari”, untuk menggambarkan seorang gadis, “seperti ular
berbelit-belit”, untuk menggambarkan kemarahan seseorang, atau
ungkapan-ungkapan tradisional, ulangan-ulangan, dan kalimat-kalimat
atau kata-kata pembukaan dan penutup yang baku, seperti kata
“sahibu hikayat”… dan mereka pun hidup bahagia untuk seterusnya
atau “menurut empunya cerita”…demikian konon”.
f. Foklor mempunyai kegunaan (function) dalam kehidupan bersama
suatu kolektif. Cerita rakyat misalnya, mempunyai kegunaan sebagai
alat pendidik atau pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan
terpendam.
g. Foklor bersifat prologis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak
sama dengan logika umum.
h. Foklor menjadi milik berasama (collective) dari kolektif tertentu. Hal
ini sudah tentu diakibatkan oleh penciptaan pertama sudah tidak
diketahui lagi sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan
merasa memilikinya.
15
i. Foklor pada umumnya bersifat polos dan lugu sehingga seringkali
kelihatan kasar, terlalu spontan. Hal ini dapat dimengerti apabila
mengingat banyak foklor merupakan proyeksi emosi manusia yang
paling jujur manifestasinya.
2. Hakikat Cerita Rakyat
a. Pengertian Cerita Rakyat
Istilah cerita rakyat menunjuk kepada cerita yang merupakan
bagian dari rakyat, yaitu hasil sastra yang termasuk ke dalam cakupan
foklor. Cerita rakyat adalah suatu bentuk karya sastra lisan yang lahir
dan berkembang dari masyarakat tradisional yang disebarkan dalam
bentuk relatif tetap atau dalam bentuk yang standar disebarkan di
antara kolektif tertentu dari waktu yang cukup lama dengan
menggunakan kata klise ( Danandjaja, 1997: 4 ).
Cerita rakyat adalah sesuatu yang dianggap sebagai kekayaan
milik yang kehadirannya di atas dasar keinginan untuk berhubungan
sosial dengan orang lain. Dalam cerita rakyat dapat dilihat adanya
berbagai tindakan berbahasa guna menampilkan adanya nilai-nilai
dalam masyarakat ( Semi, 1993: 79 ).
b. Macam-macam cerita rakyat
Bascom dalam Danandjaja (1997: 50) membagi cerita prosa
menjadi tiga macam sebagai berikut.
16
1. Mite (Myth)
Bascom (dalam Danandjaja 1997: 50) mengatakan bahwa
mite adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi
serta dianggap suci oleh si empunya cerita. Mite ditokohi oleh para
dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwa terjadi di dunia lain
atau di dunia yang bukan seperti yang kita kenal sekarang dan
terjadi pula di masa lampau.
Mite di Indonesia dapat dibagi menjadi dua macam
berdasarkan tempat asalnya, yakni yang asli Indonesia dan berasal
dari luar negeri, terutama India, Arab, dan negara yang berasal dari
Laut Tengah.
2. Legenda
Legenda adalah prosa rakyat yang mempunyai ciri-ciri yang
mirip dengan mite, yaitu dianggap pernah benar-benar terjadi,
tetapi tidak dianggap suci. Berlainan dengan mite, legenda ditokohi
manusia, walaupun ada kalanya mempunya sifat-sifat luar biasa,
dan seringkali juga dibantu makhluk-makhluk ajaib. Tempat
terjadinya adalah di dunia seperti yang kita kenal kini, karena
waktu terjadinya belum terlalu lampau Bascom (dalam Dananjaja,
1997: 50).
17
Brunvard (dalam Danandjaja, 1997: 67) mengemukakan
penggolongan legenda sebagai berikut:
(a) legenda keagamaan (Religius Legends)
(b) legenda alam gaib (Supranatural Legends)
(c) legenda perorangan (Personal Legends)
(d) legenda setempat (Local Legends)
3. Dongeng
Dongeng adalah prosa rakyat yang tidak dianggap benarbenar
terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat
oleh waktu maupun cerita Bascom (dalam Dananjaja, 1997: 50).
3. Mitos Bagian dari Foklor
Mitos berarti suatu cerita yang benar dan menjadi milik mereka
yang paling berharga karena merupakan sesuatu yang suci, bermakna dan
menjadi contoh model bagi tindakan manusia (Eliade dalam Susanto,
1987:91). Peursen, (1988: 42) memberikan arti terhadap mitos dengan
berpijak pada fungsi mitos tersebut dalam kehidupan manusia. Mitos
bukan sekadar cerita mengenai kehidupan dewa-dewa, namun mitos
merupakan cerita yang mampu memberikan arah dan pedoman tingkah
laku manusia sehingga bisa bersifat bijaksana.
18
Kekuatan mitos sangat besar sehingga memberikan arah kepada
kekuatan manusia dan memberikan arah kepada kelakuan manusia. Mitos
biasanya dijadikan semacam pedoman untuk ajaran suatu kebijaksanaan
bagi manusia. Melalui mitos, manusia merasa dirinya turut serta
mengambil bagian dalam kejadian-kejadian, dapat pula merasakan dan
menanggapi daya kekuatan alam. Mitos muncul karena manusia
menyadari ada kekuatan gaib di luar dirinya. Mitos itu tidak memberikan
informasi mengenai kekuatan-kekuatan yang ada, tetapi membantu
manusia agar dapat menghayati daya-daya itu sebagai suatu kekuatan
yang mempengaruhi dan menguasai alam dan kehidupan sukunya.
Selanjutnya Peursen (1988: 37) memberikan gambaran mengenai
mitos. Mitos adalah sebuah cerita yang memberikan pedoman dan arah
tertentu kepada sekelompok orang. Cerita itu dapat dituturkan, tetapi juga
dapat diungkapkan, misalnya lewat tari-tarian atau pementasan wayang.
Inti dari ceritnya adalah lambang-lambang yang mencetuskan pengalaman
manusia purba.
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa mitos
merupakan suatu cerita yang dianggap memberikan arah dalam kehidupan
manusia. Kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari mitos begitu
saja, meskipun kebenaran suatu mitos belum tentu memberikan jaminan
dan bisa dipertanggungjawabkan. Cerita rakyat “Kahyangan” merupakan
sebuah mitos yang oleh masyarakat masih dipercaya kebenarannya dan
19
masih menyimpan kekuatan gaib. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya
masyarakat yang mempercayai bahwa cerita rakyat “Kahyangan” benarbenar memberikan manfaat bagi mereka yang napak tilas di tempat
tersebut.
4. Pendekatan Struktural
Di dalam ilmu sastra ada dua macam pendekatan. Dua pendekatan
itu disebut pendekatan ekstrinsik dan pendekatan intrinsik Wellek (dalam
Hutomo: 1993: 7). Dua pendekatan ini oleh Sudjiman disebut ancangan
ekstrinsik dan ancangan intrinsik. Ancangan ekstrinsik ialah “pendekatan
terhadap sastra dengan menggunakan ilmu bantu bukan sastra seperti
sejarah, sosiologi, dan sebagainya”. Ancangan intrinsik ialah “pendekatan
terhadap karya sastra dengan menerapkan teori dan kaidah sastra:
pendekatan bertolak dari karya sastra itu sendiri” Sudjiman (dalam
Hutomo, 1993: 7-8).
Pendekatan intrinsik menganalisis, misalnya, plot (alur),
perwatakan, gaya bahasa, latar, bentuk, tema, amanat, dan lain-lain. Hal ini
juga terdapat di dalam sastra lisan (Hutomo, 1993: 8). Semua yang
diungkapkan Hutomo itu merupakan unsur-unsur dalam, yang berperan
membangun sebuah cerita, baik itu novel ataupun cerita rakyat.
Selanjutnya Stanton (dalam Jabrohim, 2003) mendeskripsikan
unsur-unsur pembangun struktur itu terdiri atas tema, fakta cerita, dan
sarana sastra. Fakta cerita terdiri atas tema, alur, tokoh, dan latar,
20
sedangkan sarana sastra biasanya terdiri atas sudut pandang, gaya bahasa,
dan suasana simbol-simbol, imajinasi dan juga cara-cara pemilihan judul
di dalam karya sastra. Fungsi sarana sastra adalah memadukan fakta sastra
dengan tema sehingga makna karya sastra itu dapat dipahami dengan jelas.
Dapat dikatakan bahwa analisis struktural berusaha untuk
menunjukkan dan menjelaskan unsur-unsur yang membangun karya sastra.
Menurut Nurgiyantoro (2000: 37), teori struktural seperti alur, penokohan,
tema, dan latar dapat mengungkapkan latar belakang serta aspirasi
kemasyarakatan dalam cerita.
Untuk lebih jelasnya mengenai unsur-unsur intrinsik karya sastra
yang meliputi tema, tokoh/penokohan, plot/alur, latar/setting seperti di atas
akan dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut.
a. Tema
Tema adalah ide, gagasan sentral sebuah cerita. Tema
merupakan kerangka berfikir pengarang dalam penciptaan
sebuah karya sastra. Keberadaan tema tersirat bukanlah
tersurat, jelas dan dapat kita temukan begitu saja. Stanton
(2007: 8) mengatakan bahwa tema bukanlah sesuatu yang
diungkapkan pengarang secara langsung.
Pandangan Fananie (2000: 84) mengenai tema adalah
ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang
melatarbelakangi ciptaan karya sastra. Karena sastra
merupakan refleksi kehidupan masyarakat, maka tema yang
21
diungkapkan bisa sangat beragam. Tema bisa berupa persoalan
moral, etika, agama sosial budaya, teknologi, tradisi yang
terkait erat dengan masalah kehidupan.
Ada satu perbedaan pandangan mengenai tema karya
fiksi dengan cerita rakyat. Tema karya fiksi (misalnya novel)
umumnya hanya satu tema atau gagasan pokok dalam sebuah
cerita. Tetapi tema cerita rakyat menurut pandangan Volkov
seperti yang dikutip Propp (1987: 8) mengatakan bahwa tema
cerita rakyat atau disebut cerit-cerita ajaib meliputi sepuluh
tema, yaitu (1)Tentang hukuman yang tidak adil; (2) Tentang
Wira Bodoh; (3) Tentang tiga beradik; (4) Tentang pembunuh
naga; (5) Tentang pencarian jodoh; (6) Tentang gadis yang
bijaksana; (7) Tentang orang yang terkenal; (8) Tentang orang
yang mempunyai azimat; (9) Tentang pemilik benda-benda
sakti; (10) Tentang istri yang curang. Akan tetapi
penggabungan mengenai kesepuluh tema tersebut agar bisa
dirumuskan menjadi satu tema yang utuh tidak dijelaskan.
Dalam penelitian ini tidak menggunakan tema seperti
yang diungkapakan Volkov tersebut, karena tema-tema itu
menurut peneliti tidak ada yang sesuai dengan tema cerita
rakyat “Kahyangan” yang peneliti teliti tetapi menggunakan
tema yang biasa untuk menganalisis cerpen dan novel.
22
b. Plot/Alur
Plot atau sering juga disebut alur adalah bagaimana
jalannya sebuah cerita dari peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi itu merupakan hubungan
sebab-akibat. Akibat yang ada disebabkan oleh peristiwa yang
terjadi sebelumnya.
Sundari (dalam Nurgiyantoro, 2000: 93) mengatakan
bahwa plot atau alur sering diartikan sebagai keseluruhan
rangkaian peristiwa yang terjadi dalam cerita. Lebih lanjut lagi
Stanton (2007: 26) mendefinisikan alur merupakan rangkaian
peristiwa-peristiwa dalam cerita.
Dari dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa
plot atau alur adalah keseluruhan rangkaian peristiwa-peristiwa
yang terjadi dalam sebuah cerita yang saling berhubungan
antara satu dengan yang lainnya.
Akan tetapi alur menurut Nurgiyantoro dan Stanton
seperti yang di atas biasanya hanya untuk analisis unsur
intinsik pada karya sastra seperti novel dan cerpen tidak untuk
analisis alur cerita rakyat. Propp (1987) mengungkapkan
analisis alur untuk cerita rakyat terdapat 32 tahapan/ bagian,
yaitu: (1) salah satu anggota keluarga meninggalkan rumah; (2)
salah satu larangan diucapkan kepada pahlawan: (3) larangan
dilanggar; (4) penjahat mencoba untuk mencari keterangan
23
mengenai mangsanya; (5) penjahat menerima informasi
mengenai mangsanya; (6) penjahat mencoba memperdaya/
menipu mangsanya dengan tujuan untuk merampas apa yang
dimiliki mangsa; (7) mangsa terperdaya dengan tipu muslihat
penjahat; (8) penjahat membuat susah atau cidera terhadap
seseorang di dalam sebuah keluarga; (9) salah seorang anggota
keluarga mempunyai keinginan untuk memiliki sesuatu; (10)
kekurangan dikmaklumi, pahlawan diperintah untuk pergi
(diutus); (11) penjahat memutuskan untuk membalas
kekalahannya; (12) pahlawan meninggalkan rumah; (13)
pahlawan diserang, sehingga pahlawan menggunakan alat gaib
atau pembantunya; (14) pahlawan membalas apa yang sudah
dilakukan penjahat terhahapnya; (15) pahlawan memperoleh
benda sakti/ bertemu dengan pembantu sakti; (16) pahlawan
dipindahkan/ diantarkan ke tempat ang dia cari; (17) pahlawan
dan penjahat terlibat dalam pertarungan; (18) pahlawan diberi
tanda; (19) penjahat dibunuh; (20) rintangan awal dapat diatasi;
(21) pahlawan pulang; (22) pahlawan dikejar; (23) pahlawan
diselamatkan; (24) pahlawan yang lain (belum dikenali) datang;
(25) pahlawan palsu memberikan tuntutan palsu; (26) suatu
tugas yang berat diberikan/ dibebankan kepada pahlawan; (27)
tugas dapat diselesaikan; (28) pahlawan palsu dapat dikenali;
(29) pahlawan palsu yaitu penjahat dihukum;

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s