Candi : Kajian Arsitektur Percandian Petirtaan di Jawa (identifikasi)

Arsitektur Candi di Nusantara
Penelitian yang telah dilakukan adalah definsi (Soekmono, 1974). perkembangan (Dumarcay 1991), dan tipologi (Atmadi 1994), bentuk. Pada umumnya bangunan suci peninggalan Jaman Hindu di Indonesia, dikenal dengan sebutan ‘candi’ (Soekmono, 1974). Dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya candi dapat mempunyai dua fungsi utama, yaitu sebagai makam dan sebagai kuil. Pengamatan sejarah menunjukkan adanya interaksi antara arsitektur candi di Indonesia dan India Selatan, yakni bangunan yang bergaya Dravida awal atau bentuk klasik Dravida dengan shikara berundak-undak atau diistilahkan sebagai Dharmaja ratha (Volwahsen, 1969). Bentuk shikara yang menyerupai limas dan berjenjang ini banyak dibangun oleh Dinasti Chola (Cardoso, 966), yang pernah menjangkau Nusantara
Pada umumnya istilah candi merujuk pada bangunan suci peninggalan Jaman Hindu-Budha di Indonesia. Di Jawa Timur bangunan-bangunan tersebut kecuali yang berbentuk gapura dikenal sebagai ‘cungkup’. Istilah ‘ candi’ dikenal pula di Sumatra bagian Selatan seperti Candi Jepara di Lampung, dan di Sumatra bagian Tengah seperti Candi Bongsu dari gugusan Muara Takus. Sedangkan di Sumatra Utara istilah yang digunakan adalah ‘‘biaro’seperti pada gugusan candi-candi di Padanglawas. Di Kalimantan Selatan dapat kita jumpai Candi Agung dekat Amuntai. Namun di Bali tidak didapatkan istilah ‘candi’, dalam arti bahwa bangunan-bangunan purbakalanya tidak satu pun yang oleh rakyat disebut sebagai candi (Soekmono, 1974).
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia candi diartikan sebagai bangunan kuno yang dibuat dari batu, berupa tempat pemujaan, penyimpanan abu jenazah raja-raja atau pendeta-pendeta Hindu atau Budha. Dalam kamus besar Bahasa Sanskerta dijumpai keterangan, bahwa ‘candi’ adalah sebutan untuk Durga atau dewi maut candika, (Soekmono R 1991) sedangkan candigreha atau candikagrha atau candikalaya adalah penamaan tempat pemujaan bagi dewi tersebut. Dalam Bahasa Kawi, candi atau cinandi
atau sucandi berarti ‘yang dikuburkan’, sedangkan dalam kamus arkeologi candi diartikan sebagai bangunan untuk pemakaman maupun pemujaan. Menurut N.J. Krom, pada mulanya candi merupakan suatu tanda peringatan dari batu, baik berupa tumpukan-tumpukan batu ataupun berupa bangunan kecil yang didirikan di atas suatu tempat penanaman abu jenazah. Melihat hal ini Brumund menyimpulkan bahwa candi dapat juga dihubungkan dengan tempat pemakaman.
Dapat disimpulkan bahwa candi dapat mempunyai dua fungsi utama, yaitu sebagai makam dan sebagai kuil. Sesuai dengan ungkapan Prof. Soekmono dalam disertasinya, fungsi candi adalah merupakan tempat/kuil pemujaan, dan apabila dikaitkan dengan makam raja, maka candi merupakan bangunan yang dibangun hanya untuk memuliakan raja atau bangsawan yang sudah wafat.
Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan, terbukti bahwa gaya candi di Indonesia mempunyai bentuk yang berbeda dengan India. Artinya hasil pengadaptasian banyak dipengaruhi oleh pemikiran lokal (local genius). Para ahli meragukan bahwa arsitek-arsitek semua candi di Jawa adalah orang-orang Hindu India sendiri, karena sudah banyak unsur asli pribumi di dalamnya (Sumintarja, 1978), Penyimpangan tersebut akan tampak lebih nyata lagi apabila dibandingkan dengan tipo-morfologi bentuk candi-candi yang bercorak Jawa Timur atau peninggalan Majapahit.
Arsitektur candi dapat digolongkan berdasarkan periode (Santiko, 1995), misalnya yang dikemukakan oleh Dumarcay, meski ia secara khusus hanya membahas perkembangan bentuk percandian di pulau Jawa. Literatur yang lebih umum atau yang mencakup pembahasan percandian di luar jawa dapat dilihat di dalam karya Prof Bernet Kempres yaitu ‘Ancient Indonesian Art‘ dan Encyclopedia Glorier yang berjudul Indonesian Heritage ‘ volume 1 dan 6. dan karya Jan Fontein yaitu ‘The Sculpture of Indonesia’ yang membahas seni patung dari candi-candi tersebut. Empat literatur ini dapat dipergunakan sebagai rujukan dasar di dalam menganalisa candi di Indonesia, baik dari segi latar belakang sejarah, sosial-budaya, teknologi, bahan, geografis, agama, politik, kosmologi. Sedangkan untuk rujukan proporsi dan bentuk bangunan dapat dipergunakan karya Prof Parmono Atmadi yaitu ‘Some Architectural Design Principles of Temples in Java’, karya Andreas Volwashen yaitu ‘ Living Architecture India ’ dan Cardoso yaitu ‘ Seni India’. Berdasarkan elaborasi dari keempat macam jenis klasifikasi tersebut maka dapat tarik sintesis pembagian periode sebagai berikut : Periode I- Periode Awal (Klasik Tua) berkisar + ( – 800 M) Periode II- Periode Tengah (Klasik Tengah) berkisar + ( 800 – 900 M) Periode III- Periode Transisi (Klasik Transisi) berkisar+ (900-1200M) Periode IV – Periode Akhir (Klasik Muda) berkisar + ( 1200 -1500 M) (Prajudi, 1999).
Identifikasi Tipomorfologi Arsitektur Candi Pertirtaan
Bangunan pertirtaan atau masyarakat umum disebut dengan pemandian merupakan salah satu dari tipe peninggalan bangunan massa Hindu Buda yang juga dikenal sampai saat ini. Menururt Agus Arismunandar (2011). Pertirtaan berasal dari kata patirthan (pa + tirtha + an) mempunyai kata dasar tirtha atau tirta yang artinya air, dalam hal keagamaan air yang dimaksudkan adalah air suci yang dapat membuat suci seseorang. Air suci demikian layak disebut dengan tirtha nirmala atau tirtha amerta yang dipercaya mempunyai khasiat banyak selain membersihkan dosa-dosa, menyembuhkan berbagai penyakit, juga dipandang sebagai air keabadian. Dewa-dewa dipercaya telah meminum air amerta, oleh karena itu mereka bersifat abadi tidak mengenal kematian.
Agus Arismunandar (2011) mengklasifikasikan pertirtaan ini menjadi dua yakni yang digunakan sehari-hari dan yang digunakan untuk upacara sakral atau merupakan bangunan religius. Dalam perkembangannya, bentuk petirthaan dikenal menjadi 3 macam, yaitu:
1.Petirthaan alami, berupa badan air berupa mata air, kolam, danau, sungai yang dianggap keramat dan disucikan oleh masyarakat pendukungnya. Petirthaan alami ini tidak mendapat tambahan pengerjaan apapun, tetap seperti apa adanya. Contohnya Telaga Pengilon di Dieng, kolam Kasurangganan di Malang utara, dan Sungai Berantas dalam masa Jawa Kuno.
2.Sumber air alami yang mendapat tambahan dan pengerjaan lebih lanjut secara artifisial. Misalnya membuatkan pancuran (jaladwara) sebagai jalan keluarnya air, memperkeras tepian kolam dengan balok-balok batu, menambahkan arca-arca dewata dan lainnya lagi. Misalnya Petirthaan Bhima Lukar di Dieng, Candi Umbul di Magelang, Jalatunda dan Belahan di Gunung Penanggungan, dan petirthan Watu Gede di Malang.
3.Petirthaan yang merupakan bangunan buatan sepenuhnya, artinya di tempat tersebut tidak ada sumber air atau badan air apapun, namun kemudian dirancang suatu bentuk bangunan baru yang difungsikan sebagai tempat untuk mengambil air suci (Munandar 2003: 15). Air dapat dialirkan ke bangunan petirthaan seperti halnya Candi Tikus di Trowulan dan Petirthaan Simbatan Wetan atau bahkan
diambil secara langsung dengan menggunakan wadah untuk keperluan upacara.
Contohnya kepurbakalaan XVIIc (Candi Gentong) di Penanggungan yang
menyimpan airnya pada sebuah gentong batu besar yang ditanam dalam tanah.
Klasifikasi yang dibuat oleh Arsimunandar di atas pada hakekatnya di dasarkan pada
dari mana sumber air berasal dan wujud penyelesaian secara umum, tidak menyentuh
aspek wujud arsitekturnya. Oleh karena itu dalam studi Tipomorfologi yang dilakukan
ini maka akan ditekankan pada klasifikasi berdasarkan wujud arsitektur yang tidak
hanya melihat dari wujud darimana sumber airnya melainkan wujud desainnya yang
mencakup aspek bentuk dan ruang. Hal ini dimungkinkan juga dihubungkan dengan
semangat jamannya dan aktifitas yang terjadi meskipun hanya sebatas dugaan
berdasarkan pola ruang yang terjadi, misalnya kolam dangkal dan dalam tentunya
mengandung aktivitas yang berbeda disana.
Berdasarkan studi tipomorfologinya bentuk bangunan yang bertipe pertirtaan ini dapat
dibedakan menjadi dua jenis yakni yang menggunakan dinding latar yang berbentuk U
maupun yang tidak berbentuk U yakni segiempat. Bangunan Tipe U ini dapat dibagi
menjadi dua yakni kolam dangkal dan kolam dalam. Pengertian dangkal jika
kedalamannya mencapai kurang dari setengah meter, sedangkan dalam jika lebih dari
setengah meter. Bangunan ini secara umum dapat diketahui melalui bentuk dasarnya Bangunan dengan tipe TU1 berdasarkan wujudnya dapat dibagi menjadi dua yakni berdiri lepas atau bersandar pada lereng bukit/tanah.
1. Candi berbentuk U dengan latar (TU1) yang bersandar pada lereng/bukit
Candi tipe ini dibangun dengan memanfaatkan lereng-lereng tanah atau bukit, dimana di balik dari lereng-lereng tersebut terdapat sumber air. Air yang berasal dari lereng atau sumber air, kemudian di alirkan melalui saluran-saluran yang berwujud arca atau hiasan jaladwara yang ditempelkan pada suatu lereng bukit atau tanah tersebut. Candi ini juga dapat dibagi menjadi dua jenis yakni yakni memiliki kamar/bilik (chamber) berjumlah dua terletak di kanan kiri kolam atau polos tidak memiliki kamar. Masa pembangunan Candi Jalatunda terpahat pada dinding belakang kolam yaitu 899 S atau 977 M. Kolamnya berisi air yang berasal dari Gunung Penangungan, dialirkan melalui tiga pancuran di dinding belakang yang menempel pada kaki gunung, di bagian tengah dinding terdapat teras bertingkat dua yang menjorok ke bagian tengah kolam di sebelah kiri dan kanan teras tersebut juga menempel pada dinding belakang terrdapat bilik kolam. Bilik-bilik kolam ini dikelilingi oleh tembok kini tinggal sebagaian dan susunan-nya tak teratur.
Di teras bagian tengah dahulu terdapat batu kemuncak yang berfungsi sebagai pancuran air, batu itu disangga oleh 16 panil berelief pandawa, sudah sejak lama batu berelief ini tinggal sebagian, sebagian lagi di musium pusat sedangkan kemuncaknya disimpan di musium trowulan. Masih di teras bagian tengah di bagian agak ke belakang dalam susunan yang lebih tinggi dahulu terdapat sebuah singhasana yang disangga oleh teras tersendiri. Arca apa yang diletakan di singhasana ini belum diketahui. Pada tembok bagian belakang bilik kolam terdapat arca-arca pancuran yang berbentuk garuda di bilik utara dan naga di bilik selatan. Pada dinding utara tembok belakang terdapat tulisan yang berbunyi Gempeng. sedangkan di dinding Selatan pahatan angka tahun 899 S atau 977 M. Di bawah pancuran yang terdapat di bilik kolam selatan pada bidang yang menghadap ke selatan terdapat tulisan Udayana, para ahli menduga bahwa candi ini dibangun erat kaitannya dengan Raja Udayana. ayah Airlangga.
Bentuk candi ini menunjukkan adanya penggunaan elemen air dalam arsitektur yang didayagunakan untuk ritual melalui pancuran-pancuran dan kolam. Bagaimana wujud penggunaan air dalam ritual pada bangunan ini masih belum diketahui, apakah yang melakukan ritual itu dengan membenamkan badan di kolam ini, berendam (‘kungkum’ dalam bahasa jawa) atau yang lain. Fungsi dua kamar ini juga belum terlalu jelas apakah untuk berendam atau lainnya. Pada masa lalu diperkirakan dua kamar ini diatapi dengan material non batu dimungkinkan menyerupai bentuk atap meru, demikian pula bagian utamannya yang ada di tengah juga ditutupi dengan material non batu. Pada masa kini bagian atapnya sudah musnah. Bnetuk atap meru adalah bentuk yang mulai lazim digunakan pada ini, sampai kemudian pada bad ke 11 dibawa ke Bali oleh Mpu Kuturan untuk bangunan suci.
Jumlahnya yang menunjukkan dua buah apakah berkaitan dengan gender, satu untuk laki-laki, satu untuk perempuan juga belum jelas. Namun demikian dalam tradisi ritual dalam kebudayaan Hindu dikenal istilah ‘mandi’. Mandi menjadi penting dalam ritual di bangunan-bangunan sakralnya. Selain itu dalam tradisi Jawa dikenal juga ritual berendam atau yang diistilahkan kungkum. Kemungkinan besar candi-candi dengan kedalaman kolam yang cukup, diperkirakan digunakan untuk ritual mandi dan kungkum ini, artinya para penziarah jaman dulu dimungkinkan untuk melakukan ritualnya dengan membenamkan badannya di kolam.
Menurut Aris Mundandar (2011) Petirthaan ini sekarang telah mengalami pemugaran, walaupun demikian tidak dapat dikembalikan kepada keadaan sebenarnya ketika masih lengkap dahulu. Bagian-bagian yang telah rumpang dan batu-batunya tidak ada lagi, tidak dikembalikan seperti aslinya; kecuali bagian bangunan yang bersifat struktural, batu-batunya disusun dengan balok batu baru. Jalatunda aslinya merupakan petirthaan yang bertingkat 3, namun yang tersisa sekarang hanyalah kolam tingkat I saja yang berada di bagian paling atas lereng. Kolam tingkat kedua dan ketiga sekarang tidak ada lagi, telah diurug menjadi halaman yang bertingkat merendah ke arah barat menuju ke sungai kecil yang selalu berair deras.
Bangunan yang identik dengan tipe ini namun tidak memiliki dua ruang muka didepannya adalah percandian gunung kawi dan pertirtaan goa gajah di Bali. Perbedaan yang jelas adalah pada kompleks gunung kawi tidak terdapat ruang yang terendam air

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s