Kisah Sultan: Saat Bertemu Nyi Kidul pada Bulan Purnama https://www.youtube.com/watch?v=PDorPIHBgwY

BUKA INI https://www.youtube.com/watch?v=PDorPIHBgwY

Banyak kisah mistis dari mendiang Sultan Hamengku Buwono IX. Ia menyatakan pernah bertemu satu kali dengan Ratu Kidul. Kisah itu diungkap Sultan kepada tim penyusun buku Tahta untuk Rakyat. “Percaya atau tidak itu terserah masing-masing, tapi begitulah adanya,” ujar Sultan, yang dituturkan kembali oleh Atmakusumah Astraatmadja, penyunting buku.

Pertemuan antara raja dan ratu itu terjadi di Parangkusumo. Hamengku Buwono IX, dalam Tahta untuk Rakyat, mengatakan, “Pada bulan purnama, Eyang Ratu Rara Kidul tampak sangat cantik.”

Baca juga:

Diterima di UGM, Calon Dokter Usia 14 Tahun Minta Kado Aneh
JK Damprat Rizal di Depan Presiden, Jokowi Bela Siapa?

Konon “perkawinan” antara raja Jawa dan Ratu Laut Kidul adalah bentuk imbal jasa dari kemenangan Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam, atas Arya Penangsang. Aryo Penangsang adalah Bupati Jipang Panolan yang telah membunuh Sunan Prawoto, raja terakhir Kesultanan Demak.

Alkisah, setelah mengalahkan Arya Penangsang, Panembahan Senopati mendapatkan Alas Mentalok, hutan di tenggara Yogyakarta (sekarang daerah Banguntapan). Tapi hutan lebat itu dihuni banyak makhluk halus. Untuk mengusir mereka, ia pun meminta bantuan Nyai Roro Kidul, yang bersinggasana di laut selatan.

Mujarab. Para penunggu itu akhirnya dapat diusir. Imbalannya, pendiri Kerajaan Mataram Islam itu berjanji melabuhkan serangkaian sesaji ke laut selatan sebagai balasan untuk sang Ratu. Pakaian wanita Jawa lengkap, pakaian lama Sultan, belasan kain mori berbeda jenis, potongan rambut dan kuku raja, kembang setaman, kemenyan, minyak wangi, daun sirih, serta aneka buah-buahan dan jajanan pasar dilarung setiap tahun.

Baca juga:
Ini Rahasia SPG Cantik di IIMS 2015: Biasa Kerja di Jalanan
Wah, Gitaris Ayu, 10 Tahun, Bikin Musisi Inggris Terpesona

Sejak itu mitos ini terus-menerus dinarasikan hingga lambat-laun melekat pada setiap sosok raja yang bertakhta. Tak terkecuali Sultan HB IX.

Banyak kalangan meyakini berbagai hal mistis dan misterius pernah terjadi pada Hamengku Buwono IX. Meski demikian, Sultan memang tak banyak bicara tentang pengalaman batin yang dialami.

Legenda Jawa dari abad ke-16 menyatakan Kanjeng Ratu Kidul merupakan pelindung dan pasangan spiritual Panembahan Senapati sebagai pendiri Kerajaan Mataram, maupun keturunannya, baik di Keraton Surakarta (Solo) maupun Yogyakarta. Kedudukannya berhubungan dengan Merapi-Keraton-Laut Selatan yang berpusat di Keraton Surakarta dan Yogyakarta.

Mengenai legenda Kanjeng Ratu Kidul, Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta, Kanjeng Pangeran (KP) Winarno Kusuma menceritakan, pada awalnya pangeran Panembahan Senopati berkeinginan untuk mendirikan sebuah kerajaan baru, yaitu Kesultanan Mataram, untuk melawan kekuasaan Kesultanan Pajang.

“Kalau menurut sejarahnya, saat itu Panembahan Senopati melakukan tapa di pantai Parang Kusumo atau Pantai Selatan, yang terletak di selatan kediamannya di Kota Gede Yogyakarta. Dalam pertapaannya terjadi fenomena supernatural yang mengganggu kerajaan di Laut Selatan. Sang Ratu sebagai penguasa laut selatan datang untuk melihat siapa yang menyebabkan gangguan di kerajaannya. Saat melihat pangeran yang tampan, ia jatuh cinta dan meminta Panembahan Senopati untuk menghentikan tapanya. Sebagai gantinya, ia bersedia membantu mendirikan kerajaan yang baru,” ujar pria yang akrab disapa Kanjeng Win tersebut.

Menurut Kanjeng Win sejak saat itu sang Ratu dilamar oleh Panembahan Senopati untuk menjadi pasangan spiritualnya serta menjadi pelindung spiritual bagi kerajaan. Bahkan nantinya sang Ratu juga akan menjadi pasangan spiritual semua Raja keturunan Mataram.

“Kalau di Keraton Surakarta Kanjeng Ratu menjadi istri Raja Paku Buwono(PB) I sampa IX. Mulai PB X sudah tidak lagi,” imbuhnya.

Kanjeng Win mengisahkan, mulai PB X Kanjeng Ratu Kidul sudah tidak lagi menjadi istri raja.

“Saat itu PB IX mau bertapa di panggung Sangga Buwana (bagunan berbentuk seperti menara, di dalam Keraton, yang digunakan Raja bertemu dengan Ratu Kidul), tapi calon putra mahkotanya yang berumur 3 tahun ikut. Saat pertemuan raja dan Ratu Kidul, tiba-tiba putra raja hendak terjatuh. Namun bisa diselamatkan oleh Ratu Kidul. Saat menyelamatkan tersebut, ratu memanggil anak tersebut dengan sebutan ‘anakku’. Sejak itulah anak tersebut benar-benar dianggap sebagai anak sendiri oleh Ratu Kidul dan dijadikan putra mahkota di keraton,” beber kanjeng Win.

Kanjeng Win mengemukakan, sejak peristiwa tersebut, Ratu Kidul sudah tidak menjadi istri spiritual Raja Surakarta lagi. Saat anak tersebut diangkat menjadi raja PB X, ia menjadi raja yang berjaya di nusantara. Dari PB X hingga PB XIII saat ini mitos Ratu Kidul sebagai istri spiritual Raja Surakarta semakin menghilang. Namun, lanjut kanjeng Win, Kanjeng Ratu Kidul masih sering hadir dalam momen-momen tertentu.

“Percaya atau tidak percaya silakan, beliau itu pasti rawuh (hadir) setiap ada ritual yang menggunakan sajian tari sakral ‘Bedaya Ketawang’. Dalam tarian tersebut ada 9 penari, salah satu pasti akan menyatu, didatangi Kanjeng Ratu. Akan terlihat auranya, tariannya juga pasti beda dengan penari yang lain. Lebih lembut, lemas dan luwes, dan sangat menjiwai. Karena tarian itu konon diciptakan sendiri oleh Kanjeng Ratu Kidul,” ungkapnya.

Menurut kepercayaan di kalangan keraton, tari Tari Bedaya Ketawang digelar setiap tahun, yang dipercaya sebagai persembahan kepada Kanjeng Ratu Kidul. Tarian tersebut hanya digunakan dalam upacara ritual Tingalan Dalem Jumenengan yang diselenggarakan keraton kasunanan Surakarta Hadiningrat, merupakan sebuah upacara ritual adat istiadat keraton untuk memperingati hari ulang tahun penobatan kenaikan Tahta Susuhunan Paku Buwono yang diadakan setahun sekali.

Upacara ini diselenggarakan di pendapa Agung Sasana Sewaka yang dihadiri oleh semua abdi dalem dan sentana dalem serta beberapa tamu undangan. Upacara Tingalan Dalem Jumenengan merupakan upacara adat yang sangat disakralkan yang diyakini memiliki makna penting oleh kerajaan yang masih mempunyai garis darah dengan dinasti Mataram.

Dalam prosesi upacara inilah tarian Bedaya Ketawang ditampilkan seusai prosesi Tingalan Dalem Jumenengan selesai. Tarian jawa klasik ini diperagakan oleh 9 penari putri yang belum menikah atau yang masih perawan.

Tarian Bedhaya Ketawang adalah sebuah tarian ‘mistik’ yang menggambarkan tentang cinta kasih atau hubungan batin antara raja-raja dinasti Mataram dan penerusnya dengan penguasa laut selatan atau yang lebih dikenal dengan Kanjeng Ratu Kidul. Namun ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa tarian Bedhaya Ketawang adalah tarian yang mengisahkan siklus kehidupan manusia dari lahir, hidup, mati hingga alam keabadian.

Sabda Raja Yogyakarta Tabrak Mistik Nyi Roro Kidul

Sultan Hamengku Buwono X mengeluarkan sabda raja. Sabda tersebut menjadi polemik di kalangan internal keraton Yogyakarta.

Sabda raja itu, diantaranya pemberian gelar kepada anak sulungnya, Pembayun. Anak sulung Sultan itu mendapat gelar Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng ing Mataram. Selain itu, sabda raja juga menanggalkan gelar khalifatullah, yang artinya adalah Wakil Tuhan.

Dengan keluarnya sabda raja itu, Sultan juga tidak lagi mengucapkan assalamualaikum dalam kegiatan di keraton. Tak hanya itu, Sultan juga mengubah kata Buwono (bumi) dalam namanya menjadi Bawono (alam semesta). Kata Sedasa (sepuluh) juga diubah menjadi sepuluh.

Sabda raja ini membuat situasi keraton memanas. Sebab disinyalir, sabda tersebut merupakan upaya Sultan Hamengku Buwono X untuk melanggengkan kekuasaan trahnya.

Gelar gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi yang disandang Pembayun merupakan tanda-tanda pemberian tahta keraton. Dengan kata lain, Pembayun diangkat menjadi putri mahkota yang disiapkan menggantikan Sultan Hamengku Buwono X. Gelar Mangkubumi, merupakan gelar yang biasanya diberikan kepada calon penerus takhta kerajaan.

Sabda raja itu menabrak sejumlah aturan, termasuk menabrak aturan-aturan “mistik” yang bertahun-tahun dikenal di keraton Yogyakarta. Diantaranya mitos tentang raja-raja Mataram dengan penguasa Ratu Selatan Nyi Roro Kidul.

Sejak mataram kuno, raja-raja jawa dianggap sebagai “Suami” Nyi Roro Kidul. Bila Pembayun menjadi Raja Yogyakarta, maka hal itu akan menabrak mistik di Keraton.

Hubungan antara raja-raja jawa dengan Nyai Roro Kidul merupakan kisah lama yang beredar di masyarakat. Hal itu pun pernah diamini Sultan Hamengku Buwono IX.

Dalam buku Tahta Untuk Rakyat, Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX pernah mengungkapkan hubungan raja dengan Nyi Roro Kidul.

Ketika ditanya tentang kabar raja jawa adalah “suami” Nyi Roro Kidul dan Apakah Sultan Hamengku Buwono IX pernah berhubungan dengan Penguasa Laut Selatan itu, dia menjawab:

“Menurut kepercayaan lama memang demikian halnya, Saya menyebut Eyang rara Kidul saja. Dan saya pernah mendapat kesempatan “melihatnya” setelah menjalani ketentuan yang berlaku seperti berpuasa selama beberapa hari dan sebagainya. Pada waktu bulan naik, Eyang Rara Kidul akan nampak sebagai gadis yang amat cantik, sebaliknya apabila bulan menurun. Ia tampil sebagai wanita yang makin tua,” ujar Sultan Hamengku Buwono IX.

Kisah Misterius Antara Sultan Hamengkubuwono IX Dan Kanjeng Nyi Roro Kidul

Sejarah Kebudayaan yang ada di Jawa kerapkali menghadirkan berbagai macam segi mitologi yang membutuhkan pengkajian yang lebih dalam agar bisa mengerti makna itu dengan cara objektif. Sedemikian kuatnya segi mitologi ini hingga keberadaannya sering mencampuri kajian sejarah yang kenyataan-faktanya telah terang sekalipun. Salah satu misalnya sejarah berdirinya Kerajaan Mataram. Dengan cara faktual, Kisah Misterius Antara Sultan Hamengkubuwono IX Dan Kanjeng Nyi Roro Kidul adalah sejarah Kerajaan Mataram masih tetap bisa dikilas balik sampai sekarang ini, meskipun kerajaan itu telah terdiri ke dua kasunanan, yakni Yogyakarta serta Surakarta. Tetapi, didalam website itu juga ada suatu mitos atau legenda yang menceritakan ada jalinan pada pendiri Kerajaan Mataram dengan beberapa hal mistis, yakni Nyi Roro Kidul, sang Penguasa Laut Selatan.

Kuatnya kepercayaan orang-orang bahwa pendiri Kerajaan Mataram, Panembahan Senapati, mempunyai jalinan serius dengan Nyi Roro Kidul bikin “aura” kerajaan ini diliputi beragam dimensi magis. Jalinan ini dapat berlanjut hingga keturunannya sebagai raja-raja Keraton terutama Keraton di Yogyakarta. Tak ada kenyataan yang kuat tentang kehadiran Nyi Roro Kidul. Walau demikian, sejarah menyebutkan bahwa Mitos Nyi Roro Kidul nampak pada saat berdirinya Kerajaan Mataram oleh Panembahan Senapati, yang mempunyai nama asli Danang Sutawijaya. Mitos itu diwariskan turun-temurun hingga Kerajaan Mataran terpecah iris jadi dua, yakni Keraton Surakarta serta Keraton Yogyakarta. Ironisnya, kehadiran Nyi Roro Kidul sudah mengakar dalam kepercayaan beberapa orang-orang Jawa.

Sampai kini, kepercayaan orang-orang pada kehadiran Nyi Roro Kidul nyaris senantiasa dihubungkan dengan kehadiran Panembahan Senapati juga sebagai salah satu pendiri serta penguasa Kerajaan Mataram. Berarti, mitos serta legenda Nyi Roro Kidul baru nampak sesudah berkuasanya Panembahan Senapati atau tampuk pemerintahan Mataram. Sekalipun kenyataan tentang ada atau tidaknya Nyi Roro Kidul masih tetap jadi sinyal bertanya besar, tetapi popularitas Nyi Roro Kidul yang dipercaya mempunyai jalinan spesial dengan Panembahan Senapati beserta keturunannya telah dicatat dengan cara rapi oleh beberapa pujangga Jawa dalam sebagian tembang.

Diluar itu, Mitos Nyi Roro Kidul malah menguatkan legitimasi raja. Hal semacam ini berbeda dengan orang kaya yang terkait dengan Nyi Blorong. Yang dimaksud paling akhir yaitu negatif, sedang yang pertama, yaitu jalinan Raja Mataram dengan Nyi Roro Kidul yaitu positif. Demikian pula dengan roh halus lain yang membuat perlindungan Raja Mataram, yaitu Sunan Lawu di Gunung Lawu. Menurut salah satu rencanasi, roh Sunan Lawu ini yaitu roh raja-raja Majapahit.

Sesungguhnya, tak terang asal-usul Nyi Roro Kidul serta masih tetap diperdebatkan hingga sekarang ini. Terdapat banyak pendapat yang menyampaikan bahwa Nyi Roro Kidul yaitu Putri Kadita, Ratna Suwida, serta Dewi Nawang Wulan, namun kisahnya tak jauh tidak sama, yakni seorang putri mahkota raja yang memiliki paras muka cantik yang terserang penyakit guna-guna oleh saudara tirinya yang inginkan tahta ayahnya. Selanjutnya, ia dibuang oleh ayahnya karena penyakit yang dipunyai meresahkan serta menular. Diluar itu, ada pula yang memiliki pendapat bahwa Nyi Roro Kidul yaitu jelmaan dari salah satu tujuh bidadari. Namun, menurut kebiasaan mataram tersebut berasumsi bahwa Nyi Roro Kidul yaitu seseorang putri Pajajaran yang sudah diusir dari istana lantaran dia menampik satu perkawinan yang ditata oleh ayahnya. Raja Pajajaran ini mengutuk putrinya : dia jadikan ratu golongan roh halus dengan istananya di bawah perairan Samudera Hindia, serta cuma bakal jadi seseorang wanita umum lagi pada Hari Kiamat.

Beberapa orang mungkin saja bakal menyangkal kehadiran cerita tentang Nyi Roro Kidul. lain perihal dengan beberapa orang Keraton, terutama Keraton Yogyakarta. Beberapa orang yang hidup di lingkungan Keraton Yogyakarta yakini perihal kebenaran cerita ini. Walau masih tetap memiliki kandungan masalah, orang-orang terus yakini bahwa ada suatu fenomena riil yang menuturkan bahwa Nyi Roro Kidul memanglah mempunyai relevansi dengan eksistensi Keraton Yogyakarta. Jalinan pada Nyi Roro Kidul dengan Keraton Yogyakarta, seperti yang tercatat dalam Babad Tanah Jawi makin menguatkan kepercayaan bahwa Nyi Roro Kidul memang sungguh-sungguh ada serta riil.

Walau demikian, terdapat banyak pendapat yang menyampaikan bahwa kehadiran Nyi Roro Kidul hanya lambang yg tidak riil bentuk fisiknya. Salah satu analisa seperti itu dikemukakan oleh Y. Argo Twikromo. Dalam bukunya yang berjudul Ratu Kidul, Argo mengatakan bahwa orang-orang yaitu suatu komune kebiasaan yang mementingkan keselarasan, kesesuaian, serta keseimbangan hidup. Karema hidup ini tak lepas dari lingkungan alam seputar, jadi menggunakan serta memaknai lingkungan alam sangatlah utama dikerjakan.

Seperti suatu jalinan komunikasi timbal balik dengan lingkungan, yang menurut orang-orang Jawa memiliki kemampuan yang lebih hebat, jadi pemakaian lambang juga kerap diaktualisasi. Bila dikaitkan dengan makhluk halus jadi Javanisme mengetahui beberapa penguasa makhluk halus, seperti penguasa Gunung Merapi, Gunung Lawu, Kayangan Delpin, serta Laut Selatan. Penguasa Laut Selatan inilah yang dimaksud Kanjeng Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul oleh orang Jawa.

Dalam Kesultanan Yogyakarta, ke empat penguasa itu dipercaya turut andil dalam menolong kebutuhan disana. Terlebih di dalamnya juga berlaku suatu ketetapan yang menyampaikan bahwa untuk meraih keselarasan, kesesuaian, serta keseimbangan dalam orang-orang, raja mesti mengadakan komunikasi “makhluk-makhluk halus” itu. Menurut beberapa pengamat kebudayaan Jawa, untuk beberapa Raja Jawa, berkomunikasi dengan beberapa makhluk halus serta Nyi Roro Kidul, terutama, adalah salah satu usaha untuk memperolehkekuatan batin dalam mengelola negara. Beberapa Jawa itu juga yakini bahwa juga sebagai kemampuan yang kasat mata, Nyi Roro Kidul mesti disuruhi restu dalam aktivitas sehari-hari untuk memperoleh keselamatan serta ketenteraman.

Keyakinan yang berlaku dengan cara turun-temurun pada Nyi Roro Kidul masih tetap diaktualisasikan dengan baik oleh orang-orang dalam beragam jenis aktivitas hingga sekarang ini. Salah satu misal yang mungkin saja kerap kita dengar yaitu aktivitas labuhan. Labuhan yaitu suatu upacara tradisional keraton yang dikerjakan di pinggir laut di selatan kota Yogyakarta. Labuhan diselenggarakan dalam tiap-tiap lagi th. Sri Sultan Hamengkubuwono, yang tanggal ataupun th. kelahirannya dihitung menurut perhitungan Saka (th. Jawa). Upacara labuhan ini mempunyai tujuan untuk kesejahteraan sultan serta orang-orang Yogyakarta biasanya.

Bentuk serta aktualisasi dari keyakinan orang-orang pada Nyi Roro Kidul juga diwujudkan melalui tari-tarian. Sampai kini, di kenal Tari Bedaya Lambangsari serta Bedaya Semang, yang keduanya diadakan untuk menghormati serta memperingati Sang Ratu. Didalam lingkungan Keraton Yogyakarta, ada suatu bangunan di Kompleks Taman Sari (Istana Bawah Air), yaitu seputar 1 KM samping barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang diberi nama dengan Sumur Gumuling. Tempat ini dipercaya juga sebagai tempat bersuanya sultan dengan Ratu Pantai Selatan, Kanjeng Nyi Roro Kidul.

Sekalipun mitos Nyi Roro Kidul erat terkait dengan Kesultanan Yogyakarta, namun penghayatan serta kepercayaan pada penguasa Laut Selatan itu juga berlaku untuk beberapa orang-orang yang berdiam di wilayak kesultanan. Salah satu bukti yang seringkali diketemukan yaitu saat berlangsung musibah orang hilang di pantai Laut Selatan. Juga sebagai misal, bila ada orang hilang disana jadi orang itu dipercaya hilang lantaran “diambil” oleh Nyi Roro Kidul, tak tahu untuk jadikan juga sebagai tumbal, prajurit, maupun suami.

Dalam penjelasan Babad Tanah Jawi dengan cara tegas menyiratkan bahwa Nyi Roro Kidul pernah berjanji pada Panembahan Senapati bahwa bakal melindungi Kerajaan Mataram, beberapa sultan, keluarga kerajaan, serta orang-orang dari petaka. Salah satu bentuk penghayatan yang dikerjakan oleh Keraton, baik Keraton Yogyakarta ataupun Keraton Surakarta yaitu pementasan tarian yang paling sakral di Keraton, yaitu Bedoyo Ketawang, yang diadakan satu tahun kali waktu peringatan Hari Penobatan beberapa raja. Dalam tarian itu, sembilan orang penari kenakan pakaian tradisional pengantin Jawa, dan mengundang Nyi Roro Kidul serta menikah dengan susuhan. Konon, sang ratu bakal nampak dengan cara gaib dalam bentuk penari kesepuluh yang tampak berkilauan dibanding penari yang lain.

Menariknya lagi, sedemikian kuatnya mitos Nyi Roro Kidul hingga keyakinan terhadapnya bukan sekedar berlaku untuk orang-orang Jawa Tengah. Bahkan juga. Keyakinan Nyi Roro Kidul juga terkenal oleh orang-orang Jawa Barat. Bukti yang telah umum di ketahui oleh beberapa orang yaitu kehadiran suatu kamar hotel bernomor 308 di lantai atas Samudra Beach, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Konon, kamar itu tak dapat dipesan oleh siapa saja. Karena, kamar itu di sajikan spesial untuk Nyi Roro Kidul. Siapa juga yang mau bersua dengan sang ratu, ia dapat masuk ke ruang ini, namun mesti lewat seseorang penghubung yang menghidangkan persembahan kuat sang ratu. Tak tahu cerita awalannya seperti apa, tetapi yang pasti, orang-orang yakin demikian saja dengan kehadiran Nyi Roro Kidul yang menghuni kamar 308 itu.

Hingga saat ini, legenda Nyi Roro Kidul masih tetap jadi legenda yang spektakuler serta mendarah daging untuk beberapa orang-orang Jawa, terlebih Keraton Yogyakarta beserta orang-orangnya. Bagi anda yang membutuh penarikan benda gaib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s