Menelusuri Jejak Tokoh “Kontroversi” Syekh Siti Jenar di Dusun Lemahbang

Menelusuri Jejak Tokoh “Kontroversi” Syekh Siti Jenar di Dusun Lemahbang, Desa Margomulyo
September 18, 20141 comment
Reportase (Bojonegoro) – Jejak-jejak peninggalan Islam di nusantara ternyata juga banyak ditemukan di Kabupaten Bojonegoro. Ya, salah satunya adalah tempat yang diyakini warga sebagai petilasan Syekh Siti Jenar, sang tokoh (wali) “kontroversial” yang hidup di zaman Wali Sanga.

Lokasi yang diyakini terdapat petilasan Syekh Siti jenar tersebut berada tidak jauh dari Kota Bojonegoro, yakni di Dusun Lemahbang Desa Margomulyo Kecamatan Balen. Tak ada yang menyangka jika didesa tersebut ada sebuah petilasan atau tempat singgah yang konon merupakan salah satu dari wali sanga.
Sidik, sang juru kunci petilasan mengungkapkan, tempat tersebut dulu pernah menjadi tempat peristirahatan Syekh Siti Jenar saat sedang melakukan perjalanan dari Gresik keJawa Tengah. “ Ditengah perjalanan, beliau singgah di sini”, tutur Sidik, mengawali perbincangan.

Sidik sendiri mengaku tidak mengetahui pasti bagaimana kisah Syekh Siti jenar yang sebenarnya. Ajaran yang disampaikan Syekh Siti Jenar pun, dia mengakui tidak mengetahui persisnya.

Namun, menurut salah satu versi, syekh siti jenar meninggal setelah “disempurnakan“ atau tepatnya dieksekusi oleh Sunan Kalijaga, atas hasil musyawarah para wali kala itu. Karena ajaranSyekh Siti jenar atau yang biasa disebut“Syekh Lemah Abang” (cikal bakal nama Dusun Lemahbang), dinilai melenceng dari akidah Islam.

Meski, versi lain juga menyebutkan akidah Syekh Siti Jenar tidak melenceng, melainkan lebih karena ajarannya bukan untuk orang awam. “ itu adalah cerita yang beredar soal benar atau tidaknya, semua orang mengaku tidak tahu,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Sidik mengungapkan, setiap malam jum’at petilasan itu selalu ramai. Sebab, banyak orang yang mengunjungi petilasan tersebut dengan tujuan berbeda – beda. “Ada yang ingin memperoleh kesaktian hingga orang yang mencari keberuntungan,” tuturnya.

Apa pun niat mereka, Sidik berharap yang penting para pengunjung tidak merusak petilasan tersebut. Sesab, petilasan itu termasuk salah satu situs peninggalan sejarah yang harus dijaga kelastariannya. Toh urusan niat itu yang tahu kan hanya diri sendiri dan Tuhan. Kalau berbuat syirik sudah pasti berdosa, saya yakin semuanya tahu soal itu. “Asal tidak merusak lokasi petilasan, kami tetap mempersilahkan saja,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Margomulyo, Nadhif Ulfa mengatakan, petilasan itu pada hari – hari tertentu memang sering dikunjungi orang. Sayangnya, petilasan tersebut tidak pernah dirawat. ”Karena itu, petilasan tersebut mendesak untuk diperbaiki,” jelasnya.

Nadhif meyampaikan, pihak desa sudah mengajukan bantuan perbaikan petilasan ke Pemkab Bojonegoro. Rencananya, pemkab juga akan memberi bantuan untuk renovasi. “Beberapa waktu lalu, Pak Bambang Suharno (Kepala Disbudpar Bojonegoro) sudah meninjau lokasi ini. Saya yakin sebentar lagia akan diperbaiki,” terangnya.

Ia mengaku senang di desanya terdapat petilasan tokoh kontroversi tersebut. Nadhif berkeinginan, petilasan tersebut bisa menjadi objek wisata religi. Sehingga, banyak orang berkunjung ke Desa Margomulyo. “Keinginan saya menjadikan petilasan ini sebagai lokasi wisata religi. Sehingga, bisa menjadi pemasukan bagi pendapatan asli daetah(PAD),” pungkasnya sembari berharap. tim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s