“Pembebasan” dengan “Ruwatan” pada abad XV di Candi Sukuh

“Pembebasan” dengan “Ruwatan” pada abad XV
di Candi Sukuh
Candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada
ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut. Letak candi
di dukuh Berjo, desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten
Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini
berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36
kilometer dari Surakarta.
Bangunan candi Sukuh memberikan kesan kesederhanaan. Kesan yang didapatkan dari
candi ini sungguh berbeda dengan yang didapatkan dari candicandi
lainnya seperti Gedong
Songo, Prambanan dan Borobudur. Bentuk bangunan candi Sukuh lebih mirip dengan
peninggalan budaya Maya di Meksiko atau peninggalan budaya Inca di Peru. Struktur candi di
bagian belakang juga mengingatkan para pengunjung akan bentukbentuk
piramida Mesir.
Banyak orang mengidentikkan candi Sukuh sebagai candi porno atau
candi erotis. Bagaimana tidak, ketika penulis studi lapangan dengan mahasiswa
jurusan Sejarah UKSW, banyak rekanrekan
berpikiran ”ngeres”, menyaksikan
pahatan (relief) vulgar yang menggambarkan secara utuh alat kelamin pria yang
sedang ereksi, berhadaphadapan
langsung dengan vagina di lantai teras pertama
gapura candi. Menurut ceritera rakyat dari mulut ke mulut : Konon, lakilaki
yang
ingin menguji apakah kekasihnya masih perawan atau tidak, dapat
datang ke tempat ini, dengan cara meminta si wanita melompati relief
tersebut. Atau suami yang ingin menguji kesetiaan istrinya, dia akan
meminta sang istri melangkahi relief ini. Jika kain kebaya yang
dikenakannya robek, maka dia tipe isteri setia. Tapi sebaliknya, jika
kainnya hanya terlepas, sang isteri diyakini telah berselingkuh (dari
sebuah sumber) Ceriteranya memang ada, tetapi faktanya
mungkin tinggal cerita? Masih ada banyak lagi indikasi
(berupa relief dan arca) yang membawa pemikiran
pengunjung sampai pada kesimpulan bahwa candi ini
memang candi rusuh (saru atau tabu)
Pada gapura teras pertama terdapat sangkala dalam
bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta mangan wong.
Jika dibahasa Indonesiakan artinya adalah “Gapura sang
raksasa memangsa manusia”. Katakata
ini memiliki makna
Gapura = 9, Raksasa = 5, Mangan = 3, dan Wong = 1. Jika
dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437
Masehi. Candrasengkala di atas menunjukkan tahun pendirian candi dimasamasa
ahir kekuasaan
Majapahit.
Untuk memahami apa dan bagaimana keyakinan yang terdapat pada ”ritual” ataupun
upacara di candi Sukuh abad XV, 600an
tahun yang silam, perlu kita simak maknamakna
relief
serta patung yang terdapat di candi. Bagian relief dan arca pada candi banyak merupakan symbol
Click to buy NOW!
PDFXCHANGE
http://www.docutrack.
com
Click to buy NOW!
PDFXCHANGE
http://www.docutrack.
com
dan rangkaian kisah (cerita) dalam mithologi Hindu. Kisah dan symbol yang dipahatkan serta
diarcakan kebanyakan berthema ”PEMBEBASAN” yang berkait erat dengan ”RUWATAN”.
Ruwatan adalah salah satu adat Jawa yang tujuannya untuk membebaskan orang, komunitas atau wilayah
dari ancaman bahaya. Inti acara ruwatan adalah doa memohon perlindungan pada Allah (Tuhan) dari ancaman
bahayabahaya
seperti bencana alam dll. Juga doa mohon pengampunan dosadosa
dan kesalahan yang telah
dilakukan yang bisa menyebabkan bencana. Ruwatan memiliki makna mengembalikan keadaan sebelumnya (suatu
keadaan yang baik, menuju social equilibrium) Dapat dikatakan bahwa upacara ruwatan adalah ritual tolak bala
atau upacara membuang sial (terjemahan dari Wikipedia berbahasa Jawa)
Relief Pertama Relief ke dua
Pada relief pertama dan
kedua digambarkan kisah
SUDAMALA. Bagian penting
dari relief ini adalah kisah Batari
Uma dikutuk Batara Guru
menjadi Durga yang berparas
jelek. Sadewa bungsu dari
pandawa anak Pandu dan
Madrim diikat pada sebuah pohon dikorbankan sebagai tumbal untuk Durga. Pada kisah ini
Sadewa berhasil meruwat dengan bantuan Batara Guru dan membebaskan Durga dari kutukan
dan kembali kewajah aslinya sebagai seorang bidadari. Pembebasan Batari Uma dari kutukan
yang dilakukan Sadewa dengan meruwat yang tergambar pada pahatan kiranya merupakan inti
keyakinan masyarakat pembangun candi. Apakah ada hubungan dengan keadaan sosial politik
pada masa itu? Di bagian akhir tulisan akan kita tarik benang merah keterkaitannya.
Patung KuraKura
besar di depan candi merupakan symbol dari
Awatara Visnu, yaitu KURMA AWATARA. Awatara dalam agama Hindu
adalah inkarnasi dari Tuhan Yang Maha Esa maupun manifestasinya. Tuhan Yang
Maha Esa ataupun manifestasinya turun ke dunia, mengambil suatu bentuk dalam
dunia material, guna menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kejahatan,
menegakkan dharma dan menyelamatkan orangorang
yang melaksanakan
Dharma/Kebenaran (Wikipedia Indonesia). Sang KuraKura
sebagai
perwujudan dewa Visnu (pemelihara dunia) menjadi tempat tumpuan
membantu para dewa memutar dan mengadukaduk
samodra dengan gunung Mandara, untuk
mendapatkan TIRTA AMERTA (air kehidupan). Barang siapa entah itu manusia, dewa, raksasa,
asura meminum air kehidupan itu maka ia akan terbebas dari kematian dan mengalami hidup
dalam keabadian. Keyakinan akan kehidupan kekal/abadi dikemudian hari
dan terbebas dari kematian, merupakan harapanharapan
religi untuk
digapai/dialami.
Bersebelahan dengan relief cerita Sudamala, ada obelisk yang
menyiratkan cerita GARUDEYA. Garuda putra dewi Winata ”meruwat”
ibunya dari perbudakan seorang madunya dewi Kadru. Dewi Winata menjadi
budak Kadru karena kalah bertaruh tentang warna ekor kuda Uchaiswara. Dewi Kadru
menang dalam bertaruh sebab dengan curang dia menyuruh anakanaknya
yang berujud ular naga berjumlah
seribu menyemburkan bisabisanya
(racun) di ekor kuda Uchaiswara sehingga warna ekor kuda berubah hitam.
Dewi Winata dapat diruwat sang Garuda dengan cara memohon “tirta amerta” (air kehidupan) kepada para dewa.
(Kapanlagi.com) Sekali lagi ceritera ”Pembebasan” dengan cara ruwatan diobeliskkan pada
ornamen candi Sukuh, semakin meyakinkan kita bahwa memang dahulu tempat ini difungsikan
untuk ritual ruwatan.
Click to buy NOW!
PDFXCHANGE
http://www.docutrack.
com
Click to buy NOW!
PDFXCHANGE
http://www.docutrack.
com
Depan kanan candi Utama pada obelisk, terdapat relief ”Bimo Bungkus” yang
mengkisahkan ruwatan versi Mahabharata. Bima yang lahir dari rahim Kunthi dengan Pandu membuat
gempar. Mengapa, karena putra kedua Pandu itu berujud bungkus yang sulit dibuka. Suasana kian hangat. Atas
kejadian ini Betara Guru mengutus Gajahsena (Ganesya), putranya untuk memecahkan bungkus Bima. Usaha
tersebut berhasil dan diberikannya pakaian khusus pada Bima yang kemudian diberi nama Bratasena. Paparan
kisah Bima Bungkus pada relief ini inti ceritanya yaitu terbebasnya Bima (jawa:Werkudara) dari
ancaman kematian, karena lahir terbungkus ariari
yang tidak dapat pecah (terbuka). Ganeca
menolong (baca: meruwat) Bima hingga dilahirkan.
Dari relief, obelisk dan arca di candi Sukuh, banyak didapati symbolsymbol
seksual. Symbolsymbol
tersebut mengarahkan kita pada suatu aliran
penganut paham Tantra. Menurut paham Tantra, untuk mencapai tujuan hidup orang
mengucapkan mantramantra
dan upacaraupacara
gaib, dapat bersatu dengan sakti bahkan
menjadi sakti itu sendiri. Tata cara pelaksanaan pemujaan sakti menurut paham Tantra, bagi
orang yang bukan penganut Tantra menimbulkan kesan yang tidak baik, karena menurut ukuran
masyarakat termasuk larangan atau melanggar kesopanan.
Pada paham Tantrayana dikenal dua aliran, yaitu aliran kiri (niwerti) dan kanan
(prawerti). Aliran kiri mempunyai anggapan bahwa untuk mencapai moksa setiap orang harus
berusaha sebanyak mungkin melakukan 5 Ma (pancatattwa=Jawa MoLimo)
yang terdiri dari
(a) Matsya (makan ikan), (b) Mamsa (makan daging), (c) Mudra (makan padipadian),
(d)
Maithuna (melakukan hubungan seks secara bebas). Dari sumbersumber
kesusasteraan maupun peninggalan arca yang terdapat di beberapa daerah
di Indonesia termasuk di candi Sukuh, kemungkinan aliran inilah yang
banyak dianut pada zaman dahulu. Sedangkan aliran kanan beranggapan
bahwa untuk mencapai moksa seseorang harus melakukannya dengan
Samadhi dan Yoga.(Made Suardana) Penganut paham Tantrayana berkeyakinan
untuk mencapai pembebasan dari dosa (mencapai Moksa), orang harus berusaha
sebanyak mungkin melakukan 5 Ma (Jawa=MoLimo).
Benarkah di abad XV di
candi Sukuh pada masa Majapahit akhir para penganut Tantrayana menggunakannya untuk
upacara Kamamahapancikam (upacara 5 Ma)? Apa hubungannya dengan keadaan masyarakat di
era tersebut?
Runtuhnya Majapahit dengan sangkalan “Sirno Ilang Kertaning Bhumi”Sirno=0,
Ilang=0, Kerta=4, Bhumi=1 (0041) dibalik = 1400 Caka + 78 = 1478 Masehi pada Babad Tanah
Jawa, berdekatan dengan saat dibangun candi
Sukuh (1437 – 1456). Sebagaimana kita
pahami dan pernah alami, bahwa saatsaat
runtuhnya sebuah rezim/kekuasaan/negara,
sering terjadi keadaan tidak menentu.
Kekacauan politik, keadaan tidak aman,
perampokan dan degradasi moral serta tidak
berjalannya aturan meliputi serta menekan
masyarakat. Pranata sosial masa transisi
seperti di atas menggerakkan kelompokkelompok
(marginal) “mengundurkan diri”
atau mengasingkan diri dari situasi mencari
selamat (baca: kebebasan) dan berusaha
melalui caranya sendiri memperbaiki keadaan. Pencarian atau “Pembebasan” oleh kelompok
marginal “Sukuh” dibawa ke dalam situasi ritual (aktivitas ritual) meruwat keadaan dan
Click to buy NOW!
PDFXCHANGE
http://www.docutrack.
com
Click to buy NOW!
PDFXCHANGE
http://www.docutrack.
com
mengusahakan agar situasi sosial kembali ke equilibriumnya. Meruwat dalam kisah Sudamala,
Penyelamatan (pembebasan) Wisnu melalui Kurma Awatara, Kisah Garudea, sampai ruwatan
versi Mahabharata dalam lakon Bimo Bungkus adalah bentuk usaha mengembalikan
situasi/keadaan seperti sebelumnya saat Majapahit jaya gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto
raharjo !
Jika interpretasiinterpretasi
di atas berkaitan dan benar, dapat dipastikan bahwa relief
dan arca serta obelisk yang dipahatkan di candi Sukuh menuntun kita sedikit memahami keadaan
sosial religius masyarakat sekitar Sukuh pada abad XV. Namun untuk menguji kebenarannya,
kita masih memerlukan kajian yang lebih detail serta bukti/faktafakta
sejarah yang cukup
mengenai keseluruhannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s